Empat Pentigraf Lilik Rosida Irmawati


Pentigrafis: Lilik Rosida Irmawati

 

Pilihan

Pertemuan yang ditakdirkan, ketika sedang memantau kinerja bawahannya melalui layar monitor seraut wajah melintas, menggelindingkan ingatannya pada masa kanak-kanak. Sorot mata teduh dan senyum hangat, tidak salah lagi ini pak Hamdi. Penuh luapan emosi Misnanto keluar ruangan, meraih dan menciumi tangan Hamdi yang terkaget-kaget penuh tanya, melongo menatap sosok gagah berbalut seragam coklat. Mata tua Hamdi berkaca-kaca bahagia, tak disangka bahwa Misnanto yang dulu sangat kucel, kurus kering kini menjadi sosok yang demikian gagah. Meski tidak terlalu pandai, Misnanto menjadi kesayangan pak Hamdi. Dalam ingatannya Misnanto kecil tabiatnya sangat baik, ringan tangan dan jujur.

“Ini keempat kalinya Bapak mengikuti tes SIM C, dan baru bisa lulus setelah melalui biro bukan calo, “ ujar pak Hamdi santai ketika berada di ruangan Kanit Satlantas, pandanganya menyapu ruangan kerja Misnanto. Misnanto diam tertunduk dan ketika tengadah ia melihat sorot mata berdarah penuh luka, “Bapak tidak mempercayai ocehan anak dan mengurus sendiri perpanjangan. Dan ternyata rumor yang beredar ternyata benar. Begini cara kalian, sangat rapi dan tersistem. Kalau dikalkulasi besar sekali uang yang didapatkan dari cara ini, “Getar suara pak Hamdi demikian menusuk, dan Misnanto merasakan tikaman yang merobek ulu hatinya, “Hmm, mau apalagi? Kalian bekerja dibawah sebuah sistem dan harus patuh meski menghianati nurani. Jujur, bapak sangat kecewa menemui realita semacam ini tapi apa yang bisa bapak lakukan? ”

Misnanto kehilangan kata-kata, mulutnya terkunci. Sorot mata Hamdi menghujam membuat hatinya terasa sangat ngilu dan menggelepar. Bahkan ketika pak Hamdi mengucapkan salam Misnanto tak mampu menjawab sampai tubuh tua itu hilang dibalik pintu. Hanya kalimat dari mantan guru semasa Sekolah Dasar itu terngiang-ngiang di ruangan kerjanya, “Masih ada waktu untuk menentukan pilihan.”

Sumenep, 12 Desember 2016

 

 

Kenangan Hati

Layla berjalan sembil menghitung langkah kaki, menelusuri jejak rekam kehangatan masa bocah. Gedung utama masih berdiri kokoh dan ketika melewati ruang kelas 6 suara lantang pak Hamzah memasuki lorong-lorong memori dan hangat senyumnya menari-nari di dedaunan pohon di halaman. Tiga puluh sembilan tahun telah berlalu, memoar pak Hamzah guru semasa sekolah dasar mengambang dan memuai seperti lengkung bianglala seusai hujan.

Layla kini mengikuti jejak pak Hamzah, sosoknya yang kharismatik menginspirasi. Semua yang pernah Layla peroleh diterapkan pada anak didiknya, cara mengajar, cara mengasuh yang penuh simpatik dan empati serta dongeng yang dikisahkan menggantung. Sepuluh menit sebelum pulang merupakan detik-detik yang ditunggu. Suara bariton pak Hamzah naik turun menghipnotis, berkisah tentang para nabi dan rasul, dongeng kancil atau kisah 1001 malam. Bagi Layla pak Hamzah seperti buku hidup, menerbangkan  angan dan imajinasi mengembara bersama awan berserakan dan menurunkannya kembali melalui warna-warni pelangi.

Mengenang pak Hamzah selalu menimbulkan kesedihan karena Layla merasa saat ini keikhlasan dan dedikasi mulai terabrasi. Betapa ketika kecerdasan anak dipilah dan dikotak-kotak serta mengabaikan proses utuh memanusiakan anak dalam tumbuh kembangnya. Ruang hati anak hanya dijejali untuk meraih angka dan pengetahuan menjadi panglima. Bahkan mereka tidak lagi mengenal betapa indahnya merajut persahabatan melalui permainan dan nyanyian. Namun kesedihan Layla sedikit terobati ketika desain pendidikan memasukkan karakter sebagai fokus, meski hal itu sedikit terseok-seok mengingat minsed para guru masih belum sepenuhnya memahami perubahan filosofi itu. “Roda selalu berputar sesuai kodrat dan perjuangan, yang penting ikhlas dan konsisten,” pesan motivasi pak Hamzah selalu terngiang dan terukir di langit hati.

