Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)


Yunus Abidin


Pembelajaran menulis haruslah ditafsirkan sebagai sebuah proses yang ditujukan untuk mengembangkan serangkaian aktivitas siswa dalam rangka menghasilkan sebuah tulisan di bawah bimbingan, arahan, dan motivasi guru. Sejalan dengan definisi ini, pembelajaran menulis seyogyanya dikembangkan melalui beberapa tahapan proses menulis sehingga siswa benar-benar mampu menulis sesuai dengan tahapan proses yang jelas. Di sisi lain, guru juga harus membekali siswa dengan berbagai strategi menulis pada setiap tahapan aktivitas menulis yang dilakukan siswa. Melalui kolaborasi peran guru dan siswa ini, pembelajaran menulis diyakini akan mencapai hasil yang memuaskan. Tanpa peran kolaborasi ini, kemampuan siswa dalam menulis tidak akan berkembang dan tetap akan rendah.

Dalam prosesnya, pembelajaran menulis hendaknya diarahkan pada upaya membina kemampuan siswa untuk menulis berbagai genre tulisan untuk berbagai tujuan, berbagai sasaran baca, dan berbagai konteks sosial budaya. Sejalan dengan tuntutan ini, pembelajaran menulis selayaknya dikemas melalui penciptaan sejumlah aktivitas-aktivitas aktif kreatif yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran. Aktivitas aktif kreatif ini juga jangan hanya yang bersifat mereproduksi tulisan melainkan harus lebih terarah pada proses produksi tulisan yang asli dan memiliki daya kreativitas yang tinggi.

A Pembelajaran Menulis dan Masalahnya

Pembelajaran menulis sampai saat ini masih menjadi bahan penelitian yang digemari. Kondisi ini sejalan dengan kenyataan bahwa pembelajaran menulis masih menyisakan sejumlah masalah serius. Salah satu masalah serius tersebut adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menulis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis sejak tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi masih memprihatinkan. Sejalan dengan kenyataan ini, seorang sastra terkemuka negeri ini mengatakan bahwa bangsa Indonesia rabun membaca dan lumpuh menulis.

Pernyataan di atas tentu saja tidaklah berlebihan. Rata-rata siswa sekolah dasar sampai kelas enam belum mampu menulis secara mandiri dengan hasil yang memuaskan. Kondisi ini terjadi pula sekolah menengah bahkan perguruan tinggi. Hal yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa kemampuan mahasiswa dalam menulis makalah sangat rendah dan bahkan cenderung plagiat dengan mencuplik berbagai materi secara bebas dari internet tanpa mencantumkan sumber kutipan. Sekaitan dengan kenyataan ini, pembelajaran menulis masih memiliki nilai merah dalam pembelajaran bahasa.

Rendahnya kemampuan siswa dalam menulis disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang dominan adalah rendahnya peran guru dalam membina siswa agar terampil menulis. Pembelajaran menulis yang seharusnya membina para siswa untuk berlatih mengemukakan gagasan masih belum secara optimal dikembangkan dan bahkan dianggap sebagai pembelajaran yang menyenangkan bagi guru sebab selama siswa menulis guru bisa bersantai di dalam ruang kelas bahkan meninggalkan ruang kelas untuk berbicara dengan guru lain di ruang guru. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan guru tidak memberikan penilaian secara tepat kepada siswa dalam hal kemampuan menulis. Hasil tulisan siswa terkadang hanya dinilai dari jumlah paragraf yang dihasilkan, kerapian tulisan, dan faktor lain yang tidak esensial. Penilaian yang demikian jelas bukanlah sebuah penilaian yang berfungsi membangun kemampuan menulis siswa bahkan sebaliknya bisa menghancurkan kemampuan menulis siswa yang sesungguhnya.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

Kondisi lain yang menyebabkan kemampuan siswa dalam menulis masih rendah adalah kurangnya sentuhan guru dalam hal memberikan berbagai strategi menulis yang tepat. Guru terkesan menganggap menulis merupakan pekerjaan yang sulit sehingga jika siswa sudah menulis walaupun hasilnya belum bagus sudah dianggap memenuhi kompetensi yang diharapkan tanpa memberikan batuan langsung kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya menulis. Di sisi lain, ada pula yang menganggap menulis adalah pekerjaan yang mudah sehingga tanpa bimbingan pun siswa sudah bisa menulis. Kondisi ini tentu saja tidaklah tepat sebab seharusnya seorang guru harus membimbing siswanya menulis setahap demi setahap sesuai dengan proses menulis itu sendiri. Melalui pembelajaran yang demikian siswa akan mengetahui secara tepat kelemahannya selama menulis dan atas dasar ini siswa akan memperbaikinya guna menghasilkan tulisan yang lebih baik.

