Sekte Kalacakra Atau Aliran Bhairawa di Jawa dan Melayu

 (Pengelanturan Cerita Asal-Usul Desa Damarsi)


Mashuri Alhamdulillah

4/

“Walaupun yang termaktub dalam sumber-sumber tertulis masa Majapahit mengesankan Buddha dianggap lebih unggul daripada Siva, namun dalam pelaksanaan sehari-hari dalam masyarakat Buddha seperti dinomorduakan.” (Agus Aris Munandar, 2011: 113)

Dalam kisah asal-usul Desa Damarsi, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, via cangkeman, tak disinggung sama sekali istilah Pamalayu, bahkan seberang. Yang ada adalah adanya demarkasi antara manusia normal dan manusia yang tidak normal karena gemar ngudap daging mentah –bahkan versi lainnya menyebut raseksi. Dua hal tersebut, yaitu seberang alias Pamalayu dan ritual makan daging mentah, adalah dua hal penting dan merupakan kunci untuk merunut kesejarahan keterkaitan Arya Damar/Adityawarman dan Desa Damarsi.

Mungkin dalam pelajaran sejarah di sekolah, dulu, istilah Pamalayu lamat-lamat tertangkap, kalau tidak malah menguap sama sekali. Padahal ekspedisi Pamalayu yang dimulai pada 1275 dipimpin oleh Kebo Anabrang merupakan proyek mercu dari Prabu Kertanegara (1268--1292). Raja yang mengubah nama kutharaja menjadi Singasari, yang selanjutnya lebih dikenal sebagai kerajaan –yang aslinya bernama Tumapel itu memang punya hasrat besar untuk membendung pengaruh Kubilai Khan ke Nusantara, khususnya Jawa. Tak heran, Kertanegara pun getol membuat vatsal di Melayu. Bahkan, sebuah sumber (SNI II, 2010) menyebut karena ambisi itulah, hingga Kertanegara pun menyaingi Kubilai Khan yang beragama Budha, sehingga Kertanegara memeluk agama tersebut.

Tengara ihwal pemelukan agama oleh Kertanegara pada agama yang dianut Kubilai Khan tersebut sebenarnya kurang berdasar. Pasalnya, dari Wangsa Rajasa, yang bermula dari Ken Arok, yang mengikuti Budha sudah tersemai sejak awal. Ken Dedes, dikenal sebagai pemeluk Budha yang teguh, meskipun ada pula keyakinan tambahan lainnya. Bisa jadi anggapan sinkretisme, pencampuran, paralelisme, atau koalisi yang didengung-dengungkan sebagaian besar ahli lawasan terkait Hindu-Budha, terutama Siwa Budha, baik itu oleh Kern (1916), Krom (1923), Gonda (1970), dan lainnya, hingga Haryati Soebadio (1985), memang berupa kecenderungan utama dan itu bermula dari nenek moyang Kertanegara, yaitu Ken-Arok dan Ken Dedes.

Bahkan, ayah Kertanegara yaitu Ranggawuni/Wisnuwardhana dikenal juga sebagai pengikut Siwa-Budha yang teguh, sehingga ia dicandikan dalam bentuk Syiwa di Waleri dan bentuk Budha di Jajagu. Sebagaimana diketahui, ia dianggap raja yang mampu membuat tawar ‘sabda’ dari Pu Barada, seorang pendeta Budis, yang dimintai bantuannya oleh Airlangga, penguasa beragama Hindu, untuk membelah Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu. Dengan kata lain, Wisnuwardhana mendaku diri sebagai penguasa yang telah mempersatukan kekuasaan yang terpecah pada masa lampau.

Perlu diketahui, dalam memerintah, Wisnuwardhana didampingi oleh Mahisa Cempaka/Narasingamurti sebagai ratu angabhaya, yang dikenal sebagai penganut Siwa yang taat dan ketika meninggal dunia, ia diarcakan sebagai Siwa di Kumitir, yang sekarang sedang digali sisa-sisanya karena baru saja ditemukan. Perlu diketahui, dari Mahisa Cempaka itu menurunkan Dyah Lembu Tal, lalu menurunkan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Memang, soal agama tersebut, meski di tingkat elite terjadi sinkretisme, dan menganggap Hindu-Budha sebagai agama Negara, tetapi di kalangan masyarakat, otonomi dan kemandirian masing-masing agama itu masih berlaku. Hal itu pun berlangsung pada masa Majapahit, sebagaimana tengara Agus Aris Munandar (2011) yang dinukil di awal ngablak ini.

