Melacur Karya Sastra


Oleh : Didik Koros

Ketika seorang Anak Pertama bilang akan menjadi seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, W.S Rendra atau HB Jassin, hanya dibalas diam oleh ayahnya. Sebagai orangtua   ia terbayang pedagang mi goreng pemula yang membuka dagangannya diantara deretan pedagang kuliner yang sudah mempunyai pelanggan tetap. Bukan karena “Si Binatang Jalang” tak ubahnya pioner sastra dimasa peralihan kemerdekaan Republik Indonesia dan juga bukan karena harus “dilegalisasi” dulu oleh Sang “Paus Sastra Indonesia” baru kemudian seorang sastrawan dianggap sastrawan yang sesungguhnya, terutama di era Angkatan 45

Hampir serupa dengan pedagang bakso yang selalu diserbu pelanggannya dengan alasan kelezatannya yang mengena rasa atau sebagian berjamaah memakai aji penglaris dalam keyakinan. Tetapi tidak dengan karya sastra yang mengalir dari hati dan perasaan Anak Pertama bahkan Anak Keseribu. Tetapi tetap ayahnya akan selalu bersikukuh bilang : “Hanya satu diantara seribu seorang penulis karya sastra yang jatuh keliang emas”, entah menjawab ngawur atau dengan tujuan mulia menyemangati

Langkanya media cetak dan media online sebagai lahan kuliner pujangga, menyerupai tembok besar cina, apalagi penerbit antologi maupun penerbit bunga rampai; dilaman yang lain kemurahan kesempatan dari tim redaksi sebuah media cetak selalu diharap harap sekalipun tidak seperti bayi kucing yang kerap bersyukur selalu di”gigit” pangkal leher belakangnya oleh induknya dipindah ketempat aman dan diberikan makanan dikulum mulutnya. Kabar politik, berita selebritis, ekonomi dan bisnis dan sajian olah raga merupakan laman yang tidak seperti karya sastra. Ia terlihat konstan dengan kompensasi premium pembacanya

Mengintip dalam sebuah keluarga, pada saat daging ikan bandeng ada dimeja makan yang terasa hanyalah lezatnya. Para penikmat tidak pernah membayangkan betapa sisiknya dibersihkan dahulu, dipukul pukul bagian luar ikannya, dipatahkan ekornya, dibuang insangnya untuk kemudian ditariklah pangkal tulang bagian lehernya agar duri ikan bandeng mudah disingkirkan, untuk dinikmati dagingnya. Dikalangan rumah tangga ekonomis yang mengerjakan pastilah istri yang tidak mendapat tips tambahan sekalipun telah membuat seisi rumah bahagia

Anak Kedua kegirangan tatkala beberapa judul puisinya terbit disebuah Koran. Dan Anak Ketiga pun riangnya bukan main saat Cerpen pertamanya termuat dikoran yang lain. Sedangkan dikolom kecil halaman tersebut dengan jelas tertulis, bahwa khusus publikasi puisi dan Cerpen belum disediakan imbalan berupa honor. Toh yang diharap  Anak Pertama bahkan Anak Keseribu tak lebih dari kebanggaan dan kepuasan semata yang masih kebingungan, dan jelas tidak termasuk dalam Angkatan Sastra Indonesia Lama, Angkatan Balai Pustaka yang memperkenalkan Marah Roesli, Merari Siregar atau Abdul Muis, apalagi termasuk dalam Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 1945 atau angkatan angkatan selanjutnya

Namun lagi lagi jangan dipelesetkan bagai menggarami air laut untuk karya sastranya, atau ayam hutan yang tak berdaya masuk perangkap untuk kemudian dibawa pulang kerumah sang penjebak, ditawarkan, nego dan menghasilkan uang. Kalau nasib lagi baik bisa untuk mencukupi kebutuhan belanja anak istri satu bulan. Apabila dibulan berikutnya sang penjebak memasang perangkap susulan dan hanya mendapat burung puyuh liar, cukuplah untuk menu sekali makan. Ayam hutan maupun burung puyuh liar sama lezatnya. Jika ayam hutan disilangkan dengan ayam lain untuk menghasilkan suara kokoknya. Bukan dosa sang penjebak, tetapi terlanjur mencukupi kekaguman penikmat kokok ayam (meskipun bukan jenis “Manu Gaga” yang dari kaum bangsawan Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan), dan burung puyuh liar telah menyumbang penganekaragaman pangan dan gizi.

