Matinya Mesin Pemikiran


Aprinus Salam

Mesin yang paling besar generatornya dan paling dominan gemuruh suaranya adalah mesin politik. Karena selalu ada suksesi, dari tingkat lurah hingga presiden, maka mesin politik mau tidak mau harus selalu dinyalakan. Mesin politik juga bekerja untuk pemilihan ketua ormas, orsospol, pemilihan rektor dan dekan, dan sebagainya. Mesin politik hidup dalam keseharian kita. Kemudian, banyak orang hidup sebagai kernet atau penumpang gelap mesin politik.

Selain mesin politik, mesin ekonomi juga bergemuruh di hampir semua lini kehidupan. Tanpa disadari kita terjebak dalam rutinitas suara-suara mesin politik dan ekonomi. Mesin politik dan ekonomi saling bertumpang tindih, saling mendukung dan tergantung, sehingga kekuatan mesin-mesin lain tenggelam tidak bergaung. Kalau mesin seni-budya sekali dua terdengar, itu karena mesin ekonomi atau politik yang membesarkan suaranya, dan menjadikannya komoditas.

Tulisan bersambung:
  1. Kebudayaan Sebagai Perspektif
  2. Kebudayaan Tidak Perlu Dipikirkan
  3. Memelihara Budaya Empatik
  4. Kebudayaan Sebagai Tersangka
  5. Kebudayaan Itu Tergantung
  6. Hibriditas Kebudayaan
  7. Matinya Mesin Pemikiran
Sebagai akibatnya, konfigurasi bangunan kehidupan bermasyarakat menjadi sumbang, bising, penuh kasak-kusuk dan intrik, dan sama sekali tidak mencerdaskan. Orang terjebak dalam satu sistem dan mekanisme yang sama dari waktu ke waktu. Hal tersebut dikondisikan oleh satu hal lain bahwa dalam gemuruh mesin politik dan ekonomi itu, orang tidak berpikir untuk mencari satu substansi bagaimana berpikir tentang peningkatan kualitas kehidupan. Kita dikondisikan untuk berpikir, tapi berpikir bagaimana berkuasa dan bertahan hidup. Mesin pemikiran hakiki telah mati.

Kita membutuhkan dan perlu menghidupkan mesin pemikiran. Hal yang dimaksud dengan mesin pemikiran adalah terjadinya proses, penghidupan, dan pergerakan ide-ide atau gagasan-gagasan cerdas, bijak, dan mulia, sebagai hasil dari suatu proses penelitian/pemikiran yang serius dan mendalam. Bukti dari tidak jalannya proses penghidupan dan pergerakan mesin pemikiran adalah bahwa begitu banyak masalah yang dihadapi oleh negeri ini, dan secara relatif tidak mendapatkan jalan keluar, atau tidak ada cara yang cukup signifikan untuk mengatasinya.
   
Masalah pengangguran dan kemiskinan, masalah transportasi, korupsi, atau berbagai masalah kekerasan, adalah beberapa masalah besar yang hingga kini tidak pernah teratasi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa masalah tersebut sudah bisa diatasi di berbagai negara lain. Akan tetapi, paling tidak selalu ada ide atau gagasan segar untuk terus menerus mengatasi persoalan tersebut, atau paling tidak ada upaya yang sangat powerfull untuk meminimalkannya.

Dalam hal ini, perguruan tinggi dan pusat-pusat studi seharusnya mampu menjadi tempat atau institusi yang secara konstan menghidupkan mesin pemikiran. Masalahnya, perguruan tinggi pun terus-menerus tergerus oleh terutama mesin ekonomi sehingga pendidikan tinggi tidak lebih menjadi ajang bisnis ijazah dan gelar. Memang sangat mungkin perguruan tinggi melahirkan pemikir, tetapi kelak banyak pula pemikiran mereka yang tenggelam dalam bisingnya mesin politik atau ekonomi.
Pusat-pusat studi juga tidak bisa menjalankan perannya sebagai tempat mesin pemikiran harus berputar. Kita tahu bahwa pusat-pusat studi pun tidak lebih sebagai pusat-pusat menjalankan proyek “penelitian pesanan”. Pusat studi tidak lebih menjadi alat atau institusi untuk mendapatkan legitimasi kebijakan mesin politik atau mesin ekonomi. Banyak proyek penelitian akhirnya terjebak dalam pragmatisme mesin politik dan ekonomi.

Kesulitan lain tidak hidupnya mesin pemikiran adalah bahwa di negara kita mesin pemikiran secara relatif tidak memiliki media yang memadai sebagai sarana mensosialisasikan pemikiran. Berbagai media sudah terkooptasi oleh mesin politik dan ekonomi. Jurnal atau buku-buku pemikiran selayaknya menjadi wadah bagi pergerakan mesin pemikiran. Akan tetapi, kesulitan segera menghadang karena akses masyarakat terhadap jurnal dan buku masih sangat rendah. Artinya, terdapat semacam lingkaran setan sehingga mesin pemikiran sulit hidup di Indonesia.
   
Hal lain yang  menghambat hidupnya mesin pemikiran karena kita tidak terbiasa menerima gagasan atau ide-ide baru yang berbeda daripada lumrahnya. Hal ini berkaitan dengan, pertama, kebiasaan kultural kita yang mengatakan “sudah adatnya begitu”. Kedua, kesulitan lain menghidupkan mesin pemikiran adalah bahwa kita memang terlanjur tidak bisa/biasa berpikir. Mungkin saja kita bisa berpikir dan memiliki gagasan yang cerdas, tapi kadang kita tahu bahwa berbagai gagasan itu tidak ada gunanya.

Alhasil, kita mengalami kebuntuan dari mana kita bisa memulai menghidupkan mesin pemikiran itu. Karena kebuntuan tersebut, dan ketika mengetahui bahwa tampaknya segala kemungkinan untuk menghidupkan mesin pemikiran tidak dimungkinkan, maka resikonya adalah kita harus siap menerima bahwa tidak akan terjadi perubahan yang signifikan dalam kita menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. * * *

********

Diangkat dari Esai-esai Kebudayaan; “Kebudayaan Tidak Perlu Dipikirkan”

Aprinus Salam, (Dr. Aprinus Salam, M. Hum).  Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM. Jabatan: Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2 Januari 2013,  Anggota Senat Akademik UGM 2012 – 2016 , Konsultan Ahli di Dinas Kebudayaan PEMDA DIY (2013- 2016 , dan puluhan buku telah diterbitkannya

Tulisan bersambung:
  1. Kebudayaan Sebagai Perspektif
  2. Kebudayaan Tidak Perlu Dipikirkan
  3. Memelihara Budaya Empatik
  4. Kebudayaan Sebagai Tersangka
  5. Kebudayaan Itu Tergantung
  6. Hibriditas Kebudayaan
  7. Matinya Mesin Pemikiran

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7789318111339933870

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA