Desain Literasi Budaya dalam Pembelajaran BI

Bimbingan gerakan literasi bagi remaja
Dalam kaitannya dengan pembelajaran Mata Kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, literasi budaya dapat diintegrasikan dalam konten pembelajarannya. Secara umum, ranah Mata Kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi terdiri atas, materi pengetahuan bahasa, keterampilan membaca, menulis, dan berbicara. Pada artikel ini, diuraikan konten literasi budaya ke dalam tiga ranah, yaitu keterampilan membaca, menulis, dan berbicara.

Pertama, literasi budaya dapat diintegrasikan dalam pembelajaran keterampilan membaca di Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Dengan aktivitas membaca berbagai teks yang bermuatan budaya dapat berfungsi sebagai media pengenalan terhadap berbagai budaya di Indonesia maupun luar negeri. Keanekaragaman agama, adat istiadat, bahasa daerah, seni daerah, dan lain-lain dapat dikemas dalam berbagai teks dengan tujuan untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang budaya di Indonesia.
Tulisan bersambung:
  1. Literasi Budaya dalam Pembelajaran BI di Perguruan Tinggi
  2. Budaya Literasi dan Literasi Budaya
  3. Pendidikan Literasi Budaya di Indonesia
  4. Desain Literasi Budaya dalam Pembelajaran BI
 Untuk level perguruan tinggi, topik atau tema teks dapat pula berkaitan dengan budaya luar yang mungkin memiliki perbedaan yang cukup kontradiktif dengan budaya kita. Tujuannya adalah untuk membentuk pemahaman kepada mereka bahwa budaya di setiap belahan dunia berbeda-beda dan kadang bertolak belakang. Untuk itulah, diperlukan sikap menghargai dan menghormati pada perbedaan tersebut. Teks tentang konten budaya, baik budaya lokal maupun budaya luar dapat diseimbangkan porsinya dengan teks yang bermuatan kesehatan, ekonomi, politik, dan lain-lainnya.

Kegiatan membaca lainnya yang dapat dikaitkan dengan literasi budaya adalah membaca karya sastra. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk membaca dan menganalisis beberapa karya sastra, baik novel, cerpen, maupun karya sastra lainnya yang mengandung nilai-nilai budaya. Dosen dapat menugaskan mahasiswa membaca beberapa karya sastra yang telah diidentifikasi sebelumnya memiliki konten yang sarat dengan nilai-nilai budaya di dalam ceritanya.

Kedua, desain literasi budaya juga dapat dikemas dalam proses pembelajaran menulis, baik menulis akademik maupun menulis populer. Pada pembelajaran menulis paragraf atau esai misalnya, dosen dapat menyajikan contoh esai yang berkonten budaya. Misalkan tentang tradisi di daerah tertentu yang melakukan ritual disertai dengan ulasan-ulasan yang bersifat argumentatif. Selanjutnya, pengajar meminta mahasiswa untuk menulis esai dengan pola yang sama dengan mengambil tema atau topik dari budaya daerah lain.

Ketiga, keterampilan berbahasa yang bersifat produktif selain menulis adalah keterampilan berbicara. Keterampilan ini juga tergolong keterampilan yang sulit karena setiap individu harus mampu mengungkapkan ide dan gagasan yang ada dalam pikirannya kepada orang lain dengan menggunakan perantara bahasa yang baik dan terstruktur. Lain konteksnya jika berbicara dalam situasi nonformal. Seseorang akan lebih mudah menyampaikan ide dan perasaannya sedangkan pada situasi formal tentu kondisinya akan berbeda jauh.

