Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)


D Prinsip Pembelajaran Menulis


Dalam rangka mewujudkan pembelajaran menulis yang harmonis, bermutu, dan bermartabat, harus diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip pembelajaran menulis. Diharapkan prinsip-prinsip ini akan menjadi pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis sehingga mencapai tujuan yang dicita-citakan. Prinsip-prinsip pembelajaran menulis tersebut dikemukakan Brown (2001) sebagai berikut.

  1. Pembelajaran menulis harus merupakan pelaksanaan praktik menulis yang baik. Dalam hal ini guru harus membiasakan siswa menulis dengan mempertimbangkan tujuan, memperhatikan pembaca, menyediakan waktu yang cukup untuk menulis, menerapkan teknik dan strategi menulis yang tepat, dan melaksanakan menulis sesuai dengan tahapan penulisan.
  2. Pembelajaran menulis harus dilaksanakan dengan menyeimbangkan antara proses dan produk.
  3. Pembelajaran menulis harus memperhitungkan latar belakang budaya literasi siswa.
  4. Pembelajaran menulis harus senantiasa dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan whole language khususnya menggabungkan antara membaca dan menulis.
  5. Pembelajaran menulis harus dilaksanakan dengan menerapkan kegiatan menulis otentik seoptimal mungkin. Menulis otentik adalah menulis yang bermakna bagi siswa sekaligus dibutuhkan siswa dalam kehidupannya sehari-hari
  6. Pembelajaran menulis harus dilaksanakan dalam tiga tahapan yakni tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis.
  7. Gunakan strategi pembelajaran menulis interaktif, koperatif, dan kolaboratif.
  8. Gunakan strategi yang tepat untuk mengoreksi kesalahan siswa dalam menulis.
  9. Pembelajaran menulis harus dilakukan dengan terlebih dahulu menjelaskan aturan penulisan misalnya jenis tulisan, konvensi tulisan, dan retorika menulis yang bagaimana yang harus digunakan siswa selama tugas menulis.

Berdasarkan beberapa prinsip yang dikemukakan Brown di atas, jelaslah bahwa pembelajaran menulis harus dilakukan guru dengan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin. Pembelajaran menulis haruslah menekankan proses menulis yang sesungguhnya sehingga pembelajaran menulis tidak hanya sekadar menekankan pada produk menulis. Pembelajaran menulis pun harus dilakukan guru dengan mengaitkannya dengan keterampilan berbahasa yang lain khususnya membaca. Tulisan yang dibuat siswa haruslah tulisan otentik yang bermakna dan bermanfaat bagi siswa. Strategi pembelajaran interaktif, kolaboratif, dan kooperatif merupakan strategi yang memungkinkan siswa menulis secara tepat. Selanjutnya guru harus pula memberikan pengetahuan yang memadai tentang jenis tulisan, konvensi penulisan, retorika dalam menulis sehingga siswa mampu menulis sesuai dengan tujuan. Terakhir peran guru dalam memberikan umpan balik pada siswa sangat diperlukan. Guna melaksanakan peran ini guru harus memanfaatkan penilaian otentik atau penilaian formatif dalam pembelajaran menulis.

Selain beberapa prinsip di atas, masih terdapat beberapa prinsip lain lain pembelajaran menulis. Beberapa prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pembelajaran menulis hendaknya menerapkan pola tulis, pikir, kontrol, agar siswa terbiasa menulis dan mau menulis.
  2. Pembelajaran menulis hendaknya memiliki tujuan jangka panjang agar siswa kreatif menulis.
  3. Pembelajaran menulis hendaknya diikuti dengan penyediaan sarana publikasi tulisan sehingga siswa lebih termotivasi menulis.
  4. Pembelajaran menulis hendaknya disertai bentuk penilaian formatif yang tepat sehingga guru dapat secara tepat sasaran memperbaiki kelemahan siswa dalam menulis.
  5. Pembelajaran menulis hendaknya menekankan kreativitas siswa dalam menulis meliputi kemampuannya menulis secara orisinal, lancar, luwes, dan bermanfaat.
  6. Pembelajaran menulis hendaknya dilengkapi dengan pemanfaatan teknologi dalam menulis.

 Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

Bertemali dengan prinsip-prinsip pembelajaran menulis di atas, guru harus benar-benar meningkatkan kompetensinya dalam hal menulis. Kompetensi yang dimaksud adalah kemampuannya menulis secara langsung dan pengetahuannya tentang teori menulis. Selain itu, guru harus secara kreatif menciptakan proses pembelajaran menulis yang mendorong motivasi intrinsik siswa berkembang sehingga siswa terpacu untuk mau dan bisa menulis. Yang tak kalah penting adalah guru harus menerapkan proses pembelajaran menulis secara tepat berbasis proses menulis yang sesungguhnya.

E Prosedur Pembelajaran Menulis

Sebagaimana pembelajaran keterampilan berbahasa yang lain, prosedur pembelajaran menulis terdiri atas tiga tahapan yakni tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Tahap pramenulis adalah tahapan yang dilakukan siswa untuk mempersiapkan diri dalam menulis. Tahap menulis adalah tahapan tempat siswa secara langsung melaksanakan praktik menulis. Tahap pascamenulis adalah tahapan yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki hasil tulisannya dan akhirnya memberikan kesempatan bagi siswa untuk memublikasikan produk tulisan yang dihasilkannya. Ketiga tahapan tersebut selanjutnya diuraikan sebagai berikut.

Brown (2001) mengemukakan bahwa pada tahap pramenulis siswa dapat melakukan berbagai aktivitas menulis. Beberapa aktivitas dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Membaca dan menyimak untuk menulis. Siswa membaca atau menyimak secara ekstensif sebuah teks guna beroleh ide untuk menulis.
  2. Curah pendapat. Siswa mencurahkan pendapatnya tentang sebuah objek yang akan dijadikan bahan tulisannya.
  3. Mendiskusikan ide. Siswa bersama teman kelompoknya membicarakan tentang sebuah ide yang akan dikembangkan.
  4. Siswa menjawab pertanyaan pancingan guru sebagai dasar ia menulis.
  5. Melaksanakan penelitian ke luar ruangan. Siswa melakukan eksplorasi di luar kelas untuk menemukan sumber ide.
  6. Siswa atau guru memberikan beberapa kata kunci sebagai bahan dasar menulis.

Sejalan dengan apa yang dikemukakan Brown, Sorenson (2010) mengemukakan beberapa alternatif aktivitas pramenulis sebagai berikut.

1. Mengumpulkan pikiran informasi;

  • membaca beragam bacaan untuk mengumpulkan informasi
  • diskusi kelompok
  • wawancara terhadap narasumber
  • refleksi diri
  • membaca jurnal atau catatan harian yang telah dibuat
  • curah pendapat
  • membuat daftar ide
  • membuat organisasi ide melalui grafik
  • mengingat pengalaman sehari-hari yang didengar dan dilihat
  • mengingat pengalaman sehari-hari yang dilakukan sendiri
2. Menentukan dan menamakan topik. Topik yang dipilih hendaknya adalah hal yang paling dikuasai dan paling menarik bagi siswa.
3. Membatasi subjek/ atau topik.
4. Menentukan tujuan dan maksud penulisan.
5. Menentukan pembaca.
6. Membuat kerangka karangan

