Maafkan kami, Ya Rasulallah

Halimi Zuhdy, saat berkhutbah

Halimi Zuhdy

Kami menyebut nama indahmu dalam setiap majlis-majlis maulid, tapi kami kurang tawaduk menyebut asmamu. Kami teriak-teriak, dan kami lupa nama agungmu.

Nabi, maafkan kami, kami menceritakan akhlakmu yang menawan, tapi kami selalu lupa apa yang telah kami ucapkan. Kami bertemu saudara tidak senyum, lupa salam, bahkan dahi sering mengkerut dan ucapan kami sering menyakitkan.

Nabi, maafkan kami. Kami fasih bercerita keindahan akhlakmu, tapi akhlak kami tidak mencerminkan ucapan kami. Bagaimana mereka percaya tentangmu, kalau lidah kami tidak sesuai dengan perilaku kami. Bukankan bercerita tentang kebaikan, kami harus juga berperilaku baik.

Nabi, maafkan kami yang selalu marah-marah pada orang dan membangun permusuhan, sedangkan engkau tidak pernah melakukannya. Maafkan kami yang selalu berkata kotor, sedangkan engkau tidak pernah. Maafkan kami yang selalu bohong, culas, tidak amanah, jauh dari akhlakmu yang begitu menawan. Kami hanya bisa bercerita tentangmu. Tapi, kami tidak melakukankan. Apakah ini cinta atau hanya sekedar kata?

Maafkam kami ya Rasul, kami selalu menyebut namamu atas nama cinta, tapi cinta hanya sebatas mulut kami. Petunjukmu kami tak peduli. Akhlakmu sehari-hari, tidak kami ikuti. Minum, makan, buang air besar, tidak seperti engkau. Jarang shalat jamaah, jarang tersenyum, membedakan orang kaya dan miskin, suka mencela makanan, sombong, membanding-bandingkan orang, tidak mengucapkan salam, tidak menghadap kalau berbicara, cuek pada orang dan lain-lainnya. Tapi, kami fasih berbicara tentang akhlakmu ya Rasul.

Maafkan kami Ya Rasul. Engkau mengajari kami berbuat adil, tapi kami selalu dhalim. Ketika kami menjadi penguasa, keadilan itu sangat jauh, dalil sangat fasih kami ucapkan, tapi jarang kami lakukan. Sahabat jenengan, Abu Bakar dan Ustman takut sekali dengan kekuasaan, takut tidak amanah. Tapi, kami suka mencari kekuasaan kemudian jauh dari pesan-pesanmu ya Rasul. Maafkan kami.

Ya Rasul, kami tahu menyebutmu dapat pahala, tapi hanya sekedar menyebut namamu pun kami sering lupa, apakah terlalu banyak dosa yang telah kami lakukan? sehingga kami lupa. Apalagi melakukan sunnah yang engkau ajarkan pada kami, kami juga sering lupa. Kata-kata kami kasar pada anak-anak, pada keluarga dan bahkan pada guru-guru kami. Sering memalingkan wajah pada saudara kami. Kami tidak suka memaafkan orang lain. Kami selalu iri dan dengki pada orang, Ya Allah. Maafkan kami.

Maafkan kami.

Sumber: akun FB: Halimi Zuhdy

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4865495957933208713

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item