Memoar Kisah Dua Kekasih


Cerpen: Syafiq Rahman

 

Angan yang ingin menjadi angin
Menebar harap di ujung tatap
Tentangmu yang ku cumbu dalam halu
Hingga rindu menjadi debu


01 Oktober 2003

Di bangku taman berwarna putih itu adalah tempat paling bersejarah. Dimana dua pohon cemara yang berjejer rapi terdapat dua nama seseorang yang terukir indah dalam sebuah ikatan. Sebut saja dia Anwar dan Alina. Pada detik ini, hubungan mereka seakan-akan tidak menemukan cahaya pada alur kehidupan. Padahal tiga tahun lebih mereka membangun hubungan. Melewati beberapa jutaan rintangan dan ribuan pengorbanan. Tetapi, tetap saja mereka tidak tahu kapan waktunya untuk segera menikah. Sungguh membosankan memang kepastian tanpa alasan, dan Anwar menyadari akan hal itu.

Hari berganti hari, Anwar tidak bisa berbuat banyak apa-apa selain berdoa padaTuhan agar sesuatu yang ia inginkan berujung sebuah kebahagian, seolah-olah kebahagiaan dunia cinta dapat Anwar genggam. Mungkin…,? Ah, sekarang bukan waktunya berandai-andai, percuma saja Anwar selalu menanam harap dari Alina jika masih tidak menemukan sebuah kepastian yang nyata.

***

Hari terus merangkak mengikuti putaran waktu. Dari musim kemarau sampai pada akhirnya ia bergegas menjemput musim hujan. Malam itu hujan sangat lebat, bahkan hujan itu turun sejak dini hari. Di kota itu, kendaraan-kendaraan bermotor simpang siur melintas. Suara bunyi klakson kendaraan bising dalam keramain. Sedang, orang-orang berlalu lalang mencari tempat berteduh, dan ada sebagian juga yang berani menerobos hujan. Lagi-lagi hujan telah menghandas pekerjaan mereka. Menyebalkan.

Di sudut yang lain, tampak seseorang termenung seperti ada sesuatu yang sedang berkecamuk didalam hatinya. Dengan seksama ia memandang perkotaan yang masih padat kemacetan dan deras air hujan. Dia adalah Anwar.

Tiba-tiba cahaya petir di atas langit nun jauh sana bergelegar. Sepertinya hujan bulan oktober ini sebentar lagi bertandang. Seakan-akan ia juga telah berhasil menyindir dengan iramanya terhadap apa yang menimpa Anwar saat ini.

Tanpa henti suara itu terus berteriak seperti membawa kabar bahwa cinta yang Anwar rajut bersama Alina akan segera runtuh. Tidak,! hal itu mustahil terjadi. Bagaimanapun juga meski tanpa kepastian dari Alina, Anwar selalu mencari cara agar ia bisa secepatnya memiliki Alina Sulfatun Nisa’ seutuhnya.

 “Wahai alam, berhentilah kau berteriak, berhentilah engkau bergelegar, aku tak ingin mendengarkan celoteh-celoteh kemarahanmu itu,” Anwar kemudian membatin dengan perasaan yang sudah tak menentu.

***

22 Desember 2003

Setelah sekian lama Anwar menunggu, pada akhirnya Alina memberi kepastian di  bangku berwarna putih itu. Alina mengatakan akan segera menikah jika seandainya Anwar mampu memberikan cincin perhiasan yang indah saat menikah nanti. Semenjak itu Anwar sangat bahagia. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan uang, bahkan ia rela berpura-pura tidak kelaparan saat di tanya oleh  kedua orang tuanya demi menabung semua uang itu dari hasil kerjanya. Kau tahu semua itu, Anwar lakukan demi terwujutnya sebuah harapan.

Kini tibalah saatnya Anwar mengabulkan sesuatu yang Alina inginkan. Sebuah cincin perhiasan yang tersimpan rapi didalam kotak merah berukuran kecil. Dalam hati Anwar, ia Bahagia, tidak sabar segera mungkin memberikan cincin itu kepada Alina. Tetapi, Anwar merasakan sesuatu yang berbeda di taman sejarah, sebut Takdir atas taman itu. Sekarang ia menyendiri berteman dengan sepi dan hembusan semilir angin yang mengiringi beberapa godam kerinduan akan seorang gadis permaisuri hidupnya.

Gelombang lautan pun seakan memberi isyarat pada alam agar mengirimi ribuan hujan sebagai tanda bahwa Alina akan segera datang menemani Anwar di taman sejarah, sesuai dengan permintaanya. Tetapi, hari ini adalah musim kemarau, tanah-tanah tandus mengering. Dedaunan pun berguguran di bawah pohon cemara itu, seolah-olah taman sejarah tak lagi menyimpan cerita tentang mereka berdua. Bayangkan saja kau menjadi Anwar, sungguh! Betapa terlukanya ia di saat semua harapan mulai terkabul, tetapi, kini entah dimana Alina berada. Menyakitkan.

Lihat, Anwar tidak mempunyai sebongkah hati lagi. Berjalan ia ke tepi lautan. Duduk menyendiri memandang deru ombak lautan yang membawa kedamaian. Sesekali Anwar mencoba menoleh ke bangku taman sejarah, tapi tetap saja ada bayangan tentang mereka berdua saat masih bersama. Aneh.

           “Anwar, coba kau lihat ombak itu, sangat menakutkan bukan?,” ucap Alina saat mereka mengintip senja berdua di pantai itu dengan senyum

           “Menurutku tidak Alina, kau tahu, ombak itu adalah seperti gelombang rasa kerinduan yang menghantam kita dalam kenistapaan jiwa.”

Ah, kembali Anwar teringat percakapan terakhir mereka sebelum bulan Januari bergegas menjemput bulan Februari. Ya, gelombang ombak adalah rasa rinduan yang menghantam kita dalam kenistapaan jiwa.


Dimanakah Alina sebenarnya berada? Begitu kejamkah jarak?

Berkali-kali Anwar selalu menyeru dan menyebut namanya perlahan. Berbagai perasaan aneh menyeruak dalam kepalanya. Ataukah ia telah menemukan kehidupan yang baru? Ah…,ia menekan dadanya lebih dalam mencoba mencari ketenangan yang masih ada. Lalu ia berteriak dengan sangat kencang. Sehingga pada akhirnya, Anwar berteriak untuk yang terakhir kalinya.

 “Dimanakah kesetiaanmu Alina.”

Madura, 2020


*****

Tentang penulis: Syafiq Rahman, lahir di Sumenep, Madura. Merupakan mahasiswa UIN Suka (Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga). Menulis Cerpen, Puisi dan Esai. Bergiat di komunitas Majlis Sastra Mata Pena (MSPM).

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1070131519586282937

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item