Sumenep, 30 Desember 2016

 

 

Pulang

Dengan seksama Surati memperhatikan setiap penumpsng yang turun dari bus. Gabungan petugas berbungkus plastik menyemprot setiap penumpang. Setelah lama menunggu akhirnya yang ditunggunya muncul. Meski memakai penutup Surati masih bisa mengenali sosok suami yang enam tahun silam berburu keberuntungan ke Malasyia.

Kerinduan memuncak menyatu dengan gairah yang membakar hanya sebatas menggelegak ke permukaan. Surati hanya bisa pasrah ketika Madruki harus dikarantina karena terindikasi terpapar virus. Semua kerinduannya hanya tertumpah sekejab lewat tatapan mata yang berkilat. Petugas dengan tegas menolak permintaan Surati untuk mencium tangan suaminya, bahkan sekedar mendekat meluapkan rindu. Surati meraung histeris ketika petugas berpakaian robot membawa suaminya yang berjalan oleng, meski kakinya melangkah separuh bagian tubuhnya menoleh.

Tak banyak yang bisa dilakukan Surati menunggu saat-saat yang tak pasti. Kabar bahwa Madruki positif Corona meluruhkan seluruh persendian dan hati. Beban itu semakin berat ketika tak ada satupun keluarga dekat dan jauh yang datang sekedar berkunjung menanyakam kabar. Rasa frustasi menyebabkan tubuh Surati menjadi limbung kemudiam ambruk. Di tengah ketidakberdayaannya Surati merasakan kehadiran Madruki, suami tercinta. Genggaman tangan, belaian dan ciuman penuh kasih sangat menenangkan dimalam-malam panjangnya. Dan ketika Madruki melepaskan genggamam serta melambaikan tangan Surati berteriak histeris . Saat kesadarannya pulih Surati merasakan tubuhnya berada di brankar dan di dorong oleh orang-orang berbaju tertutup lalu memasukkannya ke ambulance, membawanya entah kemana.

Sumenep, April 2020

 

 

Maafkan Saya, Ibu

Maya terduduk lemas ketika membaca di group Wali murid bahwa belajar di rumah diperpanjang. Sejak program belajar di rumah diterapkan untuk membendung virus corons Maya merasa hari-harinya demikian melelahkan. Masalah pekerjaan rumah dan permintaan si kembar ready kuliner tidaklah terlalu merepotkan. Namun ada satu hal yang membikin tensinya cepat naik, menjadi pengganti guru bagi si kembar butuh ekstra kesabaran tinggi terutama Windi yang ternyata jauh tertinggal dibandingkan kembarannya. Windi membuat jengkel tidak kepalang, dan bahkan Maya pernah menceburkan kepala ke bak mandi saking tidak manpu menahan emosi ketika Windi tidak cepat menangkap penjelasan sang bunda, dan akhirnya mogok belajar.

Maya akhirnya tersadar dan merasa bersalah kepada ibu guru si kembar. Selama ini Maya dikenal paling vokal mengkritisi karena Windi tak secemerlang Winda. Bahkan Maya pernah menuduh ibu guru kelas 2   tidak profesional, dan tuduhan itu hanya ditanggapi senyuman oleh bu Tatin. Mengingat hal itu Maya menjadi malu. Benar-benar sangat malu.

Ketika Windi mogok untuk yang kesekian kalinya Maya mengajak si kembar berkunjung ke bu Tatin. Dan itu ternyata sangat mujarab, binar kebahagiaan tersirat di bola mata Windi. Apalagi ketika bertemu bu Tatin, Winda dan Windi langsung menghambur dan menangis di pelukan gurunya. Maya terharu dan berkaca-kaca ketika akhirnya dapat memeluk bu Fatin dan berbisik, "Tolong maafkan saya."

Sumenep, Maret 2020

 _____

Lilik Rosida Irmawati, adalah penulis dan Ketua Rumah Literasi Sumenep

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1039701190011659911

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item