Kehidupan Tidak Selamanya Membawakan Rasa yang Bahagia

 Usda Mar’atun Nazihah*


Alam menghadirkan sesuatu yang indah untuk dikagumi. Seperti senja, yang mengajarkan bahwa keindahan tak harus datang lebih awal. Namun, manusia terkadang terlena akan sesuatu yang pada akhirnya seperti bermetamorfosa memeluk senja yang hanya bertahan sesaat. Mengagumi tidak selamanya untuk kita miliki dan yang kita peluk untuk dimiliki tidak akan bertahan selamanya dengan keterpaksaan.

Buku antologi puisi yang berjudul “Tahun Kelabu” ini memuat 11 puisi dengan tema yang serupa dan saling berkaitan satu sama lain. Ini merupakan karya dari seorang penulis yang diketahui dengan nama inisial Aprl. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Taman Ilmu pada tahun 2021 ini mengandung makna dalam tentang sebuah rasa kelabu.

Kumpulan puisi tersebut memuat cerita yang terkesan alamiah yang sudah pastinya sering dirasakan oleh seseorang dengan kisah rasa cinta yang terbilang kelam atau kelabu, dengan alur makna yang sedikit biasa tetapi olah kata yang disampaikan sangat mendalam dan terasa sangat berkesan, serta disetiap larik dari puisi-puisi tersebut mengandung suatu pelajaran berharga yang bisa dipetik diakhir setiap katanya.

Puisi Aprl dengan judul “Patah” adalah satu contoh bagaimana takdir berkehendak tidak sesuai dengan ekspetasi seseorang. Memaksakan untuk tetap bertahan walaupun ia akan hilang dan hanya mampu merenungi disetiap kenangan yang pernah ia rasakan. Entah seberapa jauh rasa yang dimiliki oleh sang penyair, sehingga ia dengan tekad menjadikan kisah tahun lalunya dengan digambarkan oleh sebuah puisi-puisi ini. Dengan perasaan yang membuncah, penyair menuangkannya dengan tema puisi kelabu.

Patah

Aprl

 Seluruh tangis telah pecah/ Takdir mematahkanku dalam waktu sekejap/ Harapan seakan sirna/ Senyum getir yang mampu hiasi hari-hari aku setelahnya/ Gelak tawanya hanya akan menjadi kenangan/Hangatnya belaian pun akan selalu terkenang/ Di mana lagi aku temui tempat yang memiliki hati besar sepertimu?/ Kamu hanya satu-satunya rumah yang ku rasa sangat teduh/ Tanpa trauma/ Pun drama/

Aprl sosok yang menyukai segala hal dalam hidup, namun tidak suka jika identitesnya diketahui oleh siapapun ini membawakan syair kata makna puisi dengan sangat menjiwai dan menjadikan pembaca ikut terhanyut dalam kisah perjalanan rasa yang dituangkannya tersebut. Maka dari itu, ia hanya berharap setiap orang mengenang apa yang ia tulis, bukan siapa yang menulis tulisannya tersebut.

Dalam isi bait yang hanya beberapa larik itu menghadirkan nuansa kelam akan rasa yang sudah mulai sirna. Penyair tampaknya memotret suasana hati yang risau untuk mengenang pada tahun kelabunya. Dengan kata kenangan yang ia sematkan menambah kesan peristiwa yang tak dapat dilupakan dengan mudah. Olah Bahasa kata dengan menyelipkan sebuah pertanyaan tidak hanya sebuah pernyataan, membuat kita juga ikut berfikir dan membenarkan apa yang penulis alami saat itu.

Yang cukup menonjol ialah permainan kata demi kata, larik demi larik, Aprl tuangkan rasa kelabu yang dia pendam dalam satu bait puisi Patah tersebut. Ungkapan atau ekspresi penyair kepada sesuatu yang dituangkan ke dalam puisi menambah kesan dramatis penuh lara. Pembaca seolah merasakan hal serupa, nilai plus tersendiri dengan membaca rangkaian kata puisi-puisi yang penyair tuliskan.

