Konflik Agama Pada Masa Majapahit,

 Melacak Orang Tua Arya Damar dari Cerita Asal-Usul Desa Damarsi, Naskah Lawas dan Prasasti

 

Candi Jago di Malang. (foto: Mashuri Alhamdulillah)

  Mashuri Alhamdulillah

3/

“Nahi nahi nrpawangsa wangsawidyadharenda nahi nahi... dharmadharmam- adityawarma.” (Prasasti Ombilin)

Dalam kisah asal-usul Desa Damarsi, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, via cangkeman, ibu Arya Damar adalah Puteri Resi Tawang Alun. Ia disebut Puteri Alun (via Desa Damarsi), dan disebut Puteri Mirah (via Desa Buncitan, tetangga Desa Damarsi, lokasi Candi Tawang Alun). Adapun ayah Arya Damar adalah Raja Majapahit. Unsur ‘tragis’ dalam kisah cangkeman itu adalah Arya Damar tidak diakui sebagai anak oleh raja sehingga ia berusaha membuktikan diri bahwa ia memang layak diakui sebagai anak raja.

Sekilas kisah itu mirip dengan beberapa kisah lisan lainnya di Jawa Timur, salah satunya adalah Sawunggaling, tokoh legendaris Surabaya. Namun, dalam beberapa naskah lama dan prasasti, nama orang tua Arya Damar diketahui, meskipun banyak ahli purbakala dan sejarah masih silang pendapat, terutama terkait ayah Arya Damar.

Sebelum ngablak ini berlanjut dengan meninjau beberapa manuskrip lawas dan prasasti, ada baiknya untuk menggali sebuah nama urgen lebih dulu, yaitu Tawang Alun sebagai penamaan candi di kawasan Buncitan, yang akhirnya dinisbatkan pada nama tokoh yang berdiam di sana, yaitu Resi Tawang Alun, dan berimbas pada nama puterinya disebut Puteri Alun. Beberapa tahun lalu, ketika saya blusukan di kawasan tersebut, sebuah sumber menerangkan, sebutan nama candi dengan Tawang Alun merupakan penamaan dalam kondisi darurat. Hal itu karena di kawasan tersebut dikenal dengan sebuah kawasan Tawang, sebuah pesawahan yang subur, berada di sekitar Dusun Doran, masuk Desa Buncitan. Di sana, pernab ditemukan batu-bata kuno yang melimpah. Tapi kini sudah raib, dan sebagian kawasannya sudah menjadi tambak.

Alhasil ketika sebuah candi ditemukan pada tahun 1980-an, plus beberapa arca, yang berasal dari sebuah ‘sumur windu’ di kawasan Buncitan, candi itu pun disebut dengan Candi Tawang Alun. Apalagi di pemakaman sebelah timur candi, juga sering ditemukan benda-benda purbakala, berupa batu bata kuno. Ini pun sudah tidak ada, karena beberapa temuan lalu dikubur lagi. Adapun, dalam catatan sejarah, Prabu Tawang Alun adalah nama tenar dari penguasa Blambangan (1645—1691), yang berkraton di beberapa tempat di Banyuwangi, dan yang terkenal adalah Macan Putih.

Kawasan Damarsi sendiri memang kawasan lawas. Nama Damarsi sudah dikenal sejak zaman Majapahit, salah satunya adalah penyebutan Damarsi dalam Desawarnana atau Negarakertagama karya Rakawi Prapanca, pada masa Prabu Hayam Wuruk (1350—1389). Dengan demikian, sangat mungkin kawasan ini jauh lebih tua sebelum era Prabu Hayam Wuruk. Apalagi beberapa khasanah mencatatnya demikian –bahkan semasa peralihan dari SIngasari ke Majapahit (kehancuran Singasari pada 1292—pembentukan Majapahit pada 1293). Apalagi tinggalan arkeologis di kawasan itu juga melimpah meskipun belum diidentifikasi dengan baik dan benar, dan dalam perjalanan waktu sebagian besar raib dan hanya menyisakan puncak gunung es, sehingga sebagian besar mengendap dalam ingatan kolektif dan hidup dalam tradisi atau cerita cangkeman yang beredar dari mulut ke mulut dalam pewarisannya.

Kembali ke asal-usul Desa Damarsi. Ibu Arya Damar disebut sebagai Puteri Alun via masyarakat Damarsi, dan Puteri Mirah via masyarakat Buncitan, tentu sebutan yang dari Buncitan yang agak mendekati sebutan di beberapa khasanah Jawa lama, sebagai Dara Jingga. Hal itu terangkum dalam “Pararaton”, “Kidung Panji Wijayakrama”, bahkan “Kidung Ranggalawe”. Hal yang sama juga termaktub dalam beberapa lontar atau usana di Bali, yang sudah disinggung pada ngablak kemarin. Dia disebut sebagai puteri raja Melayu yang berkuasa di sana pada saat ekspedisi Pamalayu telah kembali setelah melakukan misi selama 17 tahun.

