Sajak-sajak Rindu Ngadi Nugroho, Semarang


Ngadi Nugroho,
lahir 28 Juni di Semarang. Lulusan Teknologi Pertanian yang mencoba belajar menulis sastra. Beberapa sajaknya termaktub dalam beberapa antologi ( Lampion Merah Dadu, Jazirah XI Laut dan Kembara Kata-kata, Progo7, Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan dll ) dan terbit di sejumlah media massa online ( Media Indonesia, Balipolitika.com, Riausastra, Magrib.id, Barisan.co, Sukusastra.com, ngewiyak.com. Lamanriau.com, Majalah Elipsis, Majalah Jurnal Sastra Santarang, Pustaka Kabanti Kendari dll) Email : ng.adinugroho81@gmail.com

*****


Bermain Rindu

Aku lihat sapaNya lewat senja—merah seperti kelopak mawar. Dan daun-daun berguguran dipermainkan angin. Malam yang larut pertemukan aku dengan hening. Tenggelamkan napasku dalam pekat hitam. Agar aku tahu tentang rembulan rembang.

Desau napas ini seperti arus sungai. Ajari aku bermain rindu. Rindu yang teramat suwung. Datang lewat rintik hujan yang terberai. Aku coba menyekap suara itu. Suara yang mengajakku menyebut namamu.

Aku lihat sapaNya lewat senja—mengajarkan bibirku menyebut namamu dan namaNya.

Semarang, 2022



Tempat Bernaung


Aku bualkan segala kata-kata cinta. Sedangkan tubuh hanyalah sekadar daging yang merah menyala. Ditimbun segala rasa lapar yang membakar. Tak ada sisa kenyang dari setangkup roti buatan istri tercinta. Karena di persimpangan jalan segala kata-kata cinta luruh. Bersembunyi dari terik matahari. Bergoyang-goyang seperti lonceng di leher seekor lembu petani.  Hari-hari penuh kelakar, saat angin berlari dibawa hujan yang sempoyongan. Di sini, apakah teduh lindap menyusup dalam lenguh. Keringat yang netes mengamini setiap mimpi-mimpi belum jadi. Sepertinya tak ada yang tahu pasti tentang surga harus ke arah mana. Sedangkan lelah menidurkan malam dengan cumbuan rasa gelisah.

Semarang, 2022


Ziarah Malam

Tak ada suara—hening. Bunga yang gugur terombang-ambing angin. Cuaca lembab di sini. Hanya sisa doa-doa menidurkan sunyi. Sunyi yang ngilu. Dicumbui rasa getir yang mendedah. Mungkin hanya musim yang tahu.  

Namun dadaku masih pura-pura diam. Saat burung-burung bernyanyi tentang sajak-sajak kematian.

Serupa butiran embun menggantung di pinggir kelopak mataku. Mungkin sekadar bunga yang aku bawa menemani tidurmu.

Kaliwungu, 2022



Stasiun Terakhir

Ke arah sana kereta akan lewat. Apakah tetap melaju atau akan berhenti pada suatu tempat. Pada musim yang pengap. Matahari yang teramat terik membakar tubuh hingga mati. Di lorong itu arah sana. Mungkinkah ada bunga dan sejumput puisi. Juga wajahmu.

Ke arah sana kereta akan lewat. Mungkinkah akan berhenti pada suatu tempat. Ada bunga—ada kamu—ada segenggam doa yang disimpul rasa kangenmu.

Kaliwungu, 2022



Sebelum Waktu Berhenti

Kekasih, berdoalah. Kepalkan kedua tanganmu kiri dan kanan, walau perut keroncongan. Entaskan segala resahmu. Sudah cukup matahari membakarnya menjadi lolong. Bernyanyilah dengan suara nyaring. Betapa keperihan hidup tak hanya milik kita.

Hari-hari parau. Suara-suara ratapan nempel di dinding waktu . Juga tangis orang-orang yang tersamar dalam setiap kata rindu Langkah tak kan pernah berhenti serupa kepak burung-burung menerabas hujan. Sebelum mata kita menyongsong malam.

Kaliwungu, 2022

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5857526499288677588

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item