Literasi budaya dapat juga diimplementasikan dalam pembelajaran berbicara, khususnya berbicara akademik. Dosen dapat memilih dan memilah materi atau konten yang bermuatan budaya dari youtube atau video.com dan disajikan di depan kelas. Bagi dosen yang hendak mengembangkan sendiri bahan ajarnya, tentu dapat juga mengembangkan materi-materi berbicara yang berorientasi pada keberagaman budaya. Pemilihan materi tentang budaya tentu dikaitkan dengan latar belakang mahasiswa ataupun dengan pertimbangan lain. Beberapa pertimbangan tersebut antara lain: (1) materi tentang budaya di sekitarnya, (2) budaya nasional, (3) budaya internasional yang sedang hangat diperbincangkan atau booming, dan lain-lain.

Terkait dengan materi berbicara akademik yang diimplementasikan dengan konten literasi budaya, Sari dan Inderawati (2014) melakukan studi untuk pembelajaran bahasa Inggris. Dalam studinya tersebut, penggunakan Model Literasi Budaya (MLB) dielaborasikan dengan penggunaan teknologi dalam mencari berbagai sumber cerita-cerita legenda di Indonesia. Melalui model ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk menyampaikan atau berbicara di depan kelas tentang hasil diskusi dengan kelompok kecilnya.

Terakhir, literasi budaya juga dapat diimplementasikan melalui tugas-tugas mahasiswa di luar mata kuliah bahasa Indonesia. Sebagai contoh, mahasiswa ditugaskan untuk mementaskan pertunjukan seni dengan mengambil tema tentang budaya-budaya lokal. Sebelum pertunjukkan ditampilkan, dosen mendorong mahasiswa untuk membentuk bengkel seni di kampus sebagai wadah dalam berlatih peran dan seni pertunjukkannya. Tema-tema teater atau seni pertunjukannya dapat diambil dari cerita atau legenda dari suatu daerah tertentu. Di samping itu juga, mahasiswa dapat pula diarahkan untuk menulis cerita sendiri yang bersifat kontemporer dengan berdasarkan tragedi atau kejadian di masa kini yang tentunya masih berkaitan dengan budaya di Indonesia.


Kesimpulan

Menurut pemaparan dalam World Economic Forum 2015, ada tiga keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu literasi dasar, competences, dan character qualities. Terakit dengan literasi dasar, ada beberapa jenis literasi yang harus dikuasai oleh peserta didik pada abad ke-21 ini, yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi saintifik, literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), literasi finansial, dan literasi budaya & kewargaan.

Literasi budaya merupakan jenis literasi yang vital untuk ditanamkan pada peserta didik. Literasi budaya merupakan kemampuan individu dalam memahami, menghargai, dan memaknai adanya keberagaman di lingkungannya. Di era globalisasi, keberagaman budaya merupakan aspek yang tidak dapat dihindari. Bahkan, memasuki era revolusi industri 4.0 saat ini kemampuan literasi budaya mutlak diperlukan sebagai modal/bekal untuk hidup dan bekerja sebagai masyarakat global.

Dengan alasan itulah, diperlukan upaya nyata dalam mengimplementasikan literasi budaya di lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satunya dapat dilakukan dengan pengintegrasian literasi budaya dalam proses pembelajaran Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Desain literasi budaya ini dapat dikemas dalam berbagai materi pembelajaran, seperti pada materi kompetensi membaca, menulis, dan berbicara.

Tulisan bersambung:
  1. Literasi Budaya dalam Pembelajaran BI di Perguruan Tinggi
  2. Budaya Literasi dan Literasi Budaya
  3. Pendidikan Literasi Budaya di Indonesia
  4. Desain Literasi Budaya dalam Pembelajaran BI
 Daftar Rujukan

