Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)


F Keterpaduan Pembelajaran Menulis dengan Pendidikan Karakter


Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, prosedur pembelajaran menulis ini merupakan saluran pendidikan karakter. Pada masing-masing tahapan pembelajaran menulis terdapat sejumlah aktivitas yang harus dilakukan siswa. Melalui aktivitas-aktivitas inilah siswa akan secara tidak sadar menunjukkan karakter dirinya.

Pada tahap pramenulis, siswa dapat melakukan serangkaian aktivitas seperti eksplorasi fenomena untuk mendapatkan ide. Kegiatan ini akan menuntut siswa untuk mendayagunakan panca indera dan perasaannya dalam menangkap ilham atau ide dasar bagi bahan tulisannya Pada saat siswa melakukan kegiatan eksplorasi, ia sebenarnya sedang membiasakan diri untuk teliti, cermat, peka, antusias, tanggung jawab, kreatif, kritis, inisiatif, dan disiplin. Pada saat siswa menulis naskah secara kooperatif, siswa akan dibiasakan untuk saling menghargai, kerja sama, tanggung jawab, kreatif, kritis, inisiatif, problem solving, produktif, keuletan, kecekatan, suka mengambil risiko, dan komitmen, serta beberapa nilai karakter lainnya.

Pada tahap penyuntingan dan pembacaan profesional, siswa akan dibiasakan untuk cermat, disiplin, jujur, teliti, analitis, visioner, bertanggung jawab, perhatian, sungguh-sungguh, berorientasi pada prestasi, komitmen, keterbukaan, kerapian, ketegasan, kehati-hatian, keluwesan keantusiasan, bekerja keras,dan sejumlah nilai karakter lainnya. Pada tahap publikasi akan berkembang nilai karakter meliputi percaya diri, bangga pada diri sendiri dan kelompoknya, kreatif, berani, disiplin, sportivitas, dan amanah.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran menulis dapat digunakan sebagai wahana bagi implementasi pendidikan karakter. Syarat utamanya adalah bahwa pembelajaran menulis harus dilakukan dalam gamitan pembelajaran aktif dan kreatif. Melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa siswa akan beroleh pengetahuan, pengalaman, sekaligus pengembangan karakter. Jika selama proses pembelajaran digunakan penilaian otentik, pembudayaan karakter juga akan semakin kuat sehingga siswa benar-benar mampu mencapai prestasi belajar yang baik sekaligus berkarakter. Inilah sebenarnya implementasi pembelajaran bahasa Indonesia yang harmonis, bermutu, dan bermartabat.

G, Model Pembelajaran Menulis

Berdasarkan berbagai aktivitas yang telah dibahas pada bagian proses pembelajaran menulis, sebenarnya dapat dikembangkan berbagai metode- metode pembelajaran menulis secara kreatif. Namun demikian, pada bab ini dirasa perlu juga mengemukakan beberapa metode atau model pembelajaran menulis yang telah ada maupun yang dikreasi sendiri.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

1 Model Proses Menulis

Model proses menulis merupakan model pembelajaran menulis yang paling awal dikembangkan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa model-model yang lain dikembangkan atas dasar model ini. Cox (1999) menyatakan model proses menulis pada dasarnya adalah model pembelajaran menulis yang menekankan aktivitas siswa menulis sesuai dengan tahapan menulis itu sendiri. Dengan demikian siswa harus mampu secara mandiri menemukan ide, mengorganisasi ide, dan reproduksi ide dalam sebuah tulisan.

2 Model Bengkel Menulis (Writing Workshop)

Bengkel menulis menulis adalah sebuah wilayah literasi tempat siswa belajar proses menulis melalui penyediaan waktu secukupnya oleh guru agar siswa secara pasti dapat merencanakan, mengorganisasikan, dan menyajikan tulisannya. (Dorn & Soffos, 2001: 32). Tujuan utama model ini ini adalah agar siswa mampu memilih topik secara tepat dan mengembangkannya dalam berbagai jenis tulisan. Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu memahami apa sebenarnya proses menulis.

Bengkel menulis pada dasarnya dikembangkan atas dasar proses menulis yakni pramenulis, pembuatan draf, revisi, editing, dan publikasi tulisan. Tahapan ini dimaksudkan agar siswa memiliki kerangka kerja yang baik untuk mengembangkan dan menyusun tugas menulisnya. Selama proses pembelajaran guru harus membimbing siswa menulis dan memberikan umpan balik atas tulisan siswa. Pada tahap akhir proses, guru harus menilai tulisan yang dibuat siswa. Melalui pola kerja ini diyakini kemampuan siswa menulis akan berkembang lebih baik.

3 Model Menulis Berbasis Genre (Genre-Based Writing)

Model menulis berbasis genre pada dasarnya model pembelajaran menulis yang menekankan pentingnya pemahaman sebuah teks sebagai bekal kegiatan menulis (Macken, et,al, 1990). Berdasarkan pengertian ini, pembelajaran menulis akan diawali dengan membekali siswa tentang bagaimana sebuah tulisan dengan genre tertentu dibuat secara tepat berdasarkan contoh atau model tulisan yang sudah jadi.

