O... Ada

Amang Mawardi bersama dua rekannya

Catatan Jurnalistik Amang Mawardi

Beliau salah satu Gubernur Jawa Timur yang energik. Kegiatannya banyak dilakukan untuk berkeliling ke banyak kabupaten/kota di provinsi yang luasnya 47. 963 kilometer persegi ini.

Seingat saya beliau menjabat gubernur selama dua periode, tetapi berhenti pada periode ke-2 tahun ke-2 atau ke-3 karena sakit permanen atau mendapat jabatan yang lebih berprogres di Jakarta. Maaf, lupa.

Pak Suhartono Kepala Humas Pemda Tingkat I Jawa Timur jika mengajak wartawan untuk mengikuti kunjungan Pak Gubernur, menggilir mereka. Artinya, tidak semua wartawan yang ngepos di Humas Pemda Tingkat I yang jumlahnya sekitar 35 orang itu, diajak semua. Rata-rata 10 orang, kecuali untuk satu media yang nanti akan saya sebut pada bagian akhir tulisan ini.

Kepada para wartawan yang jatuh giliran tidak diajak, medianya akan dikirimi siaran pers plus foto-foto kegiatan hasil kunjungan 'Pak Gub' di wilayah Tingkat II, ke alamat redaksi atau kantor perwakilan yang ada di Surabaya oleh karyawan Bagian Humas.

Pada awal tahun 1980-an, dalam suatu kunjungan kerja gubernur ke Kabupaten Nganjuk, saya dan sejumlah wartawan jatuh giliran.

Salah satu rangkaian acara itu antara lain ada di sebuah desa yang letaknya kira-kira berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Selesai acara di desa tersebut, Pak Gubernur dikelilingi wartawan, diwawancara -- untuk melengkapi berita seremonial di desa tadi.

Di sela-sela wartawan mewawancarai pejabat nomor 1 Jawa Timur ini, Pak Kepala Humas mengatakan sesuatu dengan pelan dalam posisi wajahnya mendekat ke wajah Pak Gubernur.

Lantas Pak Gubernur menoleh dengan pelan ke kiri ke arah barat. Tampak seorang wanita berusia sekitar 50 tahun turun dari perbukitan di mana di bagian punggung wanita tersebut bertengger tumpukan ikatan daun jati. Mungkin saking beratnya, posisi tubuh wanita tersebut melengkung ke depan.

Pelan-pelan Pak Gubernur berjalan menyongsong "Ibu Berdaun Jati" itu, di-'kinthili' para wartawan. Kemudian setelah dekat, Pak Gubernur menyapanya dalam bahasa Jawa halus.

Sebelum melanjutkan mewawancarai ibu tadi, wajah Pak Gubernur menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu. Setelah itu berkata sangat pelan (persisnya bergumam) : " Oo... Ada". Baru memulai berdialog dengan "Ibu Berdaun Jati" tersebut.

Kenapa beliau mengatakan "Oo... Ada" ? Karena mata beliau sudah berhasil melihat sosok reporter dan kameramen TVRI Surabaya. Jelasnya, reporter dan kameramen TVRI Stasiun Surabaya ada di dekat pak gubernur, berbaur dengan wartawan lainnya yang mengikuti kunjungan kerja ini.

Muaranya, jangan harap acara yang dihadiri Pak Gubernur bisa dimulai tanpa kehadiran reporter dan kameramen TVRI. Lebih-lebih jika pak pejabat nomor 1 di Jatim ini menemukan peristiwa tak terduga sebagaimana "Ibu Berdaun Jati" Itu. Tentu, ini dimungkinkan lantaran memiliki 'news value' tinggi.

Tahun-tahun itu TVRI mendominasi tunggal pemberitaan audio visual. Siarannya ditonton oleh ratusan ribu pemirsa. Apalagi jika berita yang dihasilkan reporter dan kameramen TVRI Stasiun Surabaya, naik derajat kualitasnya sehingga masuk ke TVRI Nasional, tidak saja disiarkan secara regional. Maka, dimungkinkan jutaan penonton akan menyaksikan siaran berita itu kendati hanya sekian detik.

Dalam konteks lain, televisi swasta mulai mengudara pada tahun 1989 (RCTI) dan 1990 (SCTV).

Setelah hadirnya dua televisi swasta tersebut yang lantas disusul oleh televisi swasta lainnya, TVRI lantas memasuki era 'sandya kalaning'. Pemirsa mulai lebih banyak beralih dengan menonton siaran dan hiburan televisi swasta.

Nah, pada tahun 1970-1980-an itu, media cetak lain boleh bergiliran diajak Humas Pemda Tingkat I Jawa Timur, tapi tidak untuk TVRI. Media ini akan ikut terus.

____

*** Amang Mawardi adalah wartawan senior, seniman, sastrawan, penulis dan telah menerbitkan sejumlah buku ***

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6349632579869504412

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item