Kondisi lain yang menyebabkan siswa kurang mampu menulis adalah penggunaan pendekatan menulis yang kurang tepat. Sampai saat ini masih banyak para guru mengajarkan menulis dengan menggunakan pendekatan gramatis sebagai pendekatan utamanya. Penggunaan pendekatan ini sebagai pendekatan utama menyebabkan siswa enggan menulis sebab ia harus terlebih dahulu banyak belajar tentang tata bahasa. Dalam praktiknya, guru yang menggunakan pendekatan ini secara dominan akan cenderung memberikan penguatan tata bahasa dalam menulis dibanding dengan bagaimana siswa mengemukakan gagasan dalam menulis agar lebih baik. Akhirnya, siswa mungkin pandai bertata bahasa namun lemah dalam isi.

Pembelajaran lain yang masih kerap dijumpai adalah pembelajaran menulis yang berpola pikir, tulis, kontrol. Pola pembelajaran menulis seperti ini seperti tidaklah salah. Namun dalam kenyataannya banyak banyak siswa yang terlalu banyak berpikir sehingga ia tidaklah sempat menulis. Kondisi ini sejalan dengan banyak siswa yang sulit sekali menentukan kalimat pertama dalam sebuah karangan. Lebih jauh tulisan tidak pernah selesai karena banyak pemikiran yang rumit sehingga baru menulis satu dua paragraf, siswa merasa tulisannya belum layak sehingga mereka memilih menulis lagi dari awal. Akhirnya tulisan tersebut tidak bisa diselesaikan siswa. Kondisi lain adalah tulisan yang dihasilkan berputar-putar tidak jelas sebab mereka takut ke luar dari tema yang ditentukan guru. Melihat kenyataan ini, pola pembelajaran menulis pikir, tulis, kontrol, seyogyanya diganti dengan pola tulis, pikir, dan kontrol. Tulis saja, apa saja, di mana saja, kapan saja, barulah revisi dengan berpikir, dan edit melalui kontrol ejaan dan pedoman teknis penulisan lainnya.

Melihat kondisi di atas, ekologi pembelajaran menulis di sekolah harus segara diperbaiki. Pembelajaran menulis seyogyanya dikembalikan pada orientasi yang benar yakni siswa mencintai menulis, bisa menulis, dan kreatif menulis. Guna mencapai orientasi ini, diperlukan berbagai perubahan dalam pola pembelajaran menulis. Dalam hal ini, guru harus mampu memilih metode menulis yang tepat, menggunakan berbagai media yang mendukung, dan meluruskan niatnya bahwa ketika mengajar menulis, hal yang harus dilakukan siswa adalah menulis bukan mengetahui teori tentang menulis. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran menulis yang mampu mengembangkan kemampuan siswa menulis sekaligus membangun karakter para siswa? Sejalan dengan rumusan masalah ini, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan proses pembelajaran menulis yang mampu mengembangkan kemampuan siswa menulis sekaligus membangun karakter para siswa.

B Konsep Dasar Pembelajaran Menulis

Menulis dapat didefinisikan melalui berbagai sudut pandang. Dalam sudut pandang yang paling sederhana, menulis dapat diartikan sebagai proses menghasilkan lambang bunyi. Pengertian semacam menulis ini dikenal sebagai menulis permulaan. Pada tahap selanjutnya menulis dapat bersifat lebih kompleks. Menulis pada dasarnya adalah proses untuk mengemukakan ide dan gagasan dalam bahasa tulis. Oleh sebab itu, Akhadiah (1999) memandang menulis adalah sebuah proses, yaitu proses penuangan gagasan atau ide ke dalam bahasa tulis yang dalam praktiknya proses menulis diwujudkan dalam beberapa   tahapan yang merupakan satu sistem yang utuh. Lebih lanjut, Gie (2002) menyatakan bahwa menulis memiliki kesamaan makna dengan mengarang yaitu segenap kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dari definisi ini dapat dikemukakan bahwa menulis adalah sebuah proses berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembacanya. Sebuah tulisan dibuat untuk dipahami maksud dan tujuannya sehingga proses yang dilakukan penulis tidaklah sia-sia.

