Peran Agama dalam Proses Penyembuhan Suatu Penyakit

 Asa Chalisatul Aula


Setiap manusia yang bernafas pastinya pernah mengalami keadaan sakit yang tak dapat dihindari, baik itu penyakit yang tidak terlalu berbahaya sampai terkena penyakit yang cukup berbahaya bahkan sampai dalam ambang kematian. Dalam keadaan sakit ini, bukan hanya fisik saja yang terdampak serius melainkan kondisi lain juga pasti akan terdampak seperti kondisi psikis ataupun kondisi rohani dalam diri seseorang.

Kondisi fisik yang ada pada diri manusia sangat berkaitan erat dengan kondisi psikis atau bisa dibilang pikiran dalam tubuh kita. Ketika kita mengalami atau mengetahui bahwa ada penyakit yang bersarang pada tubuh kita tentunya itu akan memunculkan perasaan cemas terhadap penyakit tersebut maupun pengobatannya, sehingga hal tersebut menganggu mental dan pikiran tubuh kita. Penyakit yang muncul juga sebenarnya tergantung pada kondisi pikiran kita, begitupun sama halnya saat dalam masa pemulihan dari penyakit yang diderita. 

Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa 70% penyakit yang dialami oleh manusia disebabkan oleh masalah psikologis. Maka dari itu dalam proses penyembuhan beberapa pasien ada layanan bimbingan rohani sebagai salah satu layanan pendukung untuk kesembuhan selain layanan medis.

Rumah sakit yang memiliki landasan nilai-nilai agamis biasanya memperhatikan hal-hal psikis yang dialami oleh pasiesnnya sehingga selain pengobatan medis, rumah sakit juga menyediakan fasilitas lainnya yaitu Bimbingan Rohani untuk membantu pasien mengatasi keguncangannya, sebagai salah satu cara penyembuhan dengan mendekatkan diri pada Tuhan, untuk memotivasi pasien secara spiritual agar cepat sembuh. Salah satu rumah sakit yang memiliki layanan bimbingan rohani tersebut adalah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.

 Layanan bimbingan rohani yang dilakukan di rumah sakit ini melampaui apa yang dimaksudkan sebelumnya yaitu memotivasi pasien yang mana dalam hal ini bersifat religius (motivasi dari sudut pandang agama). Pasien akan diberi bimbingan keagamaan seperti anjuran bersabar, tawakkal, memperbanyak ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memberi semangat dan pemikiran positif terhadap pasien untuk menghadapi penyakit yang diderita sebagai salah satu cobaan dari Allah SWT. Dalam salah satu penelitian menyatakan bahwa proses bimbingan rohani yang diberi langsung kepada pasien sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesembuhan pasien yang ada di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.

Menurut hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa di beberapa negara berkembang terdapat 30-50% pasien yang berobat ke sarana pelayanan kesehatan umum ternyata menderita gangguan atau masalah kesehatan yang berlatar belakang emosional. Manusia memiliki hubungan timbal balik di dalam dirinya sendiri yang mana hal tersebut berhubungan satu sama lain.

Contohnya adalah ketika kita sakit secara tak sadar kita juga merasa sedih, murung, gelisah, tertekan bahkan sampai depresi. Sama halnya ketika kita merasa cemas atau gangguan mental lainnya maka secara tak sadar pula tubuh kita ikut merasakan sakit. Terbukti bahwa dalam diri manusia ada hubungan timbal balik satu lainnya yang tak dapat dihindari. Kita juga bisa melihat sering kali dokter tidak memberi tahu penyakit yang kita derita secara terang-terangan karena tahu hal tersebut akan mengganggu kesehatan mental atau psikis kita.