Puisi Aprl memang menjadi salah satu contoh bahwasannya kisah kehidupan dengan rasa cinta yang dibumbui oleh keterpaksaan tidak selamanya berakhir bahagia, namun disuguhi oleh rasa yang kelabu. Tak hanya sekedar rasa patah yang menjadi akhir dari segala kisah penyair, namun sisi penuh harap, kerinduan, kebingungan akan hal yang telah terjadi menjadi salah satu isi yang tertuang dalam beberapa antologi puisi ini.

Tanya Kembali

Aprl

Kenapa harus berlarut-larut untuk meratapi?/Bukankah mengikhlaskan adalah kunci tuk tenangkan hati?/Mengapa aku terkesan setengah hati?/Mengapa ketidakrelaanku selalu menghantui di sanubari?/Apakah aku akan tetap begini?/Akankah sampai mati aku begini?/

Puisi “Tanya Kembali” menghakimi jiwa penyair akan ketidakrelaan tentang sebuah hal yang sulit ia lupakan dan hilangkan dari sanubari. Aprl mencoba terus bertanya apakah wajar ia terlarut dengan sebuah rasa yang sudah kelabu, terlarut akan hal yang tidak bisa kembali seperti sedia kala. Hati memang sulit untuk kita kendalikan.

Reminder

Aprl

Biar ribuan manusia mematahkan/Asal jangan diri merasa telah terkalahkan/Katanya jika punya mimpi/Punya hal yang ingin dijunjung tinggi/Tidak akan gentar walaupun diterjang ombak/Jangan biarkan menjadi payah/Buat mereka menyesal karena sudah tertawa untukmu hari ini/Tampar mereka dengan karyamu/Bukan tamparan keras dari tanganmu/Ingat ya/

Dengan kehadiran puisi “Reminder”, penyair seakan mulai bangkit lagi dengan segala keratapan, kesedihan yang dialaminya pada tahun kelabu itu. Ini membuktikan penyair tetap mengingat akan sebuah pesan. Pesan jangan menyerah hanya karena satu episode buruk yang terjadi dalam hidupmu. Teruslah melangkah, kisahmu belum berakhir sampai disini!

Begitulah rasa. Memaksakan kehendak seseorang untuk memenuhi kehendak kita adalah hal yang sulit untuk dipertahankan. Pada akhirnya, kehilangan menjadi akhir dari segala kisah yang menjadi kelabu. Hal ini menjadikan sosok Aprl mengangkat latar belakang kisah kelabunya, penguasaan tema dan topik yang diangkat menghadirkan suasana rintihan dan ratapan sisi kesedihan yang mendalam. Karya puisi yang berhasil untuk saya apresiasi. Ada hal yang membuat saya dapat memetik pelajaran dari beberapa makna yang tertuang.

Sosok Aprl menuliskan larik demi larik, bait demi bait puisi layaknya ia sedang bercerita dan bertanya kepada seorang pendengar. Ya, itulah letak dimana saya dapat masuk dan terlena akan setiap peristiwa yang dialami penyair. Memang, antologi puisi yang diterbitkan pada sebuah media masa salah satu aplikasi perpustakaan digital ini belum sepenuhnya diketahui oleh khalayak umum, hanya segelintir orang yang memang senang membaca dapat menemukannya. Tetapi tidak dipungkiri, walaupun ia menerbitkannya pada latform aplikasi perpustakaan digital ini, isi karya yang dihasilkan memang sudah layak untuk diterbitkan pada berbagai media masa lainnya. Karya sastra puisi memang salah satu sarana untuk mengekspresikan rasa.

*****

*Usda Mar’atun Nazihah, adalah seorang mahasiswa dan penulis.

 

 

Lampiran

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4318380824922088462

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item