Anak Pertama bahkan Anak Keseribu sepertinya akan terus kesana kemari tak lelah menulis puisi dan sastra lainnya diantara pencarian majalah sastra, tabloid sastra maupun selembar laman sastra koran edisi mingguan, sehingga sementara menggelar karpet kejalan pulang komunitasnya seperti biasa yang harus berani “sendirian” menyuguhkan antologi puisi ataupun bunga rampai yang jauh dari Yayasan Dokumentasi Sastra H.B Jassin  itu berdiri dan menempati areal seluas 90 meter persegi dalam komplek Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat

Anak kambing tetaplah jadi kambing walaupun tidak harus berbulu hitam, tetap meng“embek” saat dilahirkan dalam hitungan menit sudah bisa berdiri, tidak kokoh dan melangkah tertatih. Sedangkan anak harimau meskipun sama dengan anak kambing saat dilahirkan, bedanya langsung menyandang predikat “Raja Hutan” karena dalam hidup selalu kompak berkelompok, berburu dan mengeksploitasi diri. Aum dan taringnya dianggap layak menggema baik meneriakkan puisi maupun mengalunkan cerita fiksi

Ditengah hutan rimba, komunitas kambing dilarang meng”embek” terlalu nyaring (apalagi sendirian) karena dengan mudah Raja Hutan akan menemukan sebagai santapan empuk. Entah kambing atau harimau yang lebih dulu melantunkan sajak Karya Chairin Anwar “Aku ini binatang jalang  Dari kumpulannya terbuang”

“Cengeng…!!!” sergah monyet sebagai pengamat yang terus bergelantungan dari pohon ke pohon yang lain. Ia tidak senang mendengar suara kambing yang terus meng”embek” tidak seperti burung cendrawasih yang ditakdirkan terus indah dipandang bulu bulunya. Cendrawasih tidak ingin berdebat masalah takdir baik buruk, ia lebih senang menikmati anugerahnya sendiri yang menjadi idola banyak orang. Padahal dalam takdir yang lain, daging kambing dibuat sate bagi pecintanya disemua kalangan penghobi

Kambing, hariamau, monyet atau cendrawasih sama sama mengantre untuk menunjukkan jati dirinya sekaligus pengakuan, meskipun telah lama sama sama tahu tentang puisi HB Jassin yang berdujul “Mimpi dan Hidup” pada baris pertama dan kedua : Pernah saudara bermimpi; Mendapat uang perak dan emas; atau dilanjutkan dengan puisi karya almarhum Sapardi  Djoko Damono  “Pada Suatu Hari Nanti” terpapar di bait pertama: “Pada suatu hari nanti; Jasadku tak akan ada lagi; Tapi dalam bait-bait sajak ini; Kau tak akan kurelakan sendiri” seperti mimpi Anak Pertama bahkan Anak Keseribu melacur karya sastra (*)

*****

Didik Koros, (Sufriadi). Pernah menulis di media cetak lokal dan nasional (Tahun 1984 – 2000) berupa puisi, cerpen dan opini diantaranya: Majalah Mimbar Pembangunan Agama (Surabaya), Tabloid Sunar Tani (Jakarta), Minguan Guru (Jakarta), Suara Karya (Jakarta), Majalah Fakta (Surabaya), Bekal Pembina (Bandung), Majalah Norma (Surabaya), Harian Surya (Surabaya); dan Jawa Pos Radar Madura (2020), Majalah Swadaya (Jakarta-2021) dll. Alamat rumah: Perum Batu Kencana Batuan Sumenep

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1833178792276613794

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item