Potret Budaya Sebagai Jati Diri Masyarakat Madura

Syaf Anton Wr

Dalam buku Baburugan Becce’ yang ditulis oleh Mas Wignyoamidarmo terbit di Jakarta tahun 1909, pada pengantarnya, antara lain dijelaskan seperti ini:

“Selerressa akkal paneka menangka komodhdhina manossa. Oreng se korang pangarteyan,ampon nyata odi’ epon kadiya parao e tengnga tase’ se tadha’ komodhdhiepon. Nyama se sae paneka kodu esare gu-onggu, kodu eparlowagi panyareepon, lebbiyagi parlo pole dhari panyareepon kasogiyan.”

(Akal itu berfungsi sebagai kemudi kehidupan manusia. orang yang kurang pengetahuan hidupnya seperti perahu yang berlayar tanpa kemudi. Nama baik (harga diri) seyogyanya diupayakan dengan sungguh-sungguh, lebih diutamakan dari mencari harta benda (kekayaan).

Dengan meresapi “pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang”, seseorang akan malu untuk berbuat sesuatu yang melanggar norma-norma yang telah disepakati masyarakat. Sebab dengan berbuat yang tidak senonoh itu akan membuat coreng hitam di wajah sendiri.
Dalam ajaran “Baburugan Becce’” menggambarkan sikap manusia (Madura) yang menjelaskan sebuah kerangka moralitas sebagai berikut:

Sekebba oreng ana-barna: kerres, tombak, peddhang, jambiya’, lancor ajam ban salaenna. Kep-sekep se kasebbut e attas jareya kabbi tadha’ se bisa ngongkole so kep-sekep se esebbuttagi e baba reya:

1.    Tello’ parkara areya kodu ejaga: jila, adat, kalakowan.
2.    Tello’ parkara reya kodu ekaandhi’: ate sacca (esto), ate socce, jujur.
3.    Tello’ parkara reya kodu ekabaji’i: mangga’an, nespa, ta’andhi’panarema.
4.    Tello’ parkara reya kodu eengguna: saroju’, kabunga’anna ate, kasennengnganna ate.
5.    Tello’ parkara reya kodu epeyara (eomesse): bakto (baja), pesse, kabarasan.
6.    Tello’ parkara reya kodu ehormate (eaji’i): omor, uwet (dhang-ondhang), agama.


(Manusia mempunyai senjata bermacam-macam, keris, tombak, pedang, jembia, celurit dan lain-lain. Senjata-senjata itu semua kegunaannya di dalam kehidupan tidak akan bisa melebihi pegangan yang tersebut di bawah ini:

1.    Tiga hal yang harus dijaga: lidah, adat dan pekerjaan.
2.    Tiga hal yang harus dipunyai: hati yang setia (persahabatan), nurani yang suci dan hati yang jujur.
3.    Tiga hal yang harus dijauhi: tega hati (aniaja), rendah diri (bukan rendah hati) dan tidak bisa menerima kenyataan hidup.
4.    Tiga hal yang harus ditempati: menjunjung tinggi musyawarah, kebahagiaan hati dan kesenangan (ketenangan) hati.
5.    Tiga hal yang harus dipelihara: waktu, uang dan kesehatan.
6.    Tiga hal yang harus dihormati: umur, undang-undang dan agama).

Dari ajaran tersebut diatas, bagaimanakah memandang wajah budaya Madura? Lalu seperti apa potret budaya Madura sebagai jati diri masyarakat Madura sekarang dan akan datang? Untuk merefleksi pertanyaan diatas paling tidak ada enam paradoks yang dihadapi Madura dalam percaturan peradaban kedepan;

Pertama, pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/sampah pengetahuan.
Kedua, ketelanjangan budaya (cultural transparency).
Ketiga, budaya ekses (culture of excess).
Keempat, ketidakpastian etis (ethical indelerminacy).
Kelima, kesenjangan digital (digital discrepancy).
Keenam, kegamangan seni (dizziness of arts).

Dari berbagai tantangan yang mendasar tersebut, bahwa pembentukan karakter jatidiri lebih menentukan sebuah masyarakat bisa bertahan dalam percaturan global ini. Dengan kata lain, di samping kemampuan skill individu yang mesti dikuasai oleh setiap individu masyarakat Madura, terutama generasi mudanya; apresiasi nilai-nilai budaya harus ditekankan sebagai transformasi jari diri. Dengan kata lain, kegamangan dan kehampaan serta kebrutalan masyarakat modern tidak dapat dipungkiri sebagai akibat hilangnya nilai-nilai budaya dan jati dirinya.

Mengingat hal paradoks modernisasi tersebut, perlu kiranya disodorkan sebuah konsep pembangunan Madura ke depan. Sebuah arah gerak maju modernisasi demi kesejahteraan masyarakat. Bukan “penghancuran” dan penghisapan sari madu Madura demi modernisasi. Modernisasi dengan birahi pembangunannya, dengan retorika elektroniknya memang tidak dapat ditolak. Tapi demi keberlangsungan masyarakat Madura untuk sekian waktu yang tidak ditentukan, perlu kiranya menata ‘birahi’ kemajuan yang paradoks ini.

Dengan kata lain, pemodernisasian Madura seyogyanya memiliki orientasi yang jelas dan terarah. Jelas untuk mengembangkan dan memajukan Madura. Terarah untuk memerhatikan kemajuan pada dua sisi. Pertama sisi fisik. Sisi ini lebih menekankan pada pembangunan struktur dan infrastruktur sosial-budaya-ekonomi-politik. Kedua, sisi psikis. Pembangunan sisi ini mengupayakan terciptanya mental dan jati diri masyarakat Madura

Lebih jauh, pembangunan psikis ini, tentunya terletak sejauh mana transformasi budaya msyarakat dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan kata lain, dalam mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, maka pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal merupakan modal utama.
Agenda apresiasi budaya lokal Madura ini selain membekali setiap individu dengan kesadaran realitas sejarahnya, juga bertujuan untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa.

Budaya Madura di Persimpangan Jalan?
Potret Budaya Sebagai Jati Diri Masyarakat Madura
Revitalisasi Budaya Lokal, Menjawab Tantangan Jaman
Komunitas Lokal Sebagai Aktor

Tulisan Terkait

Kearifan Lokal 6599747876983563191

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item