Sajak-Sajak Ruang Sunyi Feri Aprillah

 


Feri Aprillah
lelaki kelahiran Sumenep Madura, penggiat sastra. Alumnus MA Nasy'atul Muta'allimin Gapura. Mahasiswa aktif di STKIP PGRI Sumenep. Pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). Karya-karyanya di muat di beberapa media cetak maupun online.


*****

Tahun Lalu

Tahun lalu kau mengajakku berpuisi dengan binar-mata yang saga seperti senja, aku sangat ingat betul saat kau menyetubuhi tiap larik dalam sajak itu.
"Jika kau menjadi langit, maka aku adalah bulan dan bintang".
Satu bait puisi mu, tidak lekang di alam pikir.Ia terus menerus bergentayangan bersamaan dengan wajah ranummu. Yang perlahan-lahan menjelmakan rindu, mengancam untuk menggelar temu.

Tahun lalu kau mengajakku berpuisi pada senja yang membias di kerudung mu, pada awang-awang yang memayungi tubuh mungil mu. Aku sangat ingat, bahkan aroma minyak yang kau kenakan berbaur dengan semilir angin mengendus dalam lubang hidung.

Aku juga membaca satu bait puisi padamu,
"Kekasih, kau jangan  pergi—aku takut akan luka, sebab terluka hati perihnya melebihi sayatan pedang atau duri".
Lalu kau juga turut menyambung satu bait puisi,
"Wahai, kekasihku.Cinta bukan antara pergi dan temu, cinta adalah sebuah kenikmatan yang tiada diikat oleh apapun"

Tahun lalu kau mengajakku berpuisi, hingga akupun mengerti bahwa cinta bukan hanya rotasi atau intonasi. Cinta adalah kenikmatan yang tak terikat apapun.
Terimakasih, atas cinta yang kau beri—semoga cinta itu membimbing kita ke jalan surgawi.

 Ruang sunyi, 2022.



Malaikat ku
Kepada ibu tercinta

Di pengunungan yang di selimuti gumpalan awan. Aku melihat, wajah perempuan yang selalu merawat tanpa pamrih. Gemericik air terjun bergiliran menjatuhkan diri ke sendang, juga kicauan anak burung dalam sarang menunggu ibunya persis saat diriku kecil merengek-rengek meminta susu dari dua puting yang bergelantungan di busung dada ibu.

"Makhluk titipan Tuhan, yang selalu tersenyum ketika melihat ku, yang tak kenal lelah demi melihat bahagia menyetubuhi ku, yaitu perempuanku sebut: Ibu".

Ibu, ialah jelmaan tuhan bagiku, selalu hadir di tiap waktu, bayang-bayangnya tidak lekang bila aku jauh dari dekapan hangat milik ibu.

Di pengunungan yang di selimuti gumpalan awan. Aku melihat, ibu berdiri di langit dan menatapku dengan tersenyum. Tapi kadang kala, mulut busuk ini selalu menanam luka di dada ibu(hati). Namun ia tetap tersenyum dan menegurku dengan lembut. Saat aku jauh darinya, saat itu jua aku merasa kehilangan kehangatan, kemanjaan, juga kepedulian. Akupun berucap pada langit-langit, dan bumi yang terbentang.
"Wahai langit, yang selalu aku pandang dan bumi yang selalu aku jejal. Tolong jaga malaikat ku(ibu), sebab aku tidak ingin ia bersedih, sebab aku tidak mau melihat cucur air matanya mengalir di pipi kerutnya. Jaga dia, seperti kau menjaga bintang -rembulan, seperti kau yang menjaga hamparan gunung dan pekarangan!!".

Ruang sunyi, 2022.



Pada Malam

Pada malam, yang selalu menemani tidurmu.
Pada rembulan menyinari wajah ranummu juga bintang -gemintang yang bertengger di pucuk keningmu, serta bekas kecupan manis yang mulai hilang perlahan di kikis waktu, apakah belum menyakinkan mu, bahwa aku mencintaimu dengan sangat!!.

Kaupun berdalih: "aku heran pada lelaki yang baru ku kenal seminggu, lalu mengucapkan"bahwa mencintai ku". Mengajak untuk bertamasya ke jenjang serius (nikah). Takut-takut lelaki itu hanya penasaran pada ku!!".

