Pasar Bandeng, Tradisi Turun-Temurun di Gresik

Penjual menunjukkan bandengnya ukuran besar (google.image)

Syalda Rahmi Farkhanah

Tradisi merupakan segala sesuatu kebiasan yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu hingga masa kini atau sekarang. Namun, tradisi dalam arti sempit ialah warisan – warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja yaitu, tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih kuat ikatannya dengan kehidupan masa kini.

Sedangkan arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi merupakan adat kebiasaan turun – temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat, arti lain penilaian atau anggapan bahwa cara – cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Seperti halnya tradisi-tradisi yang ada pada kabupaten gresik salah satunya adalah Tradisi Pasar Bandeng.

Pasar Bandeng merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan di Kabupaten Gresik. tradisi ini merupakan warisan dari walisongo yakni Sunan Giri. Sunan Giri adalah salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur.

Pasar Bandeng sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat gresik pada saat menjelang datangnya peringatan hari raya Idul Fitri. Adanya tradisi Pasar Bandeng saat menjelang lebaran menyebabkan seluruh penduduk kota Gresik makan dengan menu utama ikan Bandeng dengan berbagai macam olahan. Dengan demikian, para petambak Bandeng terus bisa membudiadayakan tambak bandengnya sekaligus bisa menikmati hasil bumi kekayaan daerahnya. 

Pasar Bandeng dalam pelaksanaannya dilakukan dengan menggelar kontes ikan bandeng yang dinilai dari bobot ikan bandeng yang sangat besar dan tidak biasa. Kemudian ikan-ikan tersebut dilelang dengan harga yang paling tinggi, maksimal Rp75 ribu per kilogram. Tujuan dari penyelenggaraan Pasar Bandeng adalah untuk memeriahkan suasana dan menghibur pengunjung.

Sejarah awal mula pasar bandeng ini adalah berawal dari masa Giri Kedaton yang dipimpin oleh Sunan Giri, yang merupakan rangkaian dalam acara malam selawe (malam ke-25). Malem selawe merupakan acara dimana para santri berbondong-bondong ke Masjid Giri dalam rangka iktikaf. Sunan Giri mengadakan tradisi pelelangan di Pasar Bandeng sebagai upaya membantu masyarakat dalam menjual ikan bandeng dan memberi peluang kepada masyarakat untuk mendapatkan penghasilan sebagai bekal dalam persiapan perayaan Idul Fitri.

Adapun pendapat lain yang menyebutkan bahwa sejarah awal pasar bandeng ini adalah Pada saat Sunan Giri memerintah wilayah Gresik, ada sebuah tradisi mendekati akhir bulan Ramadhan, di mana seluruh santri yang berasal dari Gresik, Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi hingga kawasan Malaysia, dan Thailand mempersiapkan pulang ke kampung halamannya. Sambil menunggu kedatangan kapal yang akan membawa mereka pulang, para santri biasanya membeli oleh-oleh untuk keluarganya.

Di antaranya adalah mereka membeli ikan Bandeng di sekitar kawasan Pelabuhan Gresik di daerah Lumpur dan Blandongan. Karena banyaknya santri dan pedagang yang berkumpul, maka terbentuklah Pasar Bandeng yang selanjutnya menjadi tradisi Pasar Bandeng tahunan yang digelar pada 27-28 Ramadahan di Kota Gresik. Pada masa itu, masyarakat Gresik masih belum terbantu perekonomiannya, masih kekurangan makanan, dan belum banyak mengenal dunia perdagangan.

Karena itu, sekitar Abad ke-15 Sunan Giri membantu perekonomian masyarakat setempat dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi. Dengan itu berubahlah kehidupan masyarakat Gresik dan mulai mengenal tentang perekonomian yang menguntungkan banyak pihak.

Dengan adanya hal itu, masyarakat juga lebih bersemangat dan tekun dalam pekerjaannya Ada pula yang menyebutkan Tradisi Pasar Bandeng dimulai pada zaman kolonial Belanda. Saat itu, mayoritas masyarakat Gresik memiliki usaha penambakan ikan bandeng. Mereka pun menjual hasil panen ikan bandeng secara bersama-sama.

Hingga kini tradisi Pasar Bandeng masih dilestarikan sebagai wujud syukur atas melimpahnya produksi ikan bandeng dan agar masyarakat tetap konsisten dalam menjalankan pembudidayaan ikan bandeng. Pada masa kini tradisi Pasar Bandeng diselenggarakan dengan ditambah beberapa acara, meliputi festival, lomba kuliner makanan khas Gresik, bazar produk Usaha Kecil Menengah (UKM), dan pada puncak acara ditutup dengan lelang ikan bandeng, pengumuman pemenang lomba, serta penyerahan hadiah.

Biasanya, masyarakat Gresik tumpah ruah untuk menikmati keramaian perayaan di Pasar Bandeng. Bandeng yang akan di lelang mulai dari ukuran sedang, hingga bandeng besar atau kawak. Satu ekor bandeng kawak beratnya bisa mencapai 18 kilogram lebih.

Ikan bandeng kemudian menjadi sajian khas saat perayaan Idul Fitri di Gresik dan perlu disimpan dalam jumlah yang banyak sebagai persediaan karena di saat Idul Fitri semua pedagang libur dan tidak ada yang berjualan. Uniknya, ikan bandeng yang dijual saat pelaksanaan tradisi itu tak sama dengan yang biasanya dijumpai. Ikan bandeng ini memiliki cita rasa sangat gurih, tidak berbau tanah, serta memiliki ukuran besar.

Sejak saat itu, Gresik tidak bisa dipisahkan dari potensi ikan bandengnya, sampai muncul istilah Gresik ya Bandeng. Berbeda dari daerah lain, ikan bandeng yang dihasilkan dari wilayah gresik dikenal memiliki kualitas bagus dan rasanya lebih nikmat saat disantap. Tidak heran banyak orang yang turut hadir menikmati kemeriahan pasar bandeng. Tidak hanya masyarakat Gresik saja yang ikut serta memeriahkan tapi juga dari berbagai kota yang berdekatan dengan kota Gresik terutama Sidoarjo, Lamongan, dan Mojokerto serta daerah yang lainnya.

Seiring berjalanya waktu, dalam melestarikan tradisi Pasar Bandeng, warga Gresik tidak hanya menjual ikan Bandeng tetapi juga menjual berbagai macam kebutuhan untuk Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat pun lebih senang karena hampir semuanya dapat ditemukan di Pasar Bandeng. Tradisi Pasar Bandeng kini telah menjadi ikon Kabupaten Gresik.

Tradisi ini tidak hanya sekadar melestarikan tradisi Walisongo, tetapi juga bermanfaat pada perekonomian warga Gresik. Penyelenggaraan Pasar Bandeng oleh Pemerintah Gresik ini dapat mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Gresik.

Tujuan diselenggarakannya Tradisi Pasar Bandeng yakni sebagai perwujudan rasa syukur lantaran hampir selesai menunaikan kewajiban puasa Ramadan. Selain itu, gelaran tahunan ini juga bertujuan untuk unjuk kebolehan keahlian masyarakat Gresik dalam bertambak ikan. Penyelenggaraan Tradisi Pasar Bandeng juga bagian dari upaya melestarikan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

_____

Syalda Rahmi Farkhanah mahasiswa UMM dari Jurusan Agroteknologi angkatan 2020,

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6482269229871218389

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item