Aktivitas pramenulis yang dikemukakan Sorenson (2010) ini lebih memperluas kesempatan kepada siswa dalam rangka menentukan ide apa yang akan ditulis. Sebelum menulis siswa dapat melakukan berbagai kegiatan mengumpulkan ide baik berdasarkan pengalaman, penelitian, membaca dan menyimak, wawancara, dan curah pendapat. Selain itu aktivitas pramenulis yang tidak kalah penting dilakukan siswa adalah menentukan maksud dan tujuan menulis yang akan berhubungan dengan jenis tulisan yang akan dibuat serta sasaran tulisan yang dituju. Selain itu, siswa harus pula menyusun kerangka karangan karena kerangka karangan dianggap sangat berfungsi bagi siswa untuk memandu pengembangan ide, mengekonomiskan kinerja, dan mempermudah mengakhiri dan menyisipi ide lain yang dianggap perlu.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

Tahapan kedua dalam proses pembelajaran menulis adalah tahap menulis. Pada tahap ini aktivitas siswa adalah mengembangkan kerangka karangan yang telah dibuatnya. Siswa harus mengembangkan kerangka karangan tersebut dengan menggunakan kalimat dan paragraf yang baik. Dalam praktiknya tahap menulis ini dapat dilakukan secara individu, secara kolaboratif, dan atau secara kooperatif. Yang terpenting adalah bahwa seluruh siswa harus terlibat secara langsung dalam kegiatan menulis. Secara lebih mendetail, tahapan proses menulis pada tahap ini dikemukakan Sorenson (2010) sebagai berikut.

  1. Mempersiapkan diri.
  2. Mengikuti kerangka yang telah dibuat.
  3. Menggunakan pendekatan “yo-yo” yakni menulis dan sesekali melihat kembali tahapan pramenulis untuk menentukan secara tepat ide-ide penjelas.
  4. Membiarkan arus pikiran. Selama menulis jangan pernah memedulikan penggunaan ejaan, kesalahan kata, kalimat, dan paragraf, serta jangan melakukan kegiatan membaca tulisan yang belum selesai.
  5. Kembangkan paragraf berdasarkan teknik pengembangan paragraf yang baik.
  6. Tetaplah pada tema untuk menjaga kesatuan tulisan.
  7. Abaikan untuk sementara kesalahan-kesalahan detail khusus.
  8. Tulislah draf sekali jadi.

Tahap pascamenulis dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas. Brown (2001) mengemukakan beberapa kegiatan yang dapat dilakukan siswa dalam tahap ini sebagai berikut.

  1. Merevisi dan mengedit tulisan sendiri.
  2. Merevisi dan mengedit tulisan atas masukan guru.
  3. Merevisi dan mengedit tulisan atas masukan teman
  4. Pembacaan profesional.
  5. Publikasi tulisan.

Senada dengan aktivitas di atas, Sorenson (2010) mengemukakan beberapa aktivitas pascamenulis sebagai berikut.

  1. Lakukan pengecekan struktur seluruh paragraf untuk menentukan sudahkah tulisan dibagi dalam tiga kelompok besar yakni pendahuluan, isi, dan penutup.
  2. Lakukan pengecekan terhadap struktur paragraf.
  3. Lakukan pengecekan terhadap struktur kalimat.
  4. Lakukan pengecakan bagian-bagian penting yang ditekankan dalam tulisan.
  5. Lakukan pengecekan terhadap konsistensi baik isi, bahasa, ejaan, dan teknis menulis lainnya.
  6. Lakukan pembacaan profesional untuk menelaah kembali penggunaan tanda baca, tata bahasa, dan isi tulisan.
  7. Lakukan publikasi tulisan.

Sejalan dengan beberapa aktivitas yang dikemukakan Brown dan Sorenson, aktivitas penyuntingan dan pembacaan profesional pada tahap ini dapat dilakukan oleh siswa sendiri, dilakukan oleh temannya atau kelompok lain, dan juga dapat dilakukan oleh guru. Yang terpenting adalah bahwa seluruh koreksi yang dilakukan selanjutnya harus diperbaiki oleh siswa yang menulis sebelum karya tersebut dipublikasikan.

Tulisan bersambung:

1.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (1)
2.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (2)
3.    Pembelajaran Menulis dalam Gamitan Pendidikan Karakter (3)

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8310809317548284868

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item