Budaya Madura di Persimpangan Jalan?

Syaf Anton Wr

Budaya dalam entitas kesukuan menjadi sebuah pembeda dengan yang lain. keberadaannya menjadi sangat penting untuk kelanggengan sebuah suku. Dalam  proses kehidupan budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.


Pada pertengahan tahun 80-90-an wacana globalisasi ramai didengungkan akan menjadi tantangan berat dalam kehidupupan masyarakat, maka banyak pihak menyatakan kehawatiran dan bahkan (pula) ketakutan menghadapi globalisasi yang sekarang telah tiba dihadapan kita. Karena tantangan paling berat adalah terjadinya proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Dan sekarang globalisasi telah menyatu dengan kita dan masuk kesemua celah, termasuk berpengaruh terhadap aspek kehidupan masyarakat. Namun yang pasti, akibat dari itu, tidak sedikit pula terjadi benturan nilai, antara nilai yang dianggap sebagai ideologi globaliasi dan nilai-nilai yang tertanam dari kondisi masyarakat, termasuk didalamnya nilai-nilai kebudayaan Madura

Dari persoalan ancaman yang terjadi, sebagai warga masyarakat kita seharusnya mempunyai antisipasi. Banyak hal yang perlu dipertegas dalam menentang arus globaliasi ini, selain kita mempersatukan diri dalam satu kekuatan, yaitu budaya bangsa, juga bagaimana kita dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada di wadah globaliasi ini sebagai bentuk kekuatan dalam memaknai sebuah nilai kebangsaan sendiri.

Mau tidak mau, kita harus berani mengimplementasikan diri dalam sebuah prilaku yang tegas, disiplin, merawat lingkungan, tanggung jawab, kompetitif, kerja keras, penghargaan terhadap orang lain, sosial, demokratis dan semacamnya, sehingga untuk menuju kearah pertahanan budaya dapat kita satukan, khususnya budaya Madura yang telah membangun ciri dan warna bangsa Madura.

Mempertahankan Paras Budaya Madura

Kita sepakat, bahwa yang dimaksud kebudayaan nasional adalah pertemuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Tapi persoalannya, tiap kebudayaan daerah tidak memiliki kekuatan yang sama. Setiap kelompok etnik memiliki kekuatan yang berbada-beda, baik terkait dengan kekuatan sumber daya alam, sumber daya manusia, atau modal budaya yang dimilikinya.

Kebudayaan daerah yang diyakini sarat dengan pesan-pesan filosofis, spiritualitas, moral dan sosial, sebagaimana ditemui diberbagai aktifitas seni dan tradisi masyarakat Madura. Seni tradisi yang merupakan ekspresi hidup dan kehidupan masyarakat pendukungnya, serta menjadi sumber inspirasi gerakan spiritual, moral dan sosial. Dalam lingkaran kecilnya, seni tradisi terbukti memiliki peran signifikan dalam mencairkan ketegangan sosial. Dibalik keterbatasan pranata lokalnya, seni tradisi juga mengandung makna universal – yang paralel dengan agama – membawa pesan mulia bagi keluhuran budi manusia.

Konon, etnik Madura memiliki kekuatan tersendiri, sehingga (seharusnya) dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tanpa harus hawatir terhadap masuknya budaya diluarnya. Tapi persoalannya, apakah kebenaran kekuatan ini menjadi realitas bagi masyarakat Madura?. Ada lagi suatu pemikiran yang dikemukakan, yaitu kehidupan tradisi (kesenian, sosial dan lainnya) Madura merupakan satu-satunya yang memiliki nilai plus dan sebagai martabat bangsa Madura. Bahkan diimplementasikan setiap kelompok etnik Madura yang eksoduspun tetap mempertahankan nilai-nilai kemaduaraannya meski mereka hidup dalam kondisi budaya yang berbeda.

Nah, dari sini kita perlu pahami bersama tentang apa yang dipahami sebagai orang Madura. Apakah indentifikasi dan stigma yang menjadi perlambang kekuatan indetitas etnik Madura, atau nilai-nilai lain yang terkandung dalam kehidupan seni tradisi, peninggalan budaya, dan persoalan-persoalan kehidupan dibalik stigma itu. Atau apakah  kita telah  sepakat bahwa budaya Madura telah menjadi bagian vital bagi kehidupan masyarakatnya?. Atau kita biarkan saja, budaya yang konon adiluhung itu mengalir sendiri sesuai dengan perkembangannya?.

Masalahnya, apakah kita pernah mengevaluasi diri dari kacamata budaya? Apakah kita masih pantas disebut sebagai masyarakat atau etnik Madura? Apakah sikap kita dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan sikap manusia yang berbudaya Madura, yang beradab, tulus dan ikhlas sebagaimana tercermin dalam  pandangan hidup orang Madura tentang tatakrama (budi pekerti) yang harus diutamakan, yang terungkap seperti:  Oreng andhi’ tatakrama reya akantha pesse singgapun, ekabalanja’a e dhimma bai paju. Atau sebaliknya: “ Ta’tao Judanagara”

Dalam filsafat hidup orang Madura ada ungkapan “mon ba’na etobi’ sake’ ajja’ nobi’an oreng” (kalau kamu dicubit merasa sakit janganlah mencubit orang). Jika ungkapan di atas difahami dengan sikap cerdas, seseorang akan berusaha keras untuk menghormati orang lain, agar orang lain tidak terlukai oleh ulahnya.

Bersambung:

Budaya Madura di Persimpangan Jalan?
Potret Budaya Sebagai Jati Diri Masyarakat Madura
Revitalisasi Budaya Lokal, Menjawab Tantangan Jaman
Komunitas Lokal Sebagai Aktor

Tulisan Terkait

Kearifan Lokal 7442388350695607663

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item