  1. Abidin, Zain. Islam Inklusif: Telaah atas Doktrin dan Sejarah. Humaniora, Vol. 4, No. 2, 2013.
  2. Aprinta, Gita. Fungsi Media Online sebagai Media Literasi Budaya bagi Generasi Muda. The Messenger, Vol. 5, No. 1, 2013.
  3. Auzina, Anita. Teacher Competences for Facing Challenges of Globalisation in Education. Journal of Education Culture and Society, Vol. 2, No. 2, 2018. doi:10.15503/jecs20182.24.37.
  4. Barrette, Catherine M., dan Kate Paesani. Conceptualizing Cultural Literacy through Student Learning Outcomes Assessment. Foreign Language Annals, Vol. 51, No. 2, 2018. doi:10.1111/flan.12337.
  5. Damaianti, Vismaia S., dkk. Cultural Literacy Based Critical Reading Teaching Material with Active Reader Strategy for Junior High School. International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), Vol. 6, No. 4, 2017, hlm. 312–317, http://iaesjournal.com/online/index.php/IJERE.
  6. Desyandri. Nilai-Nilai Kearifan Lokal untuk Menumbuhkembangkan Literasi Budaya di Sekolah Dasar. Jurnal Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, Vol. 27, No. 1, 2018. hlm. 1–9. doi:10.17977/um009v27i12018p001.
  7. Flavell, H. Developing Indigenous Australian Cultural Competence: A Model for Implementing Indgenous Content into Curriculum. Journal of Teaching and Learning for Graduated Employability., Vol. 4, No. 1, 2013.
  8. GarcĂ­a Ochoa, Gabriel dkk. Embedding Cultural Literacy in Higher Education: A New Approach. Intercultural Education, Vol. 27, No. 6, 2016. hlm. 546–559. doi:10.1080/14675986.2016.1241551.
  9. Hadiansyah, Firman dkk. Materi Pendukung Literasi Budaya dan Kewargaan.
  10. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
  11. Halbert, Kelsey dan Philemon Chigeza. Navigating Discourses of Cultural Literacy
  12.  in Teacher Education. Australian Journal of Teacher Education, Vol. 40, No.11, 2015. hlm. 155–168. doi:10.14221/ajte.2015v40n11.9.
  13. Hallissy, M., Butler, D., Hurley, J., Marshall, K. Redesigning Education: Meeting the
  14. Challenges of the 21st Century. Brisbane: St Patrick College, 2013.
  15. Helaluddin. Restrukturisasi Pendidikan Berbasis Budaya: Penerapan Teori Esensialisme di Indonesia. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 6, No. 2, 2018.
  16. Hirsch, E. D. Cultural Literacy: What Every American Needs to Know. Boston:
  17. Houghton Mifflin, 1987.
  18. Riani, Dian dkk. Cultural Literacy Praxis in Teaching and Learning English at SMPN 14 Padang. Jakarta: UNJ, 2018.
  19. Rokhmawan, Tristan, dan M. Bayu Firmansyah. Cultural Literacy Development Based on Local Oral-Stories as The Cultural Identity of Kebonsari Elementary School. Journal of Intensive Studies on Language, Literature, Art, and Culture (ISLLAC), Vol. 1, No. 1, 2017. hlm. 224–238.
  20. Rosmawaty. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Multikultural Pada Pembelajaran PAI. Jurnal Edukasi Kultura, Vol. 2, No. 2, 2015. doi:10.1164/rccm.200607-984PP.
  21. Saepudin, Encang dkk. Model Literasi Budaya Masyarakat Tatar Karang di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Vol. 14, No. 1, 2018. doi:10.22146/bip.33315.
  22. Sari, Fitri Suci Puspita dan Rita Inderawati. The Application of Cultural Literacy Model to Enhance Speaking Ability trough Legends for Advance Students in ELT Classroom. Journal of Social Science Research, Vol. 5, No. 2, 2014. doi:https://doi.org/10.24297/jssr.v5i2.3356.
  23. Supriyatno, Triyo. Keberagaman Elemen Budaya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Islam di Malang. Jurnal Ulul Albab, Vol. 17, No. 2, 2016. hlm. 218–229.
  24. WEF (World Economic Forum). New Vision for Education: Unlocking the Potential of Technology. Davos: WEF dan The Boston Consulting Group, 2015.
 *) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Tulisan ini diunduh daru www.researchgate.net, dengan judul  “Desain Literasi Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi”

Tulisan Terkait

Utama 3801659789205417555

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item