Buku Tanpa Judul


Cerpen: Khairus Syamsi

Aku salah dan sepenuhnya keliru. Ia tak seperti yang kuduga. Kukira indah senyumnya dan anggun perangainya akan pergi bersama-sama dengan jarak yang kian jauh. Namun nyatanya justru sebaliknya, segala tentangnya masih tetap tinggal. Bahkan setelah tiga tahun lamanya aku tak pernah sekalipun berbagi kabar apalagi bersua.

Ini bukan hal yang wajar, karena siapapun pasti tahu bahwa tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun apalah daya, sekonyong-konyong aku berusaha melupakannya yang terjadi malah sebaliknya. Aku masih dan selalu merindukannya. Setiap detail peristiwa yang kulalui setiap harinya pasti ada saja satu momen yang membawaku kembali pada masa itu. Saat aku dengannya berbagi kasih dan bahagia sebagai sepasang kekasih.

Namun begitu, semua percuma saja. Nindy takkan pernah kembali. Pikirku. Aku telah memintanya pergi dan melupakan semua. Aku meminta agar cita-cita, bahkan cinta yang ada di antara kita lenyap bersama kepergianku.

***

Tepat pukul 7 pagi, aku dan Nindy bertemu di sebuah persimpangan jalan kota. Suatu tempat yang kemudian menjadi markas kita berdua. Hampir setiap hari aku dengannya berada di warkop tua milik Mbah Munir. Kalau tidak pagi, siang, sore atau bahkan tengah malam. Pastinya kita selalu bertemu di sana setiap hari.

Di tempat itu, cita-cita dan mimpi masa depan kita rumuskan. Merancang semuanya sedetail mungkin, sampai pada hal yang paling dasar semua sudah terancang dengan matang. Termasuk di antaranya tanggal, bulan dan tahun kita akan menjadi keluarga utuh. Berbincang mengenai pekerjaan setelah kuliah, mendaki saat tengah musim kemarau, dan menikmati debur ombak bersama setiap akhir bulan. Aku dan dia benar-benar cukup rapi dalam merencanakan sesuatu.

Tempat itu pula, aku dengannya berdiskusi tentang banyak hal. Perihal buku-buku, baik yang bergenre filsafat, psikologi, tasawuf, hingga paham keagamaan. Nindy begitu menyukai filsafat, buku dengan berbagai judul dan pengarang hampir ia ketahui semua. Sementara aku, lebih suka pada buku psikologi dan sebagian karya sastra. Dengan itu, kami tak pernah kehabisan topik. Selain itu, kami bergantian merangkum hasil diskusi.

Sebagai penikmat literasi, aku ataupun Nindy sepakat untuk menyusun buku. Isinya pastilah kisah-kasih perjalanan kami berdua. Termasuk bagaimana cara kerja cinta melamar dan mendekap takdir. Meskipun kami sadari betul bahwa takdir hanya milik Tuhan semata. Namun bukan berarti kami harus takut dan melepas keyakinan begitu saja. Aku dan Nindy sudah yakin sejak lama, bahwa kami ditakdirkan.

Selain tentang buku-buku, terkadang kami berdiskusi mengenai songkok yang dikenakan presiden dan membandingkannya dengan topi lusuh milik pedagang asongan di perempatan. Perihal jas abu-abu yang melapisi baju putih berdasi dengan kaos bolong-bolong yang dipakai pemulung di sepanjang trotoar. Atau terkait gelak tawa putra-putri wakil rakyat setelah mendapat oleh-oleh dengan jerit tangis anak-anak desa yang menanti bingkisan dari orang tuanya namun tak pernah terjadi. Kami selalu begitu, berdiskusi sepuasnya saat jumpa.

“Nin, sebentar lagi aku lulus dan kau masih harus melanjutkan belajar. Bagaimana bila nanti kita dipaksa berpisah oleh keadaan?” Tanyaku hati-hati.

Aku mengambil kesempatan, dan aku tahu hal itu harus segera dibicarakan. Demikian itu, aku dengannya sama-sama sepakat untuk saling terbuka. Bahkan bila ternyata ada yang melanggar maka hukumannya adalah menulis satu cerita pendek dengan topik minta maaf atau pengakuan kesalahan.

“Iya Si, lalu apa masalahnya. Apa yang kau khawatirkan dari itu?” Ujar Nindy bertanya balik.

“Tidak ada Nin, hanya saja aku takut bila selama setahun dan kedepan tak bisa menemanimu,” lanjutku.

“Hem. Sejak kapan kau begitu? Adakah kekurangan tentang rancangan masa depan kita? Adakah kesalahan perihal ambisi dan usaha untuk merengkuh takdir yang kita siapkan?” Tukas Nindy dengan berbagai pertanyaan sekaligus. Dan aku yakin ia mulai merasa kesal atas ketakutan yang kuutarakan.

“Oh iya maafkan, aku hanya khawatir,” ujarku.

“Tidak dimaafkan,” ujarnya ketus. Namun beberapa menit kemudian ia tersenyum dan memelukku.

***

Undangan wisuda atas kelulusanku di sarjana telah aku genggam. Pada kesempatan ini, undangan untuk dua perwakilan keluarga kuberikan pada Ibu dan Nindy. Ibu dan Nindy datang dengan wajah yang sama-sama menawan meskipun cukup sederhana. Setelan batik berwarna merah hati dengan motif khas Madura yang dikenakan. Mereka tampak begitu akrab.

Perayaan wisuda di gelar, sorak-sorai ramai terdengar di seluruh gedung. Ribuan mahasiswa memakai seragam sama, jubah hitam kebanggaan dan toga bertahta di setiap kepala. Ditambah isak tangis keluarga yang hadir dengan penuh bangga melihat putra-putrinya.

