Kekerasan dalam Novel “00.00” Karya Ameylia Falensia


Ananda Fitria Ramadhanti*

Hidup adalah sebuah perjalanan misteri yang penuh lika-liku. Rintangan yang datang silih berganti menghadang, kita sebagai manusia tidak bisa menentukan kisah mana yang akan kita pilih, meski kita sadar bahwa pahit manisnya kehidupan kan terus selalu berdampingan. Sejatinya manusia hanya perlu berusaha melawati setiap tantangan, meski pada akhirnya harus dipaksa untuk menerima segala hal yang tidak sesuai jalan kehidupan yang diekspetasikan.

Salah satu tantangan besar dalam kehidupan seseorang yang sering diperbincangkan ialah tindak kekerasan. Kekerasan diartikan sebagai perbuatan agresi dalam bentuk apapun itu, baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis, dan perlu dipahami bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Fenomena tindak kekerasan ini selalu mengundang pro dan kontra pada kehidupan Masyarakat.

Maraknya tindak kekerasan disekitar kita, memotivasi Ameylia Falensia untuk merepresentasikannya ke dalam sebuah Novel yang bertajuk 00.00 (Loveable, 2021). Ameylia Falensia menyajikan cerita dengan gaya bahasa yang terkesan ringan, mudah dipahami, tetapi berhasil membuat saya hanyut dan tersentuh pada setiap alur cerita yang disajikan. Ameylia Falensia memiliki keunikan dan kemenarikan tersendiri, dengan menambahkan beberapa quote menyentuh, yang membuat pembaca kagum dan memiliki ruang ingatan khusus terhadap novelnya. Novel yang berisi 280 halaman menceritakan kisah seorang tokoh yang menjalani kepahitan hidupnya ditengah dunia yang dianggapnya kejam. Novel ini memuat cerita yang mengandung tindak kekerasan orangtua pada anak. Ia menuangkan berbagai konflik permasalahan yang rumit yang silih berganti.

Tindak kekerasan orangtua terhadap anak dikemas dengan baik oleh Ameylia Falensia dalam novelnya, ia tidak hanya menampilkan permasalahan kekerasan saja akan tetapi didalamnya juga memberikan nilai-nilai positif dengan mengajak pembaca untuk selalu ikhlas, bersabar, bersyukur dalam menghadapi rintangan hidup sekaligus membangun kepercayaan, dukungan, dan menumbuhkan kasih sayang di lingkungan keluarga. Novel Ameylia Falensia bukan sekedar kumpulan konflik yang diimajinasikan saja, melainkan mengundang haru sekaligus rasa syukur terhadap pembaca, karena menyadarkan bahwa banyak orang yang tidak seberuntung kita dalam menjalani hidup.

Kekerasan yang dilakukan orangtua memberikan dampak yang cukup besar bagi seorang anak, dampak besar yang dialami berkaitan dengan luka fisik, luka batin hingga menyerang psikis. Seperti tokoh yang disuguhkan dalam novel ini, ia adalah Lengkara Putri Langit, seorang remaja SMA yang berusaha mempertahankan kehidupannya, dikala benteng pertahanan dari keluarga yang dianggapnya rumah, justru yang membuatnya hancur lebur. Seperti kutipan novel 00.00 yang ditulis Ameylia Falensia:

“Ketika dipukul mundur oleh realita, namun dipaksa menetap oleh  harapan. (Hlm.9)

Bagi tokoh Lengkara, hidup ini terlalu keras untuk dirinya yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Menceritakan seorang tokoh yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orangtuanya, tetapi lagi dan lagi ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi orangtuanya, yang dirasakan lengkara hanya berbagai bentuk kekerasan verbal dan non verbal seperti yang dilakukan Erik dan Nina selaku orangtua Lengkara. Seperti kutipan novel 00.00 Ameylia Falensia dibawah ini:

“Kamu gila, Kara!”

“Prang!” Nina kembali melempar piring kearah Lengkara, dan lemparan kali initepat sasaran. Piring itu mengenai wajah kara.

“Nyesel Mama ngelahirin kamu!”(hlm.21-23)

“Apa yang bisa saya banggakan dari kamu?!Tidak ada yang bisa saya banggakan!” Erik menoyor kepala anak perempuannya itu. Tendangan kuat mendarat dikepala lengkara, membuat kepala gadis itu menghantam lantai, Erik langsung melengos keluar dari ruang kerjanya, ia meninggalkan gadis itu begitu saja. (hlm 60-61)

Konflik yang muncul dalam cerita ini bersifat luas, artinya segala bentuk permasalahan yang berhubungan dengan tindak kekerasan digali secara cermat dan mendalam, seperti pada kutipan diatas, bentuk tindak kekerasan non verbal yang berhubungan dengan melukai secar fisik hingga verbal seperti cacian atau makian orangtua pada seorang anak yang dianggap sepele, justru menimbulkan luka batin yang teramat dalam hingga membekas sepanjang hidupnya.

Berangkat dari cerita tindak kekerasan verbal maupun non verbal yang dilakukan orangtua terhadap tokoh utama dalam novel yang dikisahkan Ameylia Falensia, didalamnya juga mengkaitkan dengan dampak dari tindak kekerasan yang menimpa korban kekerasan, tentunya dampak tersebut berhubungan erat dengan psikologis seseorang setelah mengalami tindak kekerasan baik verbal atau non verbal.

Penguasaan tema yang erat kaitannya dengan kekerasan membuat Ameylia Falensia leluasa mengarahkan ceritanya sehingga tulisannya berhasil mengundang kesedihan bagi pembaca, Bentuk kemenangan lain dari Ameylia Falensia mampu membuat novel yang unik dan berbeda, dimana judul dalam novel ini menunjukan waktu 00.00, yang tentunya jarang dijumpai pada novel yang lain, tak hanya itu, pada setiap sub bab yang disajikan juga sangat khas dimana, sub bab 00.00 menceritakan seuatu kejadian yang penting dalam novel tersebut.

Secara keseluruhan Ameylia Falensia telah berhasil menyampaikan pesan sekaligus nilai-nilai yang terkandung dalam ceritanya melalui suasana batin yang disalurkan melalui tulisan novelnya tentang tokoh Lengkara yang merasa tidak mengalami keadilan dalam kehidupannya, dirinya selalu merasa bahwa ia tidak diberikan kesempatan sedikitpun untuk merasakan bahagia. Meskipun begitu, bukan berarti karya Ameylia Falensia tidak memiliki kekurangan. Bagi saya, dengan bentuk konflik yang tiada hentinya dihadirkan pada tokoh utama, justru menjadikan cerita pada berapa sub bab terkesan monoton karena permasalahan yang disajikan terkasan sama hanya saja dalam bentuk yang berbeda

 *****

Ananda Fitria Ramadhanti, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Lahir di Banyumas, 18 Desember 2001. Agama Islam. Hobi menulis, dan menyanyi. Berdomisili di Desa Tambak Sari Kidul Rt 07/03, Kembaran, Banyumas (53182). No. Rek. 682901031211539/BRI an. Ananda Fitria Ramadhanti. HP. 089612916743. Instagram: @ananda.afr . Ponsel: anandafr1812@gmail.com .

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8035195794690017312

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item