Sajak-sajak Durrotun Adilla, Bangka Belitung

Durrotun Adilla, Mahasiswi jurusan pendidikan bahasa Arab semester II Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan. Guru pengabdian di TMI Putri Al-Amien Prenduan, penikmat langit dan sastra, asal Bangka Belitung




Kepada Bapak

(abi Muhammad sukandi)

Pak, keringatmu kemarin lusa,
Ku janji ku tebus dengan emas berharga
Walau ku tau, kau takkan menuntut jasa
Hanya harap dan do’a
Dan sholat yang senantiasa terjaga

Pak, harapanmu setahun silam
Ku janji takkan buat ia terbenam
Kan ku hadirkan bersama fajar yang bersinar
Walau rintangan menyerang tanpa gentar
Kenanglah Pak! Janjiku berkuntum mawar yang indah mekar
Kelak, ditaman hatimu yang sejuk nan segar

Sebab, petuahmu telah menjadi akar
Pondasi kokoh paling kekar
Selayaknya cahaya matamu dalam jiwaku yang tak pernah pudar




Kepada Mamak
( Ummi Saripah )

Mak, kepada buih bibirmu yang tak pernah berhenti
Merajut do’a kala siang dan malam sepenuh hati
Aku selalu berharap,
Tuhan tak sekedar mendengar bait-bait do’a mu
Tapi menjadikannya nyata, senyata ku tatap langit yang biru
Senyata aku yang kerap merindu
Berpulang dan jatuh pada kasihmu yang syahdu

Mak, andai ilmu tak perlu di cari
Sungguh, tak selangkahpun kaki ini berlari
Jauh darimu di ujung pulau karapan sapi
Sebab cinta untukmu, mak
Bumi dan seisinya tak mampu menandingi
Dari anak kecil perempuan mu yang kini beranjak dewasa
Yang tak takut lagi menatap hiruk pikuk dunia
Karena do’amu untuknya yang tak pernah alpa kau baca

Berjanjilah mak, untuk selalu ada walau dunia sudah tiada




Sesajak “Han”

Han, coba katakan
Adakah yang lebih indah
Dari sebuah pertemanan tanpa perasaan?
Agar semua yang tumbuh dan berkembang
Tak mekar di waktu yang tak seimbang

Han, adakah yang keliru
Dari sepucuk kedekatan yang sendu?
Tatkala jauh menghampiri sebagai teman
Dan tatkala teman bukan lagi sekedar hubungan

Han, adakah yang lebih diketahui rembulan malam
Selain senyap gulita yang kelam?
Ketika bisu meyusup kedalam lorong-lorong
Malam yang kedinginan di guyur hujan

Han, pahamilah sesajak puisi ini
Sebagaimana kau pahami berbait-bait kalimat penuh arti
Yang termaktub dalam banyak kisah penulis buku yang indah
Yang sebab karyanya pulalah kata-kata kita menyala
Menyusuri setiap jengkal perjalanan menuju tanah rantau Madura

Han, mungkinkah tersebab dirimu
Rasa ini tumbuh dan berjibaku
Ntahlah, sungguh ku tak tau
Sungguh semua masih kelabu
Satu yang mungkin ku ingat
Di setiap perjalanan pulang, pergi dan kembali
Wujudmu akan hadir dalam bayang nostalgia
Namamu mungkin tergumam pelan dalam eja kata
Sebab waktu dan detik yang pernah ada
Adalah seperti menapaktilasi kebersamaan
Yang tercipta dari sebuah ketidaksengajaan

Han, ku harap kau paham
Bahwa pertemanan insan demikian
Nyatanya tak kan sesederhana sebagaimana yang di pandang mata
Sebab kisah seperti ini,
Bahkan sudah termaktub banyak teori dan bukti
Dari para ahli dari seluruh ahli pakar hati

Dari seseorang yang kau sebut ‘teman’




Sama

Sepi. Sepi ini mengoyak ramaiku
Ramai. Ramai ini menampar sepiku
Lantas apa maksudnya sepi dan ramai?
Sunyi dan senyap? Hiruk dan pikuk?
Bilamana kesepian,
tak ubahnya laksana menyeruak di tengah keramaian.
Pun begitu dengan keramaian,
Tak ubahnya laksana membisu di tengah kesepian.
Hingga sepi dan ramai bedanya hanya setipis benang saja.

23/07/2022





Perkara Rindu

Perkara rindu,
Adakah yang lebih dalam
Menyimpan rindu
Selain rindu itu sendiri?

Bila malam semakin malam
Mengapa rindu mesti semakin
Dalam
Menyelam
Tenggelam
Di dalam lautan kerinduan?




POSTING PILIHAN

Related

Utama 4326112670468493152

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item