Kebudayaan Sebagai Perspektif


Aprinus Salam

Ada dua kecenderungan dalam studi kebudayaan. Pertama, kajian yang menempatkan sesuatu yang dianggap sebagai kebudayaan sebagai objek kajian. Kedua, kajian yang menempatkan tradisi-budaya agar ditempatkan kembali atau menjadi bagian dari kebudayaan masa kini.

Hal pertama berimplikasi pada kajian kebudayaan sebagai “proyek studi” dan “proyek” itu sendiri. Dalam praktiknya kajian seperti itu kadang sebagai bagian dari agenda-agenda akademis yang tidak diletakkan dalam satu paradigma praksis-bertujuan. Ia menjadi ajang petualang akademis dan ajang pencanggihan penafsiran. Kajian seperti ini membuatnya terisolasi dari arena sosial ekonomi masyarakat.

Menariknya, studi menempatkan kebudayaan sebagai objek studi memang cukup laku. Hal ini disebabkan lebih sebagai politik riset untuk menjaga keseimbangan akademis. Kadang juga diposisikan sebagai strategi bahwa satu masyarakat tertentu dianggap “berbudaya” karena memberi perhatian terhadap masalah budaya. Dalam praktiknya, kajian seperti ini tidak lebih sebagai asesoris, sebagai pelengkap agar “terlihat indah” bangunan riset kita secara keseluruhan.

Tulisan bersambung:
  1. Kebudayaan Sebagai Perspektif
  2. Kebudayaan Tidak Perlu Dipikirkan
  3. Memelihara Budaya Empatik
  4. Kebudayaan Sebagai Tersangka
  5. Kebudayaan Itu Tergantung
  6. Hibriditas Kebudayaan
  7. Matinya Mesin Pemikiran

Sementara itu, hal kedua dilakukan karena kebudayaan masa kini dianggap tidak sesuai dengan “budaya asli” suatu masyarakat tertentu. Hal tersebut berimplikasi pada upaya-upaya rekonstruksi jati diri dan politik identitas ketika sebagian besar masyarakat merindukan kembali, suatu nostalgis, dengan mengandaikan ada sebuah masa yang penuh dengan kedamaian, harmonis, sejahtera, adil-makmur, dan sebagainya. Karena frustrasi dengan kondisi masa kini yang carut marut, kondisi masa lalu yang diandaikan pernah ada itu menjadi sangat penting untuk diupayakan bisa hadir di masa kini.

Dampak dari dua kecenderungan di atas adalah seperti selama ini banyak kita lakukan. Masalah kebudayaan menjadi sesesuatu yang identik dengan tradisi dan kesenian. Begitu banyak kajian kebudayaan yang “terjebak” sebagai kajian tradisi dan seni, dan terpisah dengan persoalan makro kebudayaan masa kini. Padahal kebudayaan bukan masalah tradisi atau seni, tetapi bagaimana kita mempraktikan, bagaimana kita menjalani, bagaimana kita bersiasat atau berstrategi dalam kehidupan sehari-hari, untuk hari ini, dan yang lebih penting untuk masa depan.

Persaingan Budaya

Hal lain yang perlu diperhitungkan adalah adanya kenyataan bahwa saat ini terjadi banyak persaingan budaya. Paling tidak ada lima budaya yang saling bersaing memperebutkan hegemoninya; yakni budaya nasional (Pancasila), budaya lokal-lokal, budaya populer (kapitalisme-sekuler), budaya agama, dan budaya akademis-rasional.

Dalam praktiknya, persaingan budaya tersebut berjalan saling bersinggungan, dan tidak jarang menimbulkan masalah, untuk tidak menyebutkan adanya perseteruan dan konflik. Setiap budaya memiliki pendukungnya masing-masing, ada yang sedikit fanatik, tetapi ada pula yang tidak peduli.

