Sosok “Ibu” dalam Puisi Jiwa


Ade Tiya Putri*


Banyak orang yang mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaannya ke dalam sebuah puisi. Menulis puisi dapat membuat perasaan menjadi lebih baik, karena dengan menulis puisi penyair  bisa meluapkan isi hati atau perasaannya baik itu kemarahan, kebahagiaan ataupun hal yang lainnya. Selain itu menulis puisi juga bisa meningkatkan kreativitas seseorang, karena dengan menulis dia bisa menyusun kata-kata yang puitis namun bermakna.

Dari seorang penyair bernama Siti Yulistin, saya menemukan puisi yang mudah dipahami karena kata-katanya sangat sederhana. Kumpulan puisinya berjudul Puisi Jiwa (Omera Pustaka: 2021). Di dalam buku tersebut memuat 24 puisi yang berisi ide, gagasan dan ungkapan perasaan dari penyairnya. Setelah membaca Antologi Puisi Jiwa karya Siti Yulistin, mengingatkan saya pada puisi tentang ibu karya Kahlil Gibran. Puisi Kahlil Gibran yang berjudul Ibu mengungkapkan bahwa sosok ibu baginya adalah segalanya, ibu yang memberi cinta dan kasih sayang sepanjang masa dan menggambarkan bahwa sesuatu yang ada di alam ini melukiskan tentang ibu.

Puisi Siti Yulistin yang berjudul Ibu yang Tahu Diriku adalah salah satu puisi yang menggambarkan seorang ibu yang selalu sabar merawat anaknya, ibu yang selalu tahu segalanya tentang anaknya. Dalam puisi tersebut penyair menggambarkan sosok ibu dengan kondisi-kondisi dan hal-hal yang dialami oleh seorang ibu pada umumnya. Kata-kata yang sederhana itu, ia tuangkan dalam sebuah puisi yang bermakna. Hal ini seperti terlihat dalam kutipan berikut ini.

“Saat ibu baru memejamkan mata/ pecah tangi si kecil dengan nyaring/ Dalam keadaan kantuk sekalipun/ harus menggendongnya penuh cinta/ Bagaimana rasanya?/ Hanya ibu yang tahu”
“Saat badan lemah kehabisan tenaga/ ingin mandi menghilangkan kepenatan/ mumpung anak-anak anteng di kamar.../ Belum sempat memakai sabun/ anak sudah nangis berantem/ berebut mainan/ Kacaulah acara mandi ibu/ Sambar handuk walau daki masih menempel/ pada badan yang lelah/ Bagaimana rasanya?/ Hanya ibu yang tahu”
“Saat ingin beribadah dengan khusyuk/ anak-anak mulai cari perhatian/ menarik-narik mukena/ mengacak-acak lemari pakaian/ Mumpung ibu tak berdaya loncat sana, loncat sini/ Punggung ibu dijadikan pelana/ Belum juga beres doa/ anak-anak semakin berkuasa/ Bagaimana rasanya?/ Hanya ibu yang tahu”


Pada kutipan di atas penyair mencoba mengawalinya dengan menggambarkan perjuangan seorang ibu yang harus menggendong anaknya walaupun dalam keadaan mengantuk. Selain itu penyair juga membawa pembaca dalam keadaan suatu rumah yang sangat rusuh karena si anak yang tidak pernah tenang, selalu bertengkar dengan saudaranya, dan juga mengganggu ibunya yang sedang salat. Penyair menggambarkan keadaan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata atau yang biasa dialami oleh para ibu di luar sana.

Selain puisi di atas, Siti Yulistin juga mengungkapkan ide atau gagasannya yang bertemakan tentang ibu dalam judul yang lain. Kali ini ia bukan berbicara tentang ibu yang selalu sabar dan mengetahui semua tentang anaknya. Tetapi puisi kali ini berbicara tentang duka seorang anak yang kehilangan ibunya. Puisi tersebut berjudul Mengapa Kau Pergi Dariku dan berikut adalah kutipan puisinya:

“Ibu, oh, Ibu .../ Mengapa kau tinggalkan diriku?/ Mengapa, Ibu?
“Ya Allah .../ Mengapa Engkau panggil ibuku?/ Mengapa Ibu tinggalkan aku di usia dini?
“Ya Allah .../ Ampuni kesalahan ibuku/ berilah tempat di sisimu/
“Ibu ... Aku sangat merindukanmu Mengapa kau tinggalkan aku secepat ini? Ibu ../ Aku sangat mencintaimu

Dalam puisi tersebut tidak hanya menggambarkan seorang anak yang merasa kehilangan ibunya tetapi juga merindukan sosok ibunya. Tidak hanya itu, si anak juga selaku mendoakan ibunya, hal tersebut sebagai tanda cinta dan kasih sayang seorang anak kepada ibunya walupun mereka sudah tidak bersama lagi. Dari puisi tersebut juga mengajak para anak yang sudah ditinggal oleh orang tuanya untuk selalu mendoakan mereka karena itu merupakan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal.

Dalam puisi selanjutnya yang bertemakan tentang ibu, Siti Yulistin membicarakan tentang seorang anak yang mengenang kepergian ibunya yang telah meninggal. Pada puisi tersebut, walaupun si anak sudah kehilangan ibunya, tetapi dia harus tetap kuat dan semangat karena ibunya sudah tenang di alam sana. Berikut adalah kutipan puisinya yang berjudul Untukmu Ibu.

“Malam tanggal dua puluh dua/ Desember tahun ini/ mengingatkan kembali/ Ibu, tumpuan hidup sedari kecil/ hingga kini/ Tak terasa air mata mengalir/ hati menjerit ingin memanggilmu / Ibu ...”
“Namun, apa daya iman membuat sadar/ membangunkan lamunanku/ Kita harus kuat/ Biarlah Ibu sudah tenang/ bersama orang-orang beriman”

Dari puisi-puisi di atas, Siti Yulistin merangkai sebuah kata-kata yang sangat sederhana namun bermakna dan mudah dipahami. Kata-kata yang ditampilkan  itu bisa memunculkan suatu kelebihan dari seorang Siti Yulistin yang pandai merangkai kata-kata yang sederhana dalam mengungkapkan ide atau gagasannya. Pengambilan tema dalam puisi-puisinya juga dari hal-hal yang sering ditemui atau dialami oleh masyarakat luas , sehingga setelah membaca puisi tersebut pembaca bisa mengambil hal-hal baik yang bisa dicontoh untuk kehidupannya.

*****
*Ade Tiya Putri, lahir di Banjarnegara 16 Januari 2000. Mahasiswi program sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mauhammadiyah Purwokerto. Ia saat ini dinggal di Karanganyar, Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara. Ia dapat dihubungi melalui ig: ade_tiya16

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2513141574916276630

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item