Kembali ke ekspedisi Pamalayu yang digelar Kertanegara. Namun, project politik mercu itu memang bukan sebuah hal yang pertama dilakukan raja Jawa di Jawa Timur. Pada masa Darmawangsa Teguh, pengganti Pu Sindok, juga digelar ekspedisi Pamalayu. Dengan kata lain, raja-raja yang pusat pemerintahannya termasuk relatif di pedalaman itu memang bukan jago kandang. Bahkan, sebuah catatan menyebut, mereka memiliki angkatan laut yang tokcer. Bahkan, itu berlangsung hingga Majapahit.

Sayangnya, naskah-naskah tentang teknologi kelautan, metalurgi dan persenjataan itu seperti hilang tertelan bumi. Meski demikian yang membedakan Kertanegara dengan pendahulunya adalah ia berani menghadang dominasi Mongol, yang pada masanya dianggap sebagai bangsa penakluk. Tak heran, ketika suatu ketika utusan Kubilai Khan datang ke Singosari, Kertanegara pun menyambutnya dengan sinis: berani-beraninya ‘ulo marani gepuk’. Sejarah pun mencatat, utusan itu dilukai dan disuruh melapor ke kaisarnya. Sebuah tantangan terbuka!

Bagi Kertanegara, tanah Melayu atau tanah Kalaka adalah wilayah strategis untuk melapangkan project mercu tersebut. Kertanegara pun mengirimkan tanda mata kepada Tribhuwanaraja, raja Melayu di Darmasraya, berupa arca Amoghasapa. Arca yang kini tersimpan di Museum Nasional itu dikirim pada 1208 Saka (22 Agustus 1286 Masehi) untuk ditempatkan di Dharmasraya. Pada zaman Hindia Belanda, arca itu ditemukan di kawasan Rambahan di daerah hulu Sungai Batanghari.

Ihwal asal-usul arca tercatat dalam beberapa dokumentasi berupa prasasti tinggalan Kerajaan Pagaruyung, setelahnynya, yaitu Prasasti Amoghasapa yang ditulis di bawah lapik arca, dan baru ditemukan 1911. Tanda mata berupa arca itu begitu berkesan dalam bagi penguasa setempat karena Kertanegara menunjukkan kecenderungan agama dan sekte yang dianutnya. Amoghasapa adalah salah satu bodhisatwa sebagai salah satu perwujudan Lokeswara sebagaimana disebut pada Prasasti Padang Roco. Sebuah ungkapan cinta yang tidak bertepuh sebelah tangan karena penguasa Melayu pun memiliki kecenderungan yang sama.

Nah, dari sinilah terdapat pertautan antara Adityawarman dengan raja-raja di Jawa dan itu dirintis sejak Kertanegara. Dari ekspedisi Pamalayu itulah utusan Kertanegara membawa dua puteri raja Melayu, yaitu Dara Petak dan Dara Jingga, sebagaimana termaktub dalam beberapa naskah kuno di Jawa dan Bali. Sesampai ekspedisi Pamalayu di Singasari, ternyata Kertanegara sudah selesai. Bahkan, anak dan menantunya pun terlunta-lunta. Secara mencatat, Singosari hancur karena karena diserang adipati Kediri, Arya Jayatkwang, dengan memanfaatkan celah pada diri dan ambisi Kertanegara. Pertama, kondisi Singosari sedang lemah karena adanya ekspedisi Pamalayu, Kedua, tepat saat Kertanegara sedang menggelar ritual sekte Kalacakra atau Bhairawa, yang merupakan sekte dari Budha Mahayana, yang bersifat sinkretis dengan menggabungkan beberapa aliran keagamaan, atau lebih tepatnya agama Budha yang memuja bentuk-bentuk demonis, seperti Amoghapasa dan Heruka (Casparis, 1992).