Di sini hanya disinggung lima arena persaingan. Pertama, arena rumah atau dalam keluarga. Di arena ini, jelas terjadi persaingan antara budaya orang tua dan budaya anak (yang didukung dan dikondisikan oleh media modern seperti televisi atau internet). Tampaknya budaya yang dikembangkan televisi berpihak pada budaya pasar/kapitalisme). Kedua, arena mall/pasar, tidak disangsikan lagi bahwa dalam arena ini budaya kapitalisme memegang kekuasaan penuh.

Ketiga, arena jalanan. Arena ini termasuk yang paling rawan karena semua orang dengan budayanya masing-masih bisa langsung bersentuhan. Banyak konflik yang berbahaya dan memakan korban terjadi di arena ini. Keempat arena lembaga-lembaga swasta. Berdasarkan keberadaannya kita tahu bahwa banyak lembaga swasta yang profit-oriented untuk menghidupkan lembaganya. Budaya kapitalisme merupakan pilar utama dalam arena lembaga swasta.

Kelima, arena di lembaga-lembaga pemerintah. Dalam arena ini budaya nasional selalu dipompakan. Akan tetapi, kita juga tahu bahwa persaingan berjalan sangat tajam sehingga tidak jarang berbagai konflik muncul dalam arena ini.

Dalam kondisi ini, budaya akademis-rasional, yakni bagaimana membangun budaya yang mampu mempertemukan sisi terbaik dari setiap budaya yang bersaing menjadi sangat penting dan strategis. Kondisi itu bisa dibangun dengan menempatkan berbagai budaya bukan sebagai objek kajian, tetapi lebih penting dari itu adalah membangun budaya sebagai perspektif yang kondusif bagi kehidupan manusia dengan berbagai landasan yang akan dikemukakan berikut,

Menggeser Paradigma

Walaupun bukan hal baru, yang perlu didorong untuk dilakukan, yakni bagaimana memposisikan kebudayaan sebagai perspektif dalam melihat, menganalisis, menjelaskan, dan mencari solusi berbagai masalah kehidupan. Analisis kebudayaan harus mampu menjawab berbagai pertanyaan yang masih ngganjel. Sebagai misal, mengapa ada korupsi? Apakah kita memiliki budaya berolahraga? Bagaimana budaya ekonomi masyarakat? Bagaimana budaya politik kita? Apa sesungguhnya budaya kemaritiman itu? Begitu banyak masalah yang harus dijawab dalam perspektif budaya.

Ada tujuh landasan dalam menempatkan kebudayaan sebagai perspektif, yakni bagaimana melihat suatu masalah dalam (1) landasan etis dan/atau moral; (2) landasan rasional-filosofis; (3) landasan tindakan-bertujuan; (4) landasan ideologis; (5) landasan kemanfaatan, (6) landasan kebajikan/kearifan, dan (7) landasan estetis. Setiap landasan saling bersinergi dan melengkapi.

Dengan demikian, kajian kebudayaan sebagai perspektif, yakni suatu kajian yang menempatkan berbagai landasan di atas sebagai standar atau sebagai pilar dalam mengkaji, menganalisis, dan sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan. Dalam posisi ini, koridor akademis dan ilmiah tentu saja tetap menjadi kaidah utama sesuai dengan aturan yang berlaku di tataran akademis.

Dengan demikian, posisi kajian kebudayaan menjadi lebih fleksibel dan strategis. Ia tidak lagi hanya berkutat dan diidentikkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kesenian atau artefak masa lalu. Dia juga tidak hanya berhubungan dengan nilai-nilai normatif tentang kehidupan. Ia adalah sebagai satu cara untuk mensinergikan berbagai energi dan potensi positif yang adalah dalam diri kita. Tujuh standar landasan perspektif kebudayaan sangat mungkin bisa dijadikan pedoman. * * *

Tulisan bersambung:
  1. Kebudayaan Sebagai Perspektif
  2. Kebudayaan Tidak Perlu Dipikirkan
  3. Memelihara Budaya Empatik
  4. Kebudayaan Sebagai Tersangka
  5. Kebudayaan Itu Tergantung
  6. Hibriditas Kebudayaan
  7. Matinya Mesin Pemikiran

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4968537458834741043

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA