Keterplesetan Timur Mengenai Peradaban Barat


Oleh: Radent HR Wiraraja

Abra kadabra—doar, hilang. Demikian ucap pesulap sebelum memulai aksinya jimat ampuh para penipu meyakinkan penonton bahwa yang tidak ada menjadi ada sehingga penonton terlena dan terbawa ke alam halusinasi si pesulap jurus tipu-tipu. Namun pesulap tidak akan bisa memperdaya Tuhan karena kodrat manusia hanya bisa setelah kehendak Tuhan.

Tulisan ini penulis akan awali dengan sedikit bacotan dan akan dimulai seperti gaya kakang tejo, mohon dicermati jangan dibawa kehati cukup dipikir-pikir kembali lalu perbaiki.

Pada beberapa abad lalu terdapat sebuah kerajaan bernama tepphung rennyam  yang dikepalai oleh Sultan Syukron Habi Teker. Ia adalah sosok yang mempunyai daya tarik antar manusia dan mempunyai kharismatik yang sangat tinggi. Semua penduduk kerajaan sangat segan padanya bukan hanya manusia tetapi hewan pun menunduk.

Masanya adalah masa keemasan tepphung rennyam. Setelah  beberapa dekade  kemudian kejayaannya semakin meloncat bahkan hampir mau menguasai   seluruh dunia. Karena, sebelum beranjak ke eksternal masyarakat setempat - mereka  dicekoki berbagai bekal pelajaran dan keadaan yang akan bisa mereka perbaiki bila masalah tersebut terjadi. Sehingga menumbuhkan benih-benih yang kreatif dan produktif - tetapi, kejayaannya semakin terkikis sesaat adipati jufri gedeng mengenalkan sepatu pada mereka yang memakai sandal.

Hari terus berlalu masyarakat setempat sudah mulai digaruk karekternya masing-masing. Budaya mereka samakin dikikis, bahasa mereka sudah menampakkan keamburadulan. Keresahan Sultan Syukron Habi Teker menjadi-jadi - tapi akalnya terus berjalan sehingga ia menemukan jalan keluar dengan cara meminta bantuan pada saudaranya yang tengah berkelana di gua ghunong naknong bato kaletthak bernama Putu Sri Andriomicron.

Lalu menuliskan isi hatinya pada selembar kulit kambing karena kalau di kertas hanya memburuk lingkungan. Setelah dua pasal surat itu baru sampai di tangan Putu Sri Andriomicron, karena burung merpati pengirim pos tersesat disebabkan terlalu banyaknya lampu merah dan gedung-gedung yang menjulang dan ia (Baca-putu Sri Andriomicron) terkejut sesaat membacanya. Karena, baru kali ini mendapatkan tugas yang aneh tapi dengan bekal lulusan Kairo al-Azhar dan keridoan Allah bisa menjawabnya. Didalamnya tersirat;

Kemajuan teknologi telah mempengaruhi pola fikir manusia. Mereka sudah lupa pada dirinya sendiri - kecanduan merebah saling pontang-panting berlomba menyuguhkan kebohongan, suka pada budaya orang lain, mengkolotkan perilaku kerajaan. Padahal kecintaan terhadap negara adalah upaya memajukan. Apabila ada sebuah kerajaan yang berpenduduk tidak mempunyai rasa militan itu adalah kerajaan boneka parkiran, kita bisa contoh negara jepang.

Disana semua penduduknya sangat cinta terhadap apa yang mereka miliki, sedangkan kita masih ingin memiliki budaya mereka - coba dalam beberepa windu militansi terhadap negara lalu jadikan sebagai tuguh, tentu mereka akan melirik karena kita ini kaya lo. Memang keterbukaan dan saling menerima satu sama lain dibutuhkan namun jangan selalu diterima. Pak tua bilang “mon manis jhã’ lajhu kalodu’. Mon paè’  jhã’ lajhu pakalowar”. Yang artinya jika manis jangan langsung ditelan dan jika pahit janngan langsung diludahkan. Jika memang benar ini perkembangan zaman maka salah, jika dikatakan pembodohan manusia itu nyata. Hari ini dunia seakan telah dikantongi berbagai masalah entah moral atau lingkungan, bahkan  anak kecil yang baru lahir saja sudah mempunyai masalah, kenapa yuk?.

