Tingkatkan Kompetensi Diri Melalui PGP


Kismailah


Motivasi saya mengikuti Program Guru Penggerak (PGP) adalah untuk mengembagkan potensi diri dan menjadi bagian dari perubahan ke arah lebih baik, guna mewujudkan tujuan pendidikan. Menjadi guru penggerak menjadi awal langkah bagi saya meningkatkan kompetensi diri, mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam hal pendidikan.

Saya merasa senang sekali mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mengikuti pembelajaran-pembelajaran di prgram ini. Bagaimana tidak, untuk dapat lolos seleksi saja membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Awalnya saya tidak mengetahui program ini, tetapi saat membuka SIMPKB. Saat itu, pendaftaran untuk angkatan 5 hampir berakhir, lalu saya coba klik mendaftar. Tak disangka selang beberapa waktu kemudian, saya mendapat pesan dari Ditjen untuk segera melanjutkan proses pendaftaran dan mengikuti grup PGP dari kabupaten Sumenep.

Selanjutnya saya meminta izin mendaftar dari kepala sekolah, mengunggah beberapa dokumen di SIMPKB. Proses ini masih dilanjutkan dengan tahap tes menulis esai yang begitu banyak. Setelah lolos seleksi administrasi, masih dilanjutkan dengan tertulis, simulasi mengajar dan wawancara. Hasil tidak mengkhianati proses. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos untuk mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 ini.

Walaupun sempat goyah karena saya sebagai seorang guru sekaligus istri dan ibu dari dua anak yang begitu kecil dan masih membutuhkan saya dan berbagai kegitan dan tugas di sekolah ataupun di luar sekolah, tapi ketika mengingat banyaknya rangkaian tes yang saya jalani dan izin dari kepala sekolah, akhirnya saya memutuskan untuk terus menjalani proses selanjutnya. Pilihan saya untuk mengikuti program ini ternyata sangat tepat, saya merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa manfaatnya.

Kendala saat itu saya mengalami kesulitan kecil Karena melalui metode daring, tentu saja ini memerlukan kuota internet yang stabil. Hal ini menjadi kendala bagi saya.  Selain itu, kondisi laptop yang kurang bersahabat yang  harus selalu berteman dengan listrik. membuat saya harus mengikuti diskusi melalui hp juga membuat saya sedikit repot dalam pelaksanaan diskusi. Saya mencoba bersabar untuk menggunakan alat dan fasilitas terbatas ini dengan semaksimal mungkin. Dan saya selalu mempersiapkan data internet yang memadai dalam 2 kartu SIM, sebagai cadangan jika sewaktu-waktu kuota habis.

Kendala itu menjadi penyemangat bagi saya. Saya bisa belajar ilmu-ilmu baru yang sebelumnya tidak begitu saya pahami, bahkan belum tahu sama sekali. Karena sama sekali belum tahu, saya kadang merasa bingung untuk melangkah. Saya bersyukur, ada teman sesama Calon Guru Penggerak, Pendamping Praktik, Fasilitator dan rekan sejawat di sekolah  yang bisa menjadi tempat saya bertanya.

Nah, dari sekian modul yang sangat menarik dan telah saya implementasikan dalam kegiatan pembelajaran yakni materi memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi (modul 2.1) dan mengelola program yang berdampak pada murid (modul 3.3). Berbekal materi yang saya peroleh dari modul 2.1 dan 3.3 seperti di atas, saya melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Sersan Dallas (serius tapi santai belajar di dalam kelas).

Perubahan yang saya lakukan sebagai calon guru penggerak adalah meningkatkan nilai dan peran saya sebagai guru terutama di saat menjadi seorang calon guru penggerak. Nilai diri itu terdiri dari mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, kreatif dan berpihak pada murid. Hal ini membuat saya tertantang untuk bisa mengasah diri saya. Melatih diri lewat pembiasaan dan pengalaman, agar nilai-nilai tersebut melekat dalam diri saya. Bukan hanya sekedar polesan tampilan luar saja tapi menancap kuat dalam keseharian saya dalam menjalani profesi sebagai guru.

Melalui Program Guru Penggerak, pendidik dapat meningkatkan kompetensinya sebagai pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid. Selama pelaksanaan program, guru akan dibimbing oleh fasilitator, dan Pengajar Praktik profesional. Selain itu, guru penggerak juga menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Beberpa harapan saya setelah lulus dari PGP diaantaranya; mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi, dan kolaborasi secara mandiri. Memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik. Merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua. Berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid. Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah

*****
Kismailah
biasa di panggil bu   Kiss yang selalu ceria adalah seorang guru di SDN Ketawang Karay I, Desa yang terpencil namun indah Nan asri.  Dia memiliki hobby membaca dan shooping. Karakternya keras namun orangnya penyayang dan romantis. Keinginan terbesarnya adalah ingin membahagiakan
Kedua orang tuanya, menjadi CGP di angkatan 5 adalah Bonus dari    Allah untuknya., dan alhamdulilah terkabul. Kini ia sudah lulus CGP dan ia berharap mampu menjadi agen perubahan dalam pendidikan minimal di sekolahnya.





POSTING PILIHAN

Related

Utama 7195233456826942843

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item