Dalam sudut pandang lain, menulis dapat pula dikatakan sebagai kegiatan mereaksi artinya menulis adalah proses mengemukakan pendapat atas dasar masukan yang diperoleh penulis dari berbagai sumber ide yang tersedia. Sumber ide bisa saja adalah segala objek yang yang mampu merangsang penulis untuk menulis termasuk di dalamnya tulisan lain yang telah dihasilkan orang lain. Dalam kaitannya tulisan hasil orang lain yang mendorong seseorang menulis, tulisan yang dihasilkannya dikenal dengan istilah tulisan reproduksi. Menulis juga didefinisikan sebagai aktivitas menghasilkan pesan dalam dimensi sosial dan untuk tujuan tertentu. Menulis dalam hal ini ditafsirkan sebagai aktivitas membuat makna yang berhubungan dengan pengembangan kemampuan individu dalam memahami konteks sosial budaya tempat tulisan tersebut dibuat. Menulis dengan kata lain adalah kemampuan memahami konteks sosial budaya masyarakat.



Berdasarkan gambar di atas, menulis pada dasarnya adalah sebuah proses. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa produk menulis yang dihasilkan seorang penulis diproduksi melalui berbagai tahapan. Tahapan tersebut terbentang dari tahap pemerolehan ide, pengolahan, ide hingga pemroduksian ide. Pada tahap pemerolehan ide, penulis mendayagunakan kepekaannya untuk mereaksi berbagai fenomena hidup dan kehidupan manusia yang diketahuinya melalui berbagai peranti pemerolehan ide. Sejalan dengan hal tersebut, kemampuan menulis diawali oleh kemampuan seseorang melatih daya tanggapnya terhadap sumber ide. Oleh karenanya, untuk menjadi seorang penulis, seseorang harus senantiasa mengembangkan keterampilan daya tanggap sasmitanya. Bertemali dengan proses ini, menulis dapat dikatakan sebagai proses mereaksi sebuah fenomena melalui produksi bahasa tulis.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

Tahap kedua dalam proses menulis adalah tahapan pengolahan ide. Pada tahap ini penulis akan mendayagunakan beberapa kemampuan meliputi kemampuan berpikir, kemampuan berasa, dan kemampuan berimajinasi. Penggunaan jenis kemampuan ini akan sangat bergantung pada tujuan tulisan yang akan diproduksi. Kemampuan imajinasi misalnya, akan sangat diberdayakan untuk menulis sebuah karya yang bertujuan untuk menghibur atau memberikan daya sugesti kepada para pembaca. Kemampuan berpikir digunakan pada setiap tujuan penulisan. Oleh karenanya, banyak para ahli yang memandang bahwa menulis pada dasarnya adalah proses berpikir yakni proses yang melibatkan kemampuan berpikir untuk menghasilkan pesan tertulis bagi para pembacanya. Demikian pula kemampuan berasa akan digunakan secara optimal ketika seorang penulis bermaksud memproduksi sebuah tulisan yang bertujuan untuk memengaruhi orang lain dengan mengoptimalkan peranti daya bujuk berupa perasaan penulis.

Pada tahap pengolahan ide, selain mendayagunakan ketiga peranti kemampuan tadi, penulis juga akan menggunakan kemampuannya berkontemplasi guna memberikan makna dan nilai pada tulisan yang diproduksinya. Kemampuan berkontemplasi ini akan sangat berhubungan dengan latar belakang penulis yang antara lain keyakinan, pandangan hidup, agama, tata nilai dan norma sosial budaya, latar belakang pendidikan, dan pandangan politik penulis serta berbagai unsur eksternal lainnya yang bersentuhan dengan penulis. Hasil dari kegiatan kontemplasi ini adalah bahwa sebuah tulisan akan memiliki muatan filosofis, religius, dan nilai makna kehidupan lainnya yang sangat berguna bagi pembaca. Sejalan dengan proses ini, menulis juga dapat dikatakan sebagai proses kontemplasi yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan gagasan yang bermanfaat dan bernilai bagi pembacanya.

