Peran Motivasi Agama Terhadap Penyembuhan Pasien Diabetes Melitus


Nabilah Ichtihani Waluyo

Diabetes Melitus (DM) atau biasa dikenal dengan diabetes tipe II adalah gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang diakibatkan oleh sekresi insulin. Pada kelenjar pankereas penderita diabetes tipe II ini tidak dapat mencukupi kebutuhan insulin pada tubuh. Akibatnya, insulin tidak berfungsi maksimal. Menurunnya produksi insulin menyebabkan kenaikan pada gula darah. Berdasarkan DataIndonesia.id penderita diabetes melitus di Indonesia menempati peringkat ke-5 di dunia. Pada 2021 penderita diabetes dengan rentang usia 20-79 tahun berjumlah 19,5 juta. Jumlah ini diprediksi terus meningkat pada tahun 2030.

Penyakit diabetes melitus yang tidak teratasi dengan baik dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti: penyakit kardiovaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke), kerusakan syaraf, disfungsi seksual, kerusakan ginjal, gangguan kulit, bahkan sampai berdampak pada keguguran.

Selain dapat menyebabkan kompikasi pada tubuh, diabetes melitus juga secara tidak langsung dapat menyerang kesehatan mental penderita juga. Dikarenakan saat penderita didiagnosis dengan penyakit tersebut, penderita cenderung merasa stess dikarenakan potensi komplikasi yang mungkin dialami, kemudian rasa cemas dan khawatir yang tidak ditangani dengan baik akan mendatangakan masalah kesehatan mental, bahkan jika dibiarkan dapat menurunkan kulitas hidup penderita.

Selanjutnya, diabetes melitus merupakan penyakit seumur hidup dimana sang penderita diharuskan dapat mengatur pola hidup mereka menjadi lebih baik untuk menjaga kadar gula darah mereka agar tetap dalam batas normal. Dimulai dari menjaga pola makan yaitu dengan mengonsumsi biji-bijian berserat, perbanyak buah dan sayur, mengonsumsi makanan dengan tinggi serat, mengurangi makanan dengam daging dan lemak jenuh, gunakan minyak dengan lemak tak jenuh (olive oil, minyak bunga matahari), mengurangi konsumsi gula, memilih ikan sebagai pengganti protein daging, jangan mengonsumsi alcohol dikarenakan dapat menurunkan kadar gula darah dalam tingakat yang berbahaya bagi tubuh.

Kemudian, munurut dr. Daru Jaka S, M.Sc.,SpPD, mengatakan bahwa penderita diabetes diharuskan aktif sepanjang hari. Selain melakukan olahraga secara biasa, diusakahan juga untuk melakukan aktivitas seperti biasa juga, seperti jalan kaki, naik tangga, bahkan bersepeda. Selain hal diatas, melakukan pengecekan gula darah. Kemudian, pengelolaan stress juga sangat penting untuk menjaga kadar gula darah. Dikarenakan jika penderita diabetes tipe II stress, hormone yang diproduksi tubuh sebagai respon terhadap stress dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. . Maka dari itu penderita diabetes tipe II mau tidak mau harus bisa menjaga kadar gula darah mereka supaya tidak berlebih dan menyebabkan komplikasi yang menyebabkan terganggunya fungsi fisik, peran fisik, fungsi sosial, aspek mental, dan emosional (Aristya B, 2022).

Dilansir dari kemnag.go.id, agama adalah ajaran kebaikan yang menuntun manusia kepada hakikat kemanusiaaan mereka. Agama berperan penting dalam mengatur kehidupan sehari-hari manusia dan mengarahkan kepada kebaikan umat manusia. Sebagai umat beragama kita harus berupaya untuk mengamalakan ajaran agama ke dalam setiap aspek kehidupan, supaya menumbulkan hubungan yang harmonis serta indah antar manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Contohnya, sebagai umat beragama islam yang taat beragama, apabila sakit kita dianjurkan untuk berikhtiar atau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh kesembuahan dengan tidak lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sakit merupakan ketentuan dari Allah SWT. Sakit merupakan salah satu tanda cinta tuhan kepada kita hamba-Nya. Apabila seseorang menjalaninya dengan sabar dan ikhlas maka Tuhan akan meridhoiNya. Seperti pada hadist Riwayat Bukhari “siapa yang menginginkan kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah baginya.” (HR Bukhari).