Saat berada di rumah sakit tentunya akan menambah beban pikiran bagi kita. Banyak pertanyaan yang muncul di otak kita, “apakah penyakitnya serius sampai harus ke rumah sakit?”, “umurku sudah tidak lama lagi ya?”, “biayanya pasti mahal” dan masih banya lagi. Semua pemikirian itu pasti pernah dirasakan bagi pasien apalagi jika penyakit yang dideritanya cukup serius. Adanya aturan makan tertentu, pengobatan khusus yang mana tidak terlalu dipahami betul itu juga menambah beban pikiran bagi pasien itu sendiri padahal tetap membuat pikiran tenang dan positif adalah salah satu kunci kesembuhan bagi pasien pasien tersebut.

Layanan bimbingan rohani ini dapat menyembuhkan pasien secara bertahap. Biasanya pasien diberikan tiga tahapan bimbingan rohani oleh bina rohani. Pada tahapan pertama, pasien diberikan bimbingan rohani tentang pengertian kekuasaan Tuhan. Kemudian baru pasien diberikan materi-materi tentang agama, seperti fikih, akidah. Dalam setiap pemberian bimbingan rohani, bina rohani juga menyisipkan motivasi-motivasi agar pasien tidak berputus asa pada proses pengobatannya. Hal tentang terapi keagamaan dalam proses penyembuhan penyakit terdapay pada ayat al-Qur’an surat al-Isra ayat 82.

Pasien yang berada di rumah sakit yang memfasilitasi layanan bimbingan rohani ini tentunya berbeda daripada pasien biasanya, terlihat dari bagaimana mereka menyikapi penyakit yang diderita atau bahkan proses pengobatannya.

Mimi Guarneri, M.D. Seorang Kardiolog dalam bukunya The Heart Speaks PT Serambi Ilmu Semesta 2007 menceritakan tentang perubahan pesat pada detak jantung yang dialami oleh pasiennya  setelah pasien tersebut mendekatkan diri pada Tuhan. Westren Journal of Medicine pernah memuat tulisan dari F. Sicher dkk. Yang berjudul ’A Randomized Double Blind Study of the Effect of Distant Healing in a Population with Advanced AIDS’ memaparkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Elisabeth Targh dan koleganya tentang efek doa pada pasien yang menderita AIDS tahap lanjut pada tahun 1998. Setelah enam bulan, sebagian besar pasien yang didoakan ternyata dapat bertahan hidup, tidak sering sakit, dan pulih lebih cepat daripada mereka yang tidak didoakan.  

Ada pula dalam buku Dadang Hawari yang berjudul ‘Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa’ Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yaksa 1996, tentang penelitian dr. Larson (1989) terhadap penderita hipertensi dan kelompok katrol variable seperti merokok, yang mana dr. Larson menemukan bahwa orang yang rajin menjalankan ibadah keagamaan dan memiliki religiusitasnya lebih tinggi ternyata tekanan drahnya lebih rendah daripada mereka yang menganggap agama itu tidak penting.

Tak sedikit pula skripsi-skripsi yang membahas tentang issue ini salah satunya seperti skripsi milik Lukman Hakim Fakultas Dakwah tahun 2013. Skripsi milih Lukman Hakim ini berjudul ‘Bimbingan Do’a Pada Pasien Akut di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta’ yang membahas tentang bimbingan do’a yang dilakukan oleh petugas bina rohani pada pasien akut dengan menggunakan metode-metode agar lebih terarah. Skripsi ini juga membahas sedikit tentang materi do’a, seperti istgfar, takbir, dan tasbih.

Menurut Abraham Maslow, manusia membutuhkan kebutuhan yang paling dasar hingga yang paling puncak, yaitu :

  1. Kebutuhan Fisiologis, ialah kebutuhan dasar untuk hidup seperti makan, minum, istirahat dan sebagainya.
  2. Kebutuhan akan rasa aman yang mendorong manusia untuk bebas dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan ini dimanifestasikan dalam bentuk tempat tinggal yang permanen, dimana mereka bisa memanfaatkan tempat ini sebagai tempat perlindungan terhadap segala macam bahaya yang mengancamnya.
  3. Kebutuan akan rasa kasih sayang, antara lain berupa pemenuhan hubungan antar manusia. Manusia membutuhkan saling perhatian dan keintiman dalam pergaulan hidup.
  4. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan ini dimanifestasikan manusia dalam bentuk aktualisasi diri antara lain dengan berbuat sesuatu yang berguna, serta dalam tahap ini manusia ingin agar buah pikirannya dihargai oleh orang lain.