Di jalan banyak pampangan tulisan yang di ketik dengan gaya lisan sehingga terjadi ke amburadulan. Di dalam pelajaran bahasa Indonesia telah diajarkan perbedaan teks lisan dan gaya teks tulisan, masalah ini terjadi di wilayah Madura. Gubernur Jawa Timur telah menetapkan bahwa bahasa Madura kelestariannya dijaga dalam undang-undang. Karena, sebagai pulau yang mempunyai kehasan bahasa. Dan untuk masalah hari ini masyarakat telah sal-sal mereka mencoba meyakinkan itu benar tanpa melihat buku panduan bagaimana menulis bahasa madura secara benar. Bila sejatinya masyarakat sadar hal tersebut tidak akan dibiarkan, masalah seperti ini bukan lagi kacang yang dikupas dari kulitnya. Tetapi, api pada air yang sulit untuk berdamai.

Bengkel dari hal tersebut adalah pemuda hari ini - mereka adalah gerbong utama dalam sebuah dinding peradaban. Mengacu pada sejarah, dimana pemuda sangat mempunyai peran penting dalam memerdekakan Nusantara. Menjaga dan melestarikan adalah bekal setiap regenerasi. Orang-orang Eropa menghasilkan banyak budaya namun hasilnya itu dari gesekan perkembangan zaman. Sedangkan, budaya kita adalah budaya hasil kepercayaan  yang terus mengalir. Banyak masyarakat hal tersebut dijadikan sebuah ketidak percayaan diri mereka, seakan apa yang mereka kerjakan adalah kekolotan dan cupu.

Penulis pernah menangkap dawuh Kiai Affan beliau adalah sosok budayawan yang lahir dipulau santri (Madura) dalam diskusi Foklor oleh Theater Linguage. beliau mangatakan “mereka (red-orang-orang Eropa) takut pada kita. Karena, budaya kita banyak dan orang-orangnya sangat teguh pendirian ”.

Dalam hitungan angan Putu Sri Andriomicron sudah sampai di gapura kerjaan tepphung rennyem dan langsung menuju kerajaan. Benar ia langsung disajikan baju bertulis “Topotè” yang dikenakan oleh selir kerajaan - sungguh sangat menonjol kesalahan mereka. Putu Sri  Andriomicron tidak sanggup melihatnya sehingga ia mempalingkan tatapannya dengan sangat pelan.

Dulu masa nenek moyang, ketika berbuat yang tidak sesuai notabenenya, mereka sangat merasa bersalah besar bahkan sampai-sampai membuat sebuah perjanjian dengan hukuman mati dan sekarang, hanya dijadikan sebagai lolucon dan menampakkan kesalahannya sendiri tanpa mempertangung jawab perbuatan yang merosak moral dan etika. Dasar bangsa tak bermoral!. Lanjut.

Disepanjang lorong yang dilintasi Putu Sri Andriomicron, banyak sekali tulisan di pedukuhan yang telah melanggar undang-undang; ada yang   reng madhure kartuna SC. dan langgher marokol - ia tentunnya tidak tinggal diam Putu Sri Andriomicron langsung mengambil peralatan seadanya untuk memperbaiki kata tersebut, apalagi ada yang dikenalinya tempat pedukuhan tersebut yaitu marokol  seorang ahli bahasa yang selama mudanya selalu mendapatkan teladan sekaligus saingan Putu Sri Andriomicron saat belajar ngaji di langghãr mahdi.

Bahkan orang yang mempunyai ilmu tinggi, dan pangkat banyak telah keluar dari rel yang ditetapkan. Memang manuisa tidak luput dari salah dan benar. Maka sebelum kita memperbaruhi kehidupan sehari-hari kita lakukan dari yang kecil saja sebelum yang besar. Dan Putu Sri Andriomicron membuat dekrit untuk masalah ini yang langsung dibacakan oleh panglima Surya Akaralvin Ramu’kuspa pada apel kerajaan sesudah mendapatkan izin dari raja  tepphung rennyem (baca-Sultan Syukron Habi Teker) dengan suara lentang Ramu’kuspa membacakannya; ajãgã tor arabãt “peten dhibik” paneka  ngempengi aghãma, aro’omè bhãngsa. Tamat, akhiron walluhu a’lam.

Sumenep 22.

*****

Radent HR Wiraraja, pemuda yang lahir dari perantara luka yang kian sedang hijrah kekraton Yogyakarta. Dan menjadi  Mahasiswa UINSUKA Prodi Akidah Dan Filsafat Islam.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8235237613724857142

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item