Oleh sebab itu peran agama diperkirakan dapat menumbuhkan semangat dan motivasi seseorang untuk memperoleh kesembuhan, terutama bagi penderita diabetes melitus. Dalam penelitian oleh Gupta dan Anandarajah (2014) mengenai peran spiritual terhadap diri dengan penyakit diabetesnya mengatakan bahwa responden merasa nyaman ketika membicarakan mengenai peran spiritualitas terutama tentang kepercayaan dan harapan mereka dalam menghadapi penyakit diabetes.

Kemudian, hasil penelitian Ningrum (2014) menerangkan jika 92% responden memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dan hal ini juga menunjukkan bahwa pada umumnya pasien yang memiliki penyakit kronis memiliki tingkat spiritualitas yang baik. Dikarenakan banyak pasien yang meyakini bahwa doa adalah salah satu cara mengatasi penyakit yang sedang dideritanya, serta penelitian dari Koening dkk (Ano & Vasconcelles, 2005) yang menyatakan bahwa pengendalian tangkat religious berperan dalam membebaskan seseorang dari stress.

Salah satu cara mendekatkan diri dengan tuhan dalam rangka penyembuhan penyakit dalam agama islam adalah dzkir. Dalam agama islam dzikir digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta bagian dari doa yang dilakukan dengan khusyu dan penuh rendah hati kepada Allah SWT, sehingga ketika dilakukan dapat membantu seseorang untuk menjaga kesabaran dan tetap merasa tenang ditengah kegaduhan pikiran.

Dengan pikiran yang tenang, seseorang akan lebih mudah dalam mengambil keputusan secara rasional sehingga, tingkat keinginan seseorang untuk merasa ingin sembuh dari suatu penyakit akan lebih tinggi, dan tingkat kepatuhan dalam meminum obat juga akan meningkat. Dzikir merupakan salah satu bentuk upaya penyembuhan dengan mendekatkan diri dengan Allah SWT, jika kita melakukan semua perintah agama dengan baik, dengan melaksanakan apa yang diperintahakan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita dan menjauhi larangan-larangan yang diberikan Tuhan kepada kita, seperti sedekah, sholat, dan masih banyak lagi.

Maka akan muncul pikiran positif dimana kita sebagai manusia akan merasa lebih tenang dikarenakan kita sudah melakukan yang terbaik untuk diri kita dan demi kesembuhan kita sendiri. Selain itu dengan mendekatkan diri dengan Tuhan, akan muncul motivasi-motivasi untuk tetap bertahan dan sembuh dari dalam diri kita, dikarenakan kita tidak akan merasa sendiri dalam menghadapi penyakit kita dan ini menimbulkan rasa bahagia dan percaya. Sehingga kita dengan mudah menyesuaikan perilaku baru berkaitan dengan perawatan dan penyembuhan penyakit diabetes melitus yang dialami.

Maka dari itu diinstansi kesehatan baik pemerintah maupun swasta, seperti rumah sakit dan puskesmas selain memberikan pengobatan dan perawatan disarankan untuk memberikan bimbingan rohani kepada pasien diabetes melitus, agar mereka mengetahui langkah yang tepat untuk menghadapi penyakit yang mereka derita dan mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi penyait mereka. Sehingga mereka akan terhindar dari stress yang dapat membuat kadar gula darah mereka tidak normal.

Kegitan tersebut dapat dilakukan dengan menuntun pasien untuk beribadah, memberikan nasihat mengenai hal yang baik serta mendoakan kesembuhan pasien, dengan begitu pasien akan tersugesti, merasa lebih tenang dan bersemangat untuk sembuh dari penyakit yang mereka derita. Kemudian dengan melibatkan peran anggota keluarga dalam memotivasi penderita untuk sembuh dan melibatkan peran keluarga dalam menjaga pola makan serta pola hidup penderita diabetes agar selalu melakukan gaya hidup yang baik untuk menjaga kakdar gula darah mereka tidak melampaui batas normal.

Nabilah Ichtihani Waluyo mahasiswa UMM dari jurusan Farmasi angkatan 2022

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8425296782261718417

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item