Namun, yang agak berbeda adalah "Kidung Ranggalawe", yang menyebut bahwa Puteri Melayu itu kembali ke daerahnya, melahirkan di sana, sehingga menjadi raja Melayu di kemudian hari. Meski demikian, di antara beberapa sumber tercatat itu, tidak ada yang iskal bahwa ibu dari Arya Damar/Adityawarman memang berasal dari tanah Melayu. Bahkan "Pararaton" menyebutnya puteri/saudara raja Melayu, Sri Marwadewa.

Yang menarik adalah soal ayah Arya Damar. Kitab “Pararaton” menyebutnya sebagai ‘dewa’, seorang kerabat raja Singasari. Naskah kuno di Bali menyebutnya agak terang sebagai Arya Dewa Pu Adiyta. Pada Prasasti Nglawang yang dikeluarkan Gayatri/Rajapatni, anak pertama Prabu Kertanegara yang menjadi isteri Raden Wijaya, disebutkan seorang yang bernama Arrya Dewaraja Aditya, yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri. Ada yang menyebut bahwa itulah nama ayah dari Adtyawarman. Namun Krom (1993/1994) menyebut bahwa nama itu adalah Adityawarman sendiri. Namun, kelemahan klaim Krom ini terkait dengan runutan waktu, karena pada masa Rajapatni mengeluarkan prasasti itu, Adityawarman masih belum berperan banyak di lingkungan istana Majapahit. Hal itu karena dari dua puteri Melayu yang dibawa dari ekspedisi Pamalayu, yaitu Dara Petak, menjadi ‘madu’ dari Rajapatni, selain ketiga puteri Kertanegara lainnya. Adapun Dara Jingga diperistri oleh ‘dewa’ yang merupakan ayah dari Adityawarman.

Namun, yang jelas, orang tua Arya Damar itu wafat di Jawa. Hal itu disebutkan pada Prasasti Manjustri di Candi Jajagu/Candi Jago, di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang, berangka tahun 1265 Saka atau 1343 Masehi. Ditegaskan pada tulisan di balik arca Manjustri bahwa Adityawarman membangun sebuah candi Budha dengan tujuan untuk memudahkan pemindahan orang tua dan kerabatnya dari dunia ini ke nirwana, sehingga ia mendirikan arca Manjustri di tempat pendarmaannya. Arca yang berprasasti itu kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Selain itu, dari Prasasti Ombilin yang ditulis pada masa Adityawarman, dalam bahasa campuran Sansekerta dan Melayu Kuno, terdapat sebuah pengakuan, sebagaimana yang dinukil di awal ngablak ini. Pada tahun 1987, prasasti itu masih ada di Desa Ombilin, di tepi Danau Singkarak. Keadaan prasasti itu sudah pecah dan hilang bagian atasnya. Bagian yang masih ada tergurat 9 baris kalimat. De Casparis menerjemahkan prasasti itu sebagai berikut: “(meskipun bukan keturunan raja-raja, (namun) ia adalah raja dari widyadhara bangsanya”. Widyadhara berarti yang memegang ilmu pengetahuan dan dianggap memiliki pengetahuan tinggi, maha tahu secara supranatural, dan selalu membantu manusia.

Dengan mengacu pada beberapa sumber tersebut, saya berasumsi bahwa kawasan di sekitar Desa Damarsi adalah tempat tinggal orang tua Arya Damar/Adityawarman. Resi Tawangalun, yang disebut sebagai kakek Arya Damar itu sangat mungkin adalah ayah Adityawarman. Adapun puteri Alun atau Puteri Merah adalah Dara Jingga, yang tak lain adalah ibu Adityawarman. Kenapa terkesan mereka beroposisi dengan Majapahit dan ‘hanya’ dekat dengan Rajapatni?

Hal itu sangat mungkin terjadi karena persoalan agama dan keyakinan. Agama yang dianut di antara mereka, yakni keluarga Adityawarman dan Rajapatni, sama, yaitu Budha Mahayana, dengan sekte Kalacakra, atau yang tenar dengan sekte Bhairawa, yang pernah memuncak pada era Prabu Kertanegara (1268—1292), raja Singasari terakhir dan terbesar. Dimungkinkan pada masa Majapahit berkembang agama lain, yang dianut penguasa Majapahit –meskipun sumber 'resmi' menyebut adanya sinkretisme pada masa itu, sehingga 'Sutasoma" yang sangat buddhis pun menggurat "bhinneka tunggal ika". Hmmm.

Sementara itu, soal sekte dan ritual aliran Kalacakra atau Bhairawa tersebut akan dibahas lebih jauh untuk menunjukkan adanya ‘konflik’ tersembunyi di kalangan keluarga raja Majapahit, sehingga menyisakan cerita lisan asal-usul Desa Damarsi yang mencitrakan keluarga Arya Damar beroposisi dengan raja Majapahit yang sedang berkuasa. Mudah-mudahan dapat segera disambung!

 On Siwalanpanji, 2021

Dari akun FB Mahuri Alhamdulillah

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6267389215750220425

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item