Dalam memenuhi kebutuhannya pasti kita sebagai manusia juga membutuhkan dorongan atau motivasi untuk mendapatkan kebutuhan tersebut. Selain 4 kebutuhan yang di atas, manusia juga memiliki kebutuhan dalam rasa aman, tentram, berpikiran positif dan lainnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dicari dan diperoleh dari suatu agama. Orang yang beragama hidupnya lebih aman daripada yang tidak beragama karena mereka percaya kebutuhan yang mereka inginkan tersebut datang dari agama yang mereka percayai. Agama juga pastinya akan memberikan nilai-nilai bagi kehidupan manusia dan dapat memberi solusi terhadap problematika kehidupan yang akan mereka alami.

Dalam buku ‘Pengalaman dan Motivasi Beragama’ Nico Syukur menjelaskan adanya tiga faktor yang harus diikutsertakan dalam menerangkan kelakuan manusia secara psikologis.

  1. Faktor spontan atau alamiah, yaitu gerakan atau dorongan secara spontan.
  2. Faktor keakuan manusia, yaitu keakuan manusia sebagai inti pusat kepribadiannya.
  3. Faktor situasi atau lingkungan hidup seseorang, bahwa tindakan dan perbuatan manusia tidak lepas dari dunia dan sekitarnya.

Untuk menyelidiki motivasi tindak religius tidak boleh lepas dari tiga faktor tersebut.

Pada tahun 1984 WHO telah menambahkan agama menjadi bagian dari sehat, sehingga yang dimaksud sehat tidak lagi hanya secara mental melainkan juga secara spiritual. Dengan begini, seseorang yang menderita tekanan batin atau stress sudah bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak sehat. Demikian juga dengan tindakan medis, untuk mengobati pasien, dokter tidak hanya menganalisis penyakit pasiennya secara fisik tetapi untuk menyembuhkan pasiennya dokter juga melakukan tinjauan psikis.

Dalam pelaksanaan bimbingan rohani ini biasanya para bina rohani melakukan kunjungan secara langsung kepada pasien dan memberikan materi-materi keagamaan kepada mereka, seperti anjuran untuk meningkatkan ibadah, rajin berdoa dan berdzikir, berbaik sangka kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tak lupa pula memberikan semangat agar memotivasi pasien untuk cepat sembuh dan mengingatkan untuk selalu bersyukur dan bersabar atas apa yang diberikan oleh Tuhan sehingga para pasien dapat menemukan sisi positif dari musibah yang diberikan.

Jadi, nilai-nilai agama memang sangat penting bagi proses penyembuhan pada pasien. Dari bimbingan agama yang diberikan kepada pasien berpengaruh kepada proses pemikiran dan mental seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika seseorang terkena suatu penyakit pasti nantinya mental dan psikis seseorang tersebut akan menurun dan tanpa disadari hal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis seseorang. Keterkaitan fisik dan psikis membuat di berbagai rumah sakit melakukan kegiatan bimbingan rohani untuk pasiennya. Di samping mendorong pasiennya cepat sembuh hal ini juga dilakukan untuk menciptakan kesehatan secara menyeluruh baik kesehatan fisik maupun spiritual.

Jika kondisi psikis dan mental kita baik serta terjaga maka kondisi fisik akan ikut membaik sehingga sangat membantu proses penyembuhan pada pasien.

_____

Asa Chalisatul Aula, mahasiswi S1 Farmasi dari Universitas Muhammadiyah Malang.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5884130261688359173

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item