Merayakan Hari Batik Nasional, Malah Teringat Novel Canting


Perayaan Hari Batik Nasional 2 Oktober 2021 malah mengingatkan saya pada novel Canting garapan Arswendo Atomowiloto. Bisa dikata, novel Canting merupakan novel serius Arswendo yang sangat kental dengan budaya Jawa varian Mataram. Pada dasarnya, Arswendo Atmowiloto melalui Canting menciptakan wacana tentang pergulatan subbudaya dan priyayi Jawa di tengah dialektika perbenturan diametral antara tradisi Jawa dan modernitas ekonomi.

Bolehlah dikatakan, novel Canting menggelar kondisi perekonomian tradisional Jawa dalam lanskap kebudayaan Jawa yang sedang gamang bertransformasi karena hadirnya modernitas khususnya monetesi usaha tradisional. Usaha tradisional itu berupa usaha pembatikan milik keluarga Raden Ngabehi Sestrokusumo [Pak Bei], Tuginem [Bu Bei], dan Subandini Dewaputri [Ni]. Sebab itu, novel Can ting bisa pula disebut sebagai ensiklopedi aforistis falsafah hidup Jawa di tengah berbagai konteks dan dialektika perubahan sosial budaya, sosial politik, dan (sosial) ekonomi.

Dalam novel Canting dikisahkan tokoh utama Pak Bei yang mengidolakan (baca: sebagai guru dan sahabat) sekaligus mengikuti ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Dia sangat peduli dengan nasib budaya Jawa, tetapi juga sangat mendukung nasionalisme Indonesia dan pernah berkiprah dalam pemerintahan Indonesia. Oleh Arswendo Atmowiloto Pak Bei dilukiskan sebagai orang yang memiliki dan rajin mengikuti kelompok nglaras roso Jumat Kliwonan di Taman Ranggawarsita Njurug bersama dengan sesama priyayi. Itu sebabnya, dia tidak mau disebut sebagai kapitalis meskipun tidak menolak kapitalisme (baca: menyetujui kapitalisme) dan memiliki usaha (dagang) pembatikan dan toko batik di Laweyan (Solo).

Sebagai priyayi tradisional, Pak Bei sangat membanggakan keberadaan dan kedudukan kepriyayiannya dengan segala atribut dan cirinya – dan kesadarannya bersikap feodal. Perlu ditambahkan di sini bahwa priyayi tipe Pak Bei yang berpandangan dunia spiritual tidak berarti antimaterial. Pak Bei justru memerlukan materi cukup besar untuk menunjang pandangan dunia (gaya hidup) spiritualnya dan hierarkisnya. Pak Bei -- sebagai misal -- dengan lantang selalu mengucapkan, "... Kalau saya bukan feodalis dan kapitalis, apa saya bisa ke sana dengan cara ini?" setiap kali ditanya perihal pelesirannya ke luar negeri.

Pandangan hidup, sikap hidup, dan gaya hidup priyayi Pak Bei tersebut menjadikan usaha pembatikannya limbung, kalang kabut dan tak mampu bertahan berhadapan modernitas yang datang. Modernitas ini berupa mekanisasi usaha pembatikan yang dicirikan oleh munculnya batik cetak (bating printing), bukan batik tulis sebagaimana ditekuni oleh Pak Bei selama ini. Hukum ekonomi bekerja dengan kejam menggusur pangsa pasar dan menggeser selara dan pilahan masyarakat akan batik. Pendek kata, batik cetak mengancam, bahkan menggusur batik tulis buatan Pak Bei.

Di samping itu, manajemen tradisional (keuangan dan usaha) atau apa adanya yang selama dijalankan Pak Bei tak mendukung eksistensi usaha pembatikan Pak Bei. Di sinilah Pak Bei bisa dibilang menyerah, lalu menyerahkan penyelamatan usaha pembantikan kepada Ni, anak perempuan Pak Bei.

Dalam Canting, Ni digambarkan oleh Arswendo sebagai generasi priyayi yang berpendidikan tinggi, gemar bergaul dengan buruh-buruh batik di gandhok pembatikan orang tuanya, memiliki wawasan ekonomi-perpabrikan (manufaktur) yang progresif, dan mengutamakan kemandirian. Lebih lanjut, Ni memiliki mobilitas spasial yang luas, mengutamakan berpikir rasional meskipun menimbulkan perdebatan keluarga, dan mampu memancangkan cita-cita yang melawan arus keinginan kedua orang tua tercinta atau priyayi pada umumnya meskipun di dalam keluarga dalam beberapa hal dia masih tetap tunduk kepada ayahnya; inggih, inggih Rama.

Dengan karakter tersebut Ni berusaha keras menyelamatkan usaha pembantikan warisan orang tuanya. Apakah usaha Ni berhasil menyelamatkan dan meraih kembali kejayaan usaha pembantikannya? Modernisasi usaha pembantikan, adaptasi teknologi dan pasar, bahkan pengakaragaman produk batik dan perbaikan manajemen keuangan tak menjadikan usaha pembatikan warisan Pak Bei dapat dibesarkan kembali oleh Ini.

Usaha pembatikan Pak Bei tetap hidup segan mati tak mau berhadapan dengan gempuran modernisasi pembatikan dan menguatnya batik cetak. Era batik tulis meredup, era batik cetak bersinar terang. Ini gambaran kegamangan dan kegagapan transformasi ekonomi Jawa yang dihidupi oleh pandangan dunia priyayi Jawa yang klasik aristokratis ketika berhadapan dengan modernitas ekonomi kapitalis dan monetesi seganap sektor usaha.

Selamat merayakan Hari Batik Nasional 2 Oktober 2021. Semoga batik tulis dan batik cetak berjalan seiring seirama. Semoga industri batik makin meluas dan citra batik kian lekat di hati masyarakat Indonesia. Semoga pengusaha batik gaya Pak Bei tak ada lagi. Sebaliknya, generasi baru pembatik bertipe Ni makin banyak dan berperan dalam industri batik pada zaman sekarang.  (Djoko Saryono)

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2177338284112553691

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item