4    Model Menulis Otentik

Model menulis otentik merupakan model pembelajaran menulis yang menekankan kebebasan siswa dalam menentukan tema dan genre tulisan berdasarkan minatnya (Sundem, 2007: 34). Sejalan dengan pengertian ini, siswa dapat menentukan tema yang beragam dan jenis tulisan yang beragam. Yang terpenting adalah bahwa tulisan tersebut bermakna bagi siswa yang berarti bahwa tulisan tersebut sesuai dengan kehidupan siswa dan berguna bagi siswa. Selain itu, model ini menekankan pemberian bimbingan secara bervariasi pada setiap tahapan penulisan yang dirasakan sulit oleh siswa. Oleh karena itu, penggunaan penilaian otentik merupakan prasyarat mutlak bagi penerapan model ini.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

5 Model Scaffolded Writing

Model Scaffolded Writing merupakan model pembelajaran menulis yang seluruh perencanaan karangannya ditentukan oleh guru (Axford et.al., 2009: 88). Dalam pelaksanaannya guru menjelaskan cara pengarang menulis sebuah tulisan yang digunakan sebagai model. Berdasarkan pengertian ini, model ini berbeda dengan model menulis lainnya yang seluruh perencanaan menulis diserahkan kepada siswa. Dalam model ini perencanaan menulis dijelaskan guru sehingga tulisan yang dihasilkan dari kegiatan pembelajaran ini lebih bersifat tulisan rekonstruksi. Siswa hanya akan meniru apa yang dilakukan penulis teks yang dijadikan model. Tujuan utama model ini adalah agar siswa mengetahui bagaimana sebuah karangan dibuat berdasarkan pengimajinasian, pemikiran, dan pengemasan yang dilakukan pengarang.

6, Model Menulis Kolaborasi

Model menulis kolaborasi merupakan model pembelajaran menulis yang memanfaatkan pengalaman penyusunan karangan secara bersama-sama sebagai dasar bagi penyusunan karangan secara mandiri. Berdasarkan pengertian ini menulis kolaborasi diawali dengan kegiatan menulis secara bersama-sama melalui kegiatan urun rembuk ide dan diakhiri dengan menulis secara mandiri. Tujuan utama model ini adalah memberikan pengalaman pada siswa bagaimana menyusun sebuah karangan. Berdasarkan pengalamannya tersebut, siswa diharapkan dapat menentukan langkah-langkah menulis, pola menulis, dan gaya penulisan sebuah karangan. Selanjutnya siswa diharapkan mampu menulis secara mandiri.

Demikianlah enam model pembelajaran menulis yang diyakini akan mengembangkan kemampuan siswa menulis sekaligus membangun karakter siswa. Model-model pembelajaran menulis yang lain tentu saja masih banyak. Selain itu, guru dapat secara kreatif menyusun sendiri model atau metode pembelajaran menulis berdasarkan aktivitas pada setiap tahapan proses menulis yang disajikan dalam buku ini.

Menulis pada dasarnya merupakan sebuah proses sehingga pembelajaran menulis pun harus merupakan sebuah proses yang dilalui siswa agar mampu menulis. Dalam prosesnya, pembelajaran menulis hendaknya diarahkan pada upaya membina kemampuan siswa untuk menulis berbagai genre tulisan untuk berbagai tujuan, berbagai sasaran baca, dan berbagai konteks sosial budaya. Sejalan dengan tuntutan ini, pembelajaran menulis selayaknya dikemas melalui penciptaan sejumlah aktivitas-aktivitas aktif kreatif yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran. Melalui aktivitas- aktivitas inilah siswa akan secara tidak sadar menunjukkan karakter dirinya. Aktivitas aktif kreatif ini juga jangan hanya yang bersifat mereproduksi tulisan melainkan harus lebih terarah pada proses produksi tulisan yang asli dan memiliki daya kreativitas yang tinggi.
 

Daftar Pustaka

  1. Akhadiah, S. (1999) Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga. Axford, B. et.al. (2009) Scaffolding Literacy. Australia: ACER Press.
  2. Brown, H.D (2001). Teaching By Principle: An Interactive Approach to Language Pedagogy. San Francisco: Longman.
  3. Cox, C. (1999). Teaching Language Arts: A Student–and Response–Centered Classroom. Boston: Allyn and Bacon
  4. Dorn, L.J. & Soffos, C.( 2001) Scaffolding Young Writers: A Writers Worshop Approach.  Portland: Stenhouse Publishing.
  5. Gie, T.L. (2002) Terampil Menulis. Yogyakarta: Andi Offset.
  6. Macken, M. et,al, (1990) A Genre-Based Approach to Teaching Writing.
  7. Australi: Literacy&Education Research Network.
  8. Sorenson, S. (2010) Webster’s New World Student Writing Handbook. Fifth Edition. Canada: Wiley Publishing.
  9. Sundem, G. (2007) Improving Student Writing Skills. California: Shell Education.
  10. Tompkins dan Hoskisson (1991). Language Arts: Content and Teaching Strategies. New York: Maxwell.

*******
Yunus Abidin adalah dosen Universitas Pendidikan Indonesia dpk. UPI Kampus Cibiru. Penulis menyelesaikan pendidikan jenjang magister (S- 2) dari Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.

(Tulisan ini diangkat dan diunduh dari neliti com)

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)





POSTING PILIHAN

Related

Utama 7433201866111135564

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item