Yup, memang terjadi pergeseran dalam perkembangan agama Budha di Jawa, demikian kata Agus Aris Munandar (2011). Pada abad ke-7—8 Masehi, Budha yang menghasilkan Candi Borobudur, yang berkembang adalah aliran Budha Theravada. Namun, ketika di Jawa Timur, aliran pun berganti menjadi Budha Mahayana, dengan mengerucutkan pada Tantrisme. Bahkan, ditambah dengan beberapa aliran, terutama berasal dari sekte Bhairawa, yang berkembang di India pada abad ke-11.

Bahkan, sebuah sumber menyebut, soal sekte ini sebenarnya kurang dipahami penulis “Pararaton” sendiri, yang menganggap bahwa apa yang dilakukan Kertanegara hanya sebagai ‘pesta pora’ dan melawan agama dan kesucian. Padahal yang dilakukan oleh Kertanegara adalah melakukan ritual keagamaan berdasarkan dan sekte yang dianutnya –yang demonistik—meskipun sebagau raja, ia juga mengakui agama lainnya, sehingga ia meninggal, ia pun memiliki tiga perwujudan dalam keyakinan Siwa-Budha. Salah satu yang mashur adalah sebagai Jina, yang arcanya kini disebut Joko Dolok, di Taman Apsari, Surabaya, depan kantor gubernuran Gedung Grahadi.

Yup, setelah Kertanegara lengser karena campur tangan orang dalam, menantu sendiri yang merupakan anak dari Jayakatwang, akhirnya Raden Wilaya –yang merupakan anak dari Lembu Tal, sekaligus menantu Kertanegara, kemudian mendirikan Majapahit. Ia menikahi keempat puteri Kertanegara, dan Dara Petak. Dari keempat puteri itu, yang paling menonjol adalah Gayatri. Seperti ayahnya, ia adalah penganut Syiwa Budha, dengan kecenderungan sebagai buddis, meskipun Raden Wiyaya adalah penganut Hindu. Dara Jingga, yang tentu saja penganut Budha, dinikahi oleh seprang yang bernama Dewa, yang sangat mungkin adalah seorang penganut Siwa-Buda, karena dianggap sebagai orang dekat Kertanegara.

Tak heran, Adityawarman pun memeluk Siw-Budha yang teguh. Bahkan ia juga penganut aliran Bhairawa sebagaimana Kertanegara (Coedes, 2015). Hal itu sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Saruaso 1, ditemukan di Saruaso dekat Pagaruyung, yang ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta, yang bunyinya: “Pada tahun saka 1296 Raja Adityawarman ditasbihkan sebagai ksetrajna dengan nama Wisesadharani menurut sekte agama Bhairawa di suatu tempat bernama Suruasa” (Hasan Djafar, 1992).

Dengan konstelasi yang demikian, tentu saja, ada kesenjangan antara keluarga raja yang memeluk agama berbeda pada masa awal Majapahit. Bahkan, dimungkinkan itu sampai pada masa Prabu Hayam Wuruk. Meskipun tata agama di masa itu demikian bagus karena pada masa Majapahit ada menteri-menteri yang mengurusi agama-agama yang berbeda (Agus Aris Munandar, 2011: Sartono Kartodirdjo dkk, 2012), tetapi tentu saja ada kasus yang menjadi pengecualian-pengecualian. Apalagi beberapa sumber menyebut, memang ada perbedaan perlakukan antara pemeluk Budha dan Hindu, meskipun secara resmi agama negara adalah Hindu-Budha.

