Tokoh Utama yang Menyimpang dari Jalur Norma Sosial dalam Bahrul Ulum


Muhammad Aziz Rizaldi*

Novel merupakan salah satu karya sastra yang dihasilkan melalui berbagai proses imajinasi pengarang. Proses imajinasi ini yang menjadikan sebuah novel menjadi lebih bergairah ketika dibaca. Pengaranglah yang mampu menghadirkan berbagai persoalan rumit di kehidupan sekitarnya dengan bahasa-bahasa yang indah. Persoalan rumit ini yang kerap kali menjadikan pembaca lebih betah berlama-lama berdua bersama novel. Yang menariknya lagi adalah kerumitan persoalan sosial ini kerap kali diulas dengan sederhana dalam guratan-guratan yang indah. 

Seperti yang saya tangkap dalam Bahrul Ulum melalui karya yang berupa novel dengan judul Puan Para Anjing (Pohon Tua Pustaka: 2021). Novel tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang tidak terlalu rumit sehingga pembaca dapat membaca secara mengalir. Novel tersebut terdiri dari 124 halaman. Sebuah novel singkat nan ringan untuk dibaca oleh pemula. Bahrul Ulum menyajikan konflik ceritanya secara singkat namun cukup mengena. Penyelesaian konfliknya pun tidak membuat pembaca bingung. Alur ceritanya mengalir seperti air tanpa adanya konflik di dalam konflik.

Bahrul Ulum membebani tokoh utama sebagai pemberi bumbu dalam novelnya. Seperti kebanyakan cerita yang ditulis oleh pengarang lainnya. Tokoh utama menjadi pusat dalam ceritanya. Bahrul Ulum memberi panggung yang cukup leluasa kepada tokoh utama. Melalui novel berjudul Puan Para Anjing  Bahrul Ulum mengungkapkan realita sosial yang jarang sekali dilihat oleh kacamata orang awam. Beliau mencoba melihat kehidupan mahasiswa yang cukup membuat hati teriris. Karena memang pengarang membahas sisi gelap kehidupan kampus yang jarang terlihat oleh orang secara gamblang.

Melalui Sarah, Bahrul Ulum menyajikan penyimpangan sosial yang terjadi di kalangan remaja terutama di lingkungan kampus. Sarah merupakan tokoh utama yang diberi gerak leluasa dalam novel berjudul a. Sarah ini dikisahkan sebagai penyintas kehidupan gelap di kampus. Sarah merupakan mahasiswa kurang mampu dalam materi. Kisah kehidupannya begitu menyedihkan karena Sarah ini sampai menjual tubuhnya untuk kenikmatan orang lain. Sarah bekerja sebagai pelacur yang dibawahi oleh mucikari bernama Mas Rusli.

Sarah yang terkenal alim di kampus sangat berbeda ketika di luar kampus. Sebuah kejadian yang sangat ironis. Seorang yang terkenal alim justru dipaksa menjual moleknya tubuh oleh keadaan. Yang lebih memilukan lagi pekerjaan ini didukung oleh pacarnya, yaitu Arga. Seorang lelaki brengsek yang memaksa Sarah mencari pacar baru yang kaya untuk diperas uangnya. Lingkungan sosial yang membelenggu Sarah sangat tidak sehat sekali. Karena dia menjadi korban kekerasan psikologis.

Kisah tersebut begitu sangat menarik untuk diulik. Cerita yang dialami oleh Sarah kerap saya dengar secara sekilas melalui teman-teman yang memang pernah berkecimpung di dunia gelap. Berikut cuplikan cerpen Puan Para Anjing karya Bahrul Ulum:

Di jalan aku sempat membayangkan bagaimana wajah pacar baru Sarah kelak kalau tahu Sarah ini seorang pelacur, bahkan sudah ciblek premium. Sarah memang aku suruh untuk cari pacar, kalau bisa yang kaya. Agar dia bisa hidup enak tanpa harus terikat rumah tangga. (halaman 15).

Pada cuplikan di atas menceritakan keironisan yang diulik di atas. Seorang laki-laki brengsek bernama Arga yang membiarkan pacarnya melacur dan mencari pacar baru yang kaya agar bisa hidup enak. Hal tersebut membuat daya tarik tulisan Bahrul Ulum yang menyingkap tabir kehidupan sisi gelap di kampus. Bahrul Ulum berusaha membawa realita sosial yang memang sangat negatif dalam karyanya. Kehidupan Sarah yang sangat ironi ditambah lagi dengan pacarnya yang sangat merugikan dirinya.

Dari novel Bahrul Ulum juga menyindir orang-orang yang munafik. Mereka yang notabenenya agamis dengan bersorban. Justru mereka menyewa pelacur untuk memuaskan nafsu duniawinya. Begitu ironis sekali memang novel tersebut. Sarah sangat menggambarkan hati Bahrul Ulum yang merasa ironis dengan kehidupan orang zaman sekarang. Seorang yang pantas dianggap sebagai pemuka agama malah melecehkan agama itu sendiri. Berikut cuplikannya:

“Apa aku dikerjai? Apa-apaan ini. Mereka lebih pantas disebut pemuka agama daripada seorang tamu. Mereka berpakaian gamis bahkan ada yang mengenakan sorban. Tiga orang alim memesan ciblek? Aku hanya mematung menghadap mereka. (halaman 24).

Masalah sosial yang diangkat oleh Bahrul Ulum ini sangat menarik dan menggambarkan kehebatannya dalam menyingkap masalah yang jarang diakrabi orang awam. Hal tersebut memang sangat menarik karena realita kehidupan di kampus memang seperti itu tetapi memang jarang diketahui. Namun, sayang pemilihan kata dan alur ceritanya masih kurang menarik karena sangat mudah ditebak sekali. 

Walaupun demikian, Bahrul Ulum sangat pandai dalam menyampaikan amanah tersirat dalam novel tersebut. Pada akhir novel tersebut juga dikisahkan bahwa Sarah bertobat karena konfliknya sangat bagus dan begitu menarik untuk diikuti. Novel sederhana yang begitu penuh makna.

*****

*Muhammad Aziz Rizaldi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

 

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5886945758518367845

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item