Pencak Silat Corona


 Cerpen: Adri Hidayatullah *)

Nafas Hana terengah engah setengah terkejut saat menaiki panggung diiringi tepuk tangan dari siswa siswi disekolahnya. Rupanya sudah ada pak Agus yang berdiri didepannya sambil membawa sekuntum bunga.

“Kenapa bapak bawakan bunga ini untuk saya?. Apa jangan jangan bapak naksir sama saya?.” ucap Hana terbata bata menahan malu.

Pak agus hanya tersenyum dan menatap bijaksana kepada Hana yang masih terlihat kebingungan didepannya 

“Bunga ini sebagai hadiah awal untukmu karena sudah menjuarai kompetisi pencak silat se provinsi, selamat ya..” kata pak Agus sembari memberikan bunganya pada Hana.

Hana tertunduk lama sekali.

Terlintas jelas dalam pikirannya betapa selama ini dirinya telah bekerja keras berlatih bela diri.

Hana mulai menyeduh susu dan mengaduknya beberapa kali. Uap hangat itu menusuk ke hidungnya. Ia mencicipi setetes tuk memastikan tidak terlalu manis lantas mulai menyeruput dipagi yang berembun itu.

“Hari ini kamu akan berangkat bersekolah?” ucap bu Nurul, ibu Hana

“Tidak bu, hari ini sekolah jadwal online” balasnya

Anak tunngal itu terdaftar di ekskul pencak silat disekolahnya, tetapi akhir akhir ini nyaris tidak ada latihan karena sekolahnya melakukan Pembelajaran Jarak Jauh diselingi PTM terbatas karena dikotanya belum benar benar kondusif dari pandemi. Meskipun begitu ia tak kehilangan asa untuk terus mengasah minatnya dalam cabang bela diri.

Sudah beberapa minggu belum saja mendapat kabar untuk latihan bersama teman temannya yang dibimbing pak Agus. Terakhir kali Hana berlatih pada awal bulan ketika saat itu sekolahnya mulai melakukan PTM terbatas. Sekarang gadis itu hanya perlu masuk bersekolah hanya beberapa kali dalam sebulan. Karena pihak sekolah mengkombinasikan sistem PJJ dan PTM.

Kondisi tersebut jelas membuatnya bosan. Mulai saat itu Dia berinisiatif untuk mengembangkan bakatnya sendiri dirumah dengan teknik teknik dasar yang sudah dipelajari.. Sebelumnya Hana adalah peraih juara dalam kompetisi pencak silat se kabupaten.

Hari minggu itu Hana bersiap pagi pagi, gagang pintunya yang masih terasa dingin, ia mulai mengikatkan tali sepatunya. Lantas berpamitan kepada orang tuanya

“Bu, Pak Hana berangkat lari pagi. Tidak terlalu jauh kok, Cuma disekitaran saja.”

“Oh ya hati hati nak” jawab bu Nurul. Ketika itu bapaknya masih ada di halaman belakang

Dia hanya berlari sejauh 2 KM saja kemudian balik pulang. Hana menyambung paginya dengan berlatih pencak silat di halaman rumahnya rata rata dua jam tiap hari minggu. Sedangkan dihari hari sekolahnya ia melakukannya sore hari hingga senja menjemputnya. Sudah satu bulan lebih Hana memantapkan bakatnya. Memang agak melelahkan, tetapi prestasi memang harus dilalui dengan persiapan yang matang dan sungguh sungguh.

Di satu hari Hana meminta kepada ibunya untuk dibelikan susu berkalsium dan suplemen vitamin untuk menunjang kesehatan fisiknya katanya. Namun ibunya juga harus mengadu kepada pak Juhari, bapak Hana tentang hal ini.

“Apa yang membuatnya tiba tiba begitu bersemangat akhir akhir ini?.” Tanya pak Juhari kepada istrinya.

Suara itu merambat dari balik pintu kamar Hana. Ia  yang mendengar percakapan dari kedua orang tuanya tersebut lantas keluar.

“Tidak apa apa, pak. Hana cuma ingin jaga kesehatan dan menjaga diri yang sewaktu waktu dibutuhkan. Apalagi sebentar lagi kan Hana akan ikut dalam kejuaraan pencak silat tingkat provinsi. Pencak silat juga butuh dilestarikan karena itu adalah budaya asli Indonesia.” Jawabnya.