Tahap ketiga yang harus dilakukan penulis dalam proses menulis adalah tahapan produksi ide. Pada tahap ini penulis akan menggunakan peranti produksi ide yakni pengetahuan bahasa dan pengetahuan konvensi karya. Pengetahuan bahasa merupakan peranti utama yang digunakan oleh penulis dalam mengemas gagasan yang telah diolahnya. Melalui penggunaan pengetahuan atau kemampuan berbahasa ini sebuah ide dikemas sesuai dengan tujuannya serta memenuhi  asas ketatabahasaan yang berterima di kalangan pembacanya. Pengetahuan konvensi karya di sisi lain akan digunakan untuk mengemas gagasan agar sesuai dengan genre tulisan yang akan dihasilkan. Dalam menulis puisi misalnya, seorang penulis akan menggunakan pengetahuannya tentang bahasa khususnya gaya bahasa dalam mengemas idenya sehingga tulisannya akan mencerminkan penggunaan bahasa yang khas, padat, dan bermakna. Selain itu, ide tersebut selanjutnya akan dikemas dengan menggunakan pengetahuannya tentang konvensi puisi sehingga tulisan yang diproduksinya dapat berterima sebagai sebuah puisi. Gambaran penggunaan peranti produksi ini juga sama halnya jika seorang penulis bermaksud menghasilkan berbagai macam tulisan pada genre-genre yang lain.

Setelah ketiga proses tersebut diselesaikan penulis akan dihasilkan produk menulis yakni tulisan itu sendiri. Produk menulis yang dihasilkan akan sangat beragam baik dari segi tujuan, genre, maupun sasarannya. Namun demikian, seluruh produk menulis ini pada dasarnya bertujuan untuk menjalin komunikasi antara penulis dengan pembacanya. Atas dasar inilah, wajar jika Gie (2002) memandang menulis merupakan kegiatan menjalin komunikasi tidak langsung dengan pembaca melalui penggunaan media tulisan yang dihasilkan. Berdasarkan sudut pandang teknis menulis Tomkins dan Hosskinson (1991) menguraikan proses menulis menjadi lima tahap yakni: tahap pramenulis, tahap pembuatan draf, tahap editing, tahap revising, dan tahap publikasi.

Bertemali dengan pengertian menulis sebagai proses di atas, pembelajaran menulis haruslah ditafsirkan sebagai sebuah proses yang ditujukan untuk mengembangkan serangkaian aktivitas siswa dalam rangka menghasilkan sebuah tulisan di bawah bimbingan, arahan, dan motivasi guru. Sejalan dengan definisi ini, pembelajaran menulis seyogyanya dikembangkan melalui beberapa tahapan proses menulis sehingga siswa benar-benar mampu menulis sesuai dengan tahapan proses yang jelas. Di sisi lain, guru juga harus membekali siswa dengan berbagai strategi menulis pada setiap tahapan aktivitas menulis yang dilakukan siswa. Melalui kolaborasi peran guru dan siswa ini, pembelajaran menulis diyakini akan mencapai hasil yang memuaskan. Tanpa peran kolaborasi ini, kemampuan siswa dalam menulis tidak akan berkembang dan tetap akan rendah.

C Orientasi Pembelajaran Menulis


Secara esensial minimalnya ada tiga tujuan utama pembelajaran menulis yang yang dilaksanakan para guru di sekolah. Ketiga tujuan tersebut adalah (1) menumbuhkan kecintaan menulis pada diri siswa, (2) mengembangkan kemampuan siswa menulis, (3) membina jiwa kreativitas para siswa untuk menulis. Ketiga tujuan ini merupakan tujuan minimal yang harus dicapai para siswa melalui proses pembelajaran menulis yang dialaminya (Abidin, 2012).

Tujuan pertama pembelajaran menulis adalah menumbuhkan kecintaan menulis pada diri siswa. Tujuan ini menjadi sangat penting sebab mencitai menulis adalah modal awal bagi siswa agar mau menulis sehingga ia akan menjadi seorang yang terbiasa menulis. Hal ini sejalan dengan hakikat menulis sebagai keterampilan sehingga untuk dapat menguasai menulis sebagai sebuah keterampilan intensitas dalam menulis merupakan faktor kuncinya. Dengan kata lain kemampuan menulis sangat dipengaruhi intensitas menulis. Semakin sering seseorang menulis diyakini akan semakin baik pula hasil tulisannya. Guna mencapai intensitas menulis yang tinggi ini, para siswa tentu saja harus terlebih dahulu mencintai menulis.