Hal itu dapat dilihat dalam larik-larik “Negarakertama” atau “Desawarnana”. Di sana, cukup banyak ungkapan yang menegaskan betapa sang raja kurang perhatian pada candi-candi atau peribadatan agama Budha. Padahal candi-candi Hindu yang berada di sampingnya begitu indah dan terpelihara. Ungkapan itu memang terkesan ‘sebagai protes’ karena Rakawi Prapanca sendiri adalah seorang budis dan pernah menjadi ‘menteri’ untuk urusan agama Budha/Kasoghatan pada masa awal pemerintahan Hayam Wuruk. Soal tersebut dapat ditengok dalam “Negarakertagama” (37: 3—6). Dapat pula ditengok “Sutasoma” cerita tentang seorang pangeran budis. Meski ia berbicara ada kesamaan antara penganut Siwa dan Budha, tetapi ada kesan bahwa Budha itu lebih unggul daripada Siwa. Tentu saja, ngablak ini bukan bermaksud membuka luka lama. Namun, sejatinya banyak yang masih terselubung pada masa lalu, yang ibaratnya sebagai sebuah trauma, itu dipaksa dilupakan, bukan disembuhan, sehingga mengendap dalam ketaksadaran kolektif.

Sebagaimana diketahui, para pendahulu memang tidak suka membesar-besarkan soal itu, sehingga yang sampai pada kita adalah yang baik-baik saja. Sebagaimana yang juga ketika perpindahan Wangsa Isyana dari Jawa Tengah ke Jawa Timur selalu dibilang karena pralaya berupa letusan Merapi, padahal aslinya adalah menghindar dari serangan Sriwijaya dan vatsalnya. Hal itu terbukti dengan adanya ekspedisi Pamalayu yang digelar Darmawangsa Teguh untuk menghadang Sriwijaya. Pun kehancuran Darmawangsa Teguh karena diserang vatsal Sriwijaya di Jawa Tengah, tepat Kerajaan Wura Wari, yang berada di kawasan Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Asumsi saya, selain soal politik, yang mendasari semua itu adanya ‘konflik’ tersebut adalah masalah keyakinan dan agama berbeda, meskipun terbukti leluhur memiliki ‘strategi jitu’ dalam meredamnya.

Melihat dari sumber-sumber tersebut, jika cerita asal-usul Desa Damarsi selalu mencitrakan bahwa keluarga Aryo Damar atau Adityawarma itu beroposisi dengan raja Majapahit sungguh sangat masuk akal, apalagi pada era Majapahit awal hingga Prabu Hayam Wuruk! Namun, realitas sejarah yang terjadi menjadi menarik, karena Adityawarman diterima di kalangan istana pada masa pemerintahan Tribuwana Tungga Dewi, yang merupakan wakil dari ibunya Gayatri/Rajapatni ---karena Jayanegara tidak berputera, sehingga dikembalikan pada ibunya dan ibunya menunjuk adiknya, yaitu Tribuwana Tungga Dewi yang saat itu sebagai Bre Kahuripan.

Meski adanya campur tangan Rajapatni dalam penerimaan Adityawarman di kalangan Majapahit, tetapi sejatinya Adityawarman adalah figur yang mendamaikan setelah terjadi ketegangan antara sisa-sisa kekuatan Sriwijaya dan Mataram Kuno/Medang, karena dia memiliki darah Melayu dan Jawa, juga keyakinaannya yang ‘hibrid’, dan terbukti Majapahit pun ‘lancar jaya’ ketika menjalankan politik mercusuarnya dengan ‘Sumpah Palapa’ –meskipun ada pula kalangan yang menyebutnya hanya mitos semata.

Akhirul ngablak, kini, di Desa Damarsi, masih tersisa beberapa tinggalan arkeologisnya yang berserak, tak utuh, dan tak terawat, terutama di makan desa, sebagaimana yang ditelusuri Pak Sudi Harjanto. Adapun sepelemparan batu dari Damarsi, tepatnya di Desa Buncitan, ada Candi Tawang Alun, yang dulunya disebut “Sumur Windu” dan dinamakan Tawang Alun karena kawasan itu dulu bernama Tawang atau Dusun Tawang. Namun, masyarakat desa di sekitar itu, yang pernah menggali sejarah desa lewat metode kerawuhan tidak berani lagi melakukannya. Hal itu karena yang datang adalah raksasa yang menakutkan dan minta ubo rampe daging mentah!

Diangkat dari akun FB Mashuri Alhamdulillah

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6875520038424790159

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item