***

Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit. Hari ini Hana akan berangkat ke sekolahnya. Ia kebagian jadwal untuk melakukan PTM terbatas. Sembari merapikan bajunya dia berjalan keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi. Setelah itu dia berpamitan dan berangkat naik angkutan umum.

Ketika tiba dikelasnya pundak Hana ditepuk seseorang dari belakang. Rupanya itu Ayu sahabatnya. Keduanya sangat berbahagia karna mereka lama tak bertemu.

“Eh ini Hana ya.. kok tambah kurus”

“Ah enggak kok biasa aja”

Bel sekolah telah berbunyi, siswa siswi telah duduk rapi. Jam pertama diisi dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Kebetulan guru pengajarnya pak Agus, pembina ekskul pencak silat Hana.

“Selamat pagi, anak anak. Hari ini kia akan belajar tentang teks eksposisi silahkan siapkan buku kalian.” Ucap pak Agus memulai kegiatan mengajar.

Jam istirahat Hana dan teman temannya pergi ke kantin sekolah. Dia dan Ayu memesan masing masing semangkok bakso. Mereka duduk bersebelahan lalu menyantap hidangannya.

Setelah membayar makanannya, Hana dan Ayu hendak berjalan menuju kelasnya. Namun dipojok ruang laboratorium dia ditemui Nadia.

“Hana, kamu dipanggil pak Agus sekarang. Dia ada di ruangan guru.” Ucap Nadia

“Ok, makasih ya..” Balas Hana

Hana menyuruh Ayu untuk kembali ke kelas terlebih dahulu karena ia akan menemui pak Agus di ruang guru. Ayu pun mengannguk.

 “Assalamualaikum..” suara Hana seraya mengetuk pintu ruang pak Agus

“Waalaikumsalam, oh ya masuk Hana” Jawab pak Agus.

“Sebentar lagi akan ada event pencak silat se provinsi. Kamu sudah bapak daftarkan sebagai peserta. Apa kamu siap? Nanti bapak latih kamu lebih lanjut.” Sambung pak Agus.

“Ya, saya siap pak” Hana sambil mengannguk

Ketika kembali ke kelas, Hana dihampiri Ayu.

“Kenapa kamu dipanggil pak Agus? Jangan jangan ada tugas ya?” tanya Ayu to the point

“Nggak, aku diikutkan lomba pencak silat se provinsi 2 minggu lagi.”

“Ah masa sih? Kamu kan dari kabupaten yang tergolong kecil, apa iya bisa menang?” Jawab Ayu singkat saja

“Ya nggak apa apa, aku kan cuma ingin mencoba siapa tau beruntung”

“Iya iya deh semoga menang ya, tetap semangat” Ayu memasang wajah riang menyemangati Hana.

***

Tepuk tangan riuh kembali mengejutkan Hana dari lamunan diiringi suara bersahutan : Hana, Hana, Hana.

“Lama sekali melamunnya?” Pak Agus menatapnya bijak, yang hanya dibalas dengan senyum oleh Hana.

“Ini ada sedikit tanda terima kasih dari sekolah, karena kamu telah mengarumkan nama sekolah ditingkat provinsi. Jangan dilihat dari nilai uangnya, tetapi prestasi ini telah membanggakan kita semua. Sedangkan pialanya ditaruh di sekoah ya? Sebagai penyemangat bagi siswa lainnya.” Ucap pak Agus mengulurkan sebuah amplop berisi uang.

Agak lama Hana menatap guru ekskulnya itu, antara hendak menerima dan ragu ragu menolaknya.

“Ayo ambil, malu ya?” seloroh pak Agus

“Iya pak... terima kasih banyak” terbata bata suara Hana diiringi tepuk tangan semakin meriah lagi dari siswa yang hadir.

“Terima kasih juga bapak Agus, terutama bapak Kepala Sekolah, bapak ibu guru lainnya serta teman teman yang total mendukung saya hingga menjuarai tingkat provinsi.” suara Hana tegar dan bersemangat.

Pandemi Korona ternyata tidak harus menghalangi siapa pun untuk berprestasi, termasuk Hana.

*) Penulis adalah siswa SMAN 1 Batuan, Sumenep  

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6835397172891310986

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item