Modal dasar mencitai menulis diyakini akan mendorong siswa mampu menulis. Kemampuan siswa menulis ini merupakan tujuan pembelajaran menulis yang kedua. Kemampuan menulis yang dimaksud adalah kemampuan siswa memproduksi berbagai ragam tulisan untuk berbagai kepentingan, sasaran, dan konteks sosial budaya. Berdasarkan tujuan ini, pembelajaran menulis harus diarahkan agar mampu membekali siswa berbagai strategi menulis, macam-macam tulisan, serta sarana publikasi tulisan. Melalui pemberian strategi menulis, siswa akan terhindari dari kesulitan selama menulis. Pengenalan macam-macam tulisan akan membekali siswa tentang bagaimana cara menulis berdasarkan genre yang harus dihasilkan. Pengenalan sarana publikasi sangat penting agar siswa merasa tulisannya diapresiasi sehingga akan timbul keinginannya untuk tetap menulis serta meningkatkan kemampuannya menulis sebab mendapatkan banyak umpan balik atas tulisan yang telah dipublikasikannya.

Tujuan terakhir adalah agar siswa mampu menulis secara kreatif. Tujuan ini menghendaki agar siswa mampu menjadikan menulis bukan sekadar sebagai kompetensi yang harus dikuasai selama mengikuti pembelajaran, melainkan agar siswa mampu memanfaatkan menulis sebagai sebuah aktivitas yang mendatangkan berbagai keuntungan baik keuntungan yang bersifat psikologis, ekonomis, maupun sosiologis. Bertemali dengan hal ini, menulis seyogyanya menjadi sebuah kebutuhan bagi siswa dalam rangka mengekspresikan diri sehingga terbebas dari beban-beban psikologis. Jika siswa telah mencapai taraf ini, menulis bukanlah hal yang menakutkan melainkan hal yang harus dilakukan agar ia merasa tenang dan termotivasi dalam hidup. Dalam pandangan ekonomis menulis juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mendapatkan berbagai keuntungan melalui menulis. Siswa yang telah mampu kreatif menulis dapat memublikasikan tulisannya dalam berbagai media yang akan berdampak secara finansial bagi dirinya. Lebih jauh, publikasi ini akan meningkatkan prestisenya di masyarakat sehingga secara sosiologis ia akan terkenal di masyarakat. Guna mencapai tujuan ini, jelaslah pembelajaran menulis harus diorientasikan agar siswa bukan hanya bisa menulis melainkan kreatif menulis.

Selain ketiga tujuan di atas, pembelajaran menulis pun seyogyanya mampu mengembangkan karakter siswa. Berkenaan dengan tujuan ini, pembelajaran menulis harus dilakukan melalui penyediaan serangkaian aktivitas yang menuntut siswa mengunjukkerjakan karakter dirinya selama pembelajaran. Melalui berbagai aktivitas yang menantang diharapkan siswa mampu aktif bekerja keras sehingga secara tidak sadar ia telah berupaya pula membangun karakter positif selama pembelajaran.

Bertemali dengan tujuan pembelajaran menulis di atas, ada beberapa konsekuensi yang harus dilakukan guru selama pembelajaran menulis. Beberapa konsekuensi tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Guru hendaknya menguasai berbagai strategi menulis, konsep jenis-jenis tulisan, dan media publikasi bagi wahana tulisan yang dihasilkan siswa.
  2. Guru hendaknya terbiasa menulis agar ia mampu menjadi model menulis bagi para siswanya.
  3. Selama pembelajaran menulis, guru hendaknya senantiasa melatih seluruh kemampuan siswa sejak dari tahap penangkapan ide sampai tahap penyampaian ide.
  4. Selama pembelajaran menulis, guru hendaknya senantiasa memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi agar siswa terpacu untuk mampu menulis.
  5. Pembelajaran menulis hendaknya tidak dibatasi ruang kelas melainkan dilakukan di mana pun agar siswa bisa terfokus menulis.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 1463560147813139406

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item