Memang, cinta butuh waktu namun apakah salah? Mencintai seseorang dengan waktu yang cepat, bukankah cinta di tanam oleh sang maha pencipta cinta? Lalu
Akupun berucap:"wahai perempuan, yang selalu hadir di lubuk hati ku, yang tidak percaya akan cinta ku, yang menganggap bahwa penasaran semata.lihatlah baik-baik dan resapi tiap saat mata ini memandang mu, apakah belum kau bisa membaca itu, bukankah kau adalah mahluk perasa yang mengandalkan perasaan? Mengapa sekarang kau terlihat tidak mahir dalam menilai perasaan?".

Pada malam yang selalu menjaga mu.
Aku bersumpah, bahwa cinta itu benar-benar tulus untuk mu. Bukan semata-mata hanya penasaran, atau nafsu syahwat ku.

Ruang sunyi, 2022.



Menunggu


Bukan takut untukku jejal, apalagi untuk di jelang tapi perempuan itu tidak mempunyai rasa yang sama seperti di busung dada ku (hati). Waktu, belum mengizinkan. Jarak, pun sama. Mereka, menunggu perintah dari sang pencipta cinta.

"Aku akan selalu mencintaimu, meski kau belum ditanamkan benih cinta oleh tuhan, sebab rasa cinta ini titipan dari ilahi, untuk dijaga dan  dipelihara dalam hati!!
Aku percaya suatu saat benih cinta akan jua tumbuh dan mekar di busung dadamu, seperti bunga yang kau siram tiap mentari menghangatkan pipi mu".

Bukan takut untuk ku jejal, apalagi untuk di jelang. Sebab katanya cinta butuh ruang waktu, maka dari itu semuanya akan tertakar tanpa tertukar sebab kadang tuhan Suka bercanda, kepada kita. Apalagi pada cinta!

"Aku percaya, cinta akan perlahan tumbuh di relung hati mu. Mula-mula ia memang malu-malu namun aku percaya, perlahan malu-malu itu terkikis oleh bias cinta ku.
Aku akan terus menunggu, seperti siang menunggu malam, seperti fajar menunggu senja, seperti bulan menunggu bintang. Aku akan terus menunggu dan mencintai mu".

Ruang sunyi, 2022.




Berguru Pada Daun

Di bawah pohon rindang, aku termangu menatap diri yang kerdil. Nyala azam di lubuk hati nyaris padam, lelah untuk melakukan perjuangan. namun tiba-tiba daun menatap sambil memekik.
“dasar, manusia. Di beri masalah sedikit sudah mengeluh. Sudah ingin putus asa. di kala senang malah lupa pada dia!”.
Mendengar tutur daun yang ngoceh, akupun membalas dengan bertanya,
“apa yang kau ketahui tentang hidup?”. Kau hanya daun, yang gugur ketika kemarau; diterpa angin kencang!!. Jangan coba-coba menggurui!!”.
Spontan daun tertawa terbahak-bahak. Setelah reda dari tawanya ia pun bertutur, seperti layaknya guru menasehati seorang murid.
“hei manusia, aku tidak ingin menggurui; tapi jika kau merenung sejenak dan lihat ketika aku di terpa angin dan gugur ke bentala seperti yang kau ucap tadi, apa kau tidak berpikir? Atau pura-pura tidak mau berpikir?”.
“ha, apa maksud dari perkataanmu itu?”.
Bingung, aku makin bingung di buat daun.
Kemudian daun itu, terdiam. Lalu setelah itu ia menjabarkan, ucapannya!.
“lihatlah pohon rindang ini, yang melindungi dari terik mentari, menyejukkan. Ia tidak akan rindang bila aku pergi, bukan?”. Coba berpikir lagi ketika aku perlahan jatuh meliuk lalu di terbangkan lagi oleh angin!. Bukankah kau dapat belajar  tentang kesabaran dan ketabahan?. bahkan aku rela menanggalkan setelah tugas selesai, sedang aku memberikan manfaat bagi pohon juga reranting?. Aku rela pergi dari pohon yang selama ini jadi tempat tinggalku; lalu kau hanya mengeluh dan berputus asa karena masalah yang tidak kau atasi?. Cobalah berpikir. Cobalah. Cobalah!”.
Hening……
Angin tiba-tiba berhembus membelai rambut juga daun. Sedang akal berdiskusi dengan hati.
Seketika—akupun berdiri dan menatap daun. Lalu berucap lantang!!,
“ya, benar kau daun!!. Aku tidak akan berputus asa lagi dan mengeluh. Kau adalah guru bagiku,dan semoga manusia-manusia lain juga bengitu”.

Ruang,sunyi. 2022.

Catatan : tulisan ini terispirasi dari buku yang sangat memotivasi” SESEKALI KITA BUTUH SEPI” . karangan ikhsanudin.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8968875834588860501

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item