Nilai Budaya Jawa Menurutku

 Djoko Saryono


Dalam perspektif holistis kebudayaan, nilai budaya Jawa (selanjutnya disingkat NBJ) yang dikonseptualisasi secara idealitis-normatif dapat ditempatkan sebagai lapisan simbolis kebudayaan Jawa atau sistem simbolis kebudayaan Jawa. Selain sistem simbolis, terdapat lapisan sosial atau sistem sosial dan lapisan atau sistem material kebudayaan Jawa. Ekonomi terletak di dalam lapisan atau sistem material kebudayaan Jawa.

Dalam kebudayaan Jawa yang “sehat”, senantiasa terdapat hubungan timbal-balik (resiprokal) antara sistem simbolis, sistem sosial, dan sistem material kebudayaan Jawa. Di samping itu, sistem sosial dan sistem material yang sehat senantiasa dijiwai oleh sistem simbolis kebudayaan Jawa.

Meminjam kuadran pemikiran William Mackey (1974), baik bentuk-isi maupun ekspresi-substansi NBJ idealistis ini — meminjam istilah filsafat perenial dari Huston Smith (1986) — merupakan pesan dasar atau visi terdalam NBJ yang sistemis.

Meskipun mendapat masukan dan perkayaan, bahkan pencerahan dari berbagai sumber internal dan eksternal, pesan dasar atau visi terdalam NBJ relatif bertahan atau berpola tetap – kalau toh berkurang atau bertambah memerlukan waktu sangat lama. Sumber internal dan eksternal memperkaya dan mempercanggih serta mempercerah NBJ idealistis khususnya ekspresi, aktualisasi, artikulasi, dan eksternalisasi NBJ idealistis dalam kenyataan kebudayaan sehingga NBJ tetap fungsional untuk menjalani, melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup dan kehidupan manusia Jawa.

Baik sumber internal maupun sumber eksternal justru merupakan wahana melakukan — apa yang menurut istilah filsafat Zaman Baru (New Age) dari John S. Dunne (dalam Munawar-Rachman, 1996:76) —perantauan (passing over) untuk kemudian pulang (coming back) ke fitrah NBJ dengan kesegaran dan kecerahan baru sehingga manusia Jawa.

Bukan hanya mampu menjalani dan mempertahankan hidup dan kehidupannya, melainkan juga mengembangkan dan menyempurnakan hidup dan kehidupannya di tengah dialektika budaya Jawa. Passing over dan coming back di sini tentu saja berlangsung pada tingkat visi Bersama (common vision) dalam pengertian Huston Smith; dalam arti pada tingkat pandangan dasar.

Dalam konteks tersebut berbagai macam masukan dan perkayaan — atau biasanya disebut pengaruh — Hindu-Buddha, Konfusianisme, Islam, Barat, dan lain-lain tidak perlu dipersoalkan asli tidaknya, murni tidaknya, dan benar salahnya dalam NBJ.

Dikatakan demikian karena pada tingkat common vision semuanya berada dalam akar pandangan yang sama (scientia sacra menurut istilah Swami Vivekananda [1994] atau sophia perennis menurut istilah Hossein Nasr [1993]).

Akar pandangan yang sama ini merupakan titik temu atau arsiran (common platform) atau — meminjam istilah Nurcholis Madjid (1992; 1995) — kalimatun sawa’ (asas ajaran yang sama) bagi variasi-variasi NBJ. Dengan kata lain, pelbagai variasi NBJ baik variasi regional, geokultural, sosiokultural, religiokultural maupun historis dan sosiologis akan berada pada titik temu yang sama pada tingkat visi Bersama NBJ. Dengan perspektif filsafat perenial seperti inilah karakteristik idealistis NBJ dapat dideskripsikan tanpa terjebak pada persoalan-persoalan ekspresi yang pada dasarnya merupakan persoalan historis, sosiologis, dan kultural.

Sejalan dengan itu, karakteristik NBJ idealistis-normatif dapat dibedakan secara dimensional menjadi karakteristik idealistis-normatif (i) nilai religius Jawa, (ii) nilai filosofis Jawa, (iii) nilai etis Jawa, dan (iv) nilai estetis Jawa.

Meskipun dibedakan, keempat jenis nilai tersebut tidak terpisahkan, antara yang satu dan yang lain saling berkaitan dan saling menunjang secara sistemis. Pembedaan tersebut tidak berarti pemisahan, hanya pemberian penekanan atau penggarisbawahan secara dimensional atas fenomena NBJ idealistis-normatif.

Disebut begitu sebab menurut budaya Jawa idealistis-normatif semuanya dalam kemapanan dan kepaduan yang serasi-selaras dalam dimensi yang berbeda.

Dari akun FB Djoko Saryono

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 243638778526530109

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item