Pada akhir acara, aku, Nindy dan keluarga foto bersama di salah satu stan pemotretan. Sengaja kulakukan awal-awal, sebab nanti pasti ada teman-teman dan adik-adikku sehimpunan yang akan datang mengucap selamat. Belum lagi teman-temannya Nindy. Tentu akan memakan waktu lama. Meskipun begitu, akhirnya semua berjalan lancar.

***

Waktu berlalu, aku diterima kerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah di kampungku. Aku sungguh bahagia. Guru adalah sebuah cita-cita sederhana yang kupegang erat dari dulu. Menjadi guru di era ini mungkin bukan hal yang diimpikan banyak orang seperti dulu. Selain karena nominal honor yang kecil, profesi guru juga dianggap kurang menjanjikan. Asumsi ini bukan tanpa dasar, beberapa teman mengajak menjadi pengusaha bahkan sebagian sebagai politikus dengan iming-iming A hingga Z. Tapi bagaimanapun itu, pilihanku menjadi guru. Ibu dan keluarga menyetujui, termasuk Nindy tentunya.

Beberapa bulan berlalu. Aku semakin sibuk, mengajar dan sesekali menulis. Pernah suatu waktu Nindy khawatir atas keadaanku karena seminggu tanpa kabar. Parahnya hal itu berlangsung lama, kira-kira hampir setiap bulan. Dan membuatnya cemas adalah suatu hal yang paling kubenci sejak lama. Apalagi membuat cemas orang yang kucintai. Belum lagi keyakinan soal masa depan yang telah kami rancang, kian tidak jelas dalam diriku.

Karena itu, aku beranjak ke tanah rantau di sela-sela waktu senggangku. Nindy harus berhenti memikirkanku dan fokus untuk belajar. Dan yang paling penting ia tak seharusnya melulu merasa cemas. Tak ada alasan selain itu, karena sebenarnya aku masih sangat mencintainya.

Pada pertemuan itu, aku menyampaikan segalanya. Dengan susah payah, aku menyatakan bahwa harus berpisah. Aku tahu bahwa ini pasti menyakitkan baginya. Pun bagiku. Tapi ini harus di lakukan. Nindy berhak meneruskan mimpinya dan mewujudkannya.

Aku masih punya waktu sehari di Kota ini. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk mengajaknya ke tempat yang paling ia inginkan sejak lama namun tak kunjung terealisasi. Sebuah desa di perbatasan kota, dengan masyarakat penganut literasi yang fanatik. Dan benar, setiap pos keamanan dan teras rumah di desa itu terdapat sedikitnya sepuluh judul buku yang berjejer rapi di raknya. Kami juga berkesempatan menemui tokoh pencetusnya, yang terdiri dari 5 orang.

Sepanjang perjalanan pulang. Kami hanya sesekali berbincang. Aku dan Nindy agak canggung, tentu karena kami tak lagi memiliki ikatan. Selama dua jam perjalanan, hati kami seolah saling berbisik. “Kita harusnya juga begitu esok nanti, mendirikan kampung sadar literasi sebagaimana yang kita impikan. Itu yang kita rencanakan sejak lama, tapi...”.

Akhirnya waktuku hanya tersisa beberapa jam ke depan. Kali ini Nindy memintaku untuk mampir sebentar di warkop mbah Munir. Dan benar, tempat itu ajaib. Suasananya seolah memaksa dan mewakili semesta agar aku dan Nindy berdiskusi. Kami pun larut dalam perbincangan, sampai-sampai bedug do’a telah berkumandang. Selanjutnya Nindy mengantarku pulang ke rumah kakakku.

Bakda Isya’, tiba-tiba Nindy sudah berdiri di depan pagar rumah kakakku.

“Biar kuantar kau ke terminal Si,” pintanya dengan mata teduh dan penuh iba. Aku melihat ia sedang bertengkar melawan hatinya, matanya berkaca membendung agar air matanya tak jatuh.

“Aku tak mau merepotkanmu Nin, toh kakakku juga bersedia,” ucapku padanya dengan nada pelan.

“Kumohon si, untuk kali ini saja. Untuk terakhir kalinya,” Ia meminta kembali. Dan aku bergegas ke dalam, aku tak mampu melihatnya begitu. Air mataku berjatuhan, aku kalah kuat darinya.

“Baiklah Nin, tunggu sebentar ya. Biar aku berkemas,” aku berdalih dari balik pintu. Ia tak boleh tahu kalau aku sedang menangis.

Kami beranjak menuju terminal. Nindy memelukku erat dari belakang, namun kami tanpa suara. Kecuali hati kami yang barangjadi saling menolak keadaan ini.

Udara cukup hangat, bertolak-belakang dengan kondisi kota yang dikenal dingin. Daun-daun berjatuhan meskipun seperti tidak ada angin yang berembus. Reranting dan dahan pohon berhenti menari. Binatang malam tak lagi berlagu, nada indah yang biasa dinyanyikan lenyap seketika. Suasana kian sunyi, senyap tanpa suara. Sementara bulan dan gemintang meredup dan tampak tak begitu jelas. Benar-benar malam yang kelam. Seluruh isi semesta seolah menyerah dan merasakan sakit yang sama dengan kami. Sepasang kekasih yang harus memaksa mengubur cinta dan harapan.

Setibanya di terminal, air matanya mengalir membanjiri pipinya. Kali ini Nindy sudah tak kuasa menahan tangis, tak mampu menyembunyikan sedih dan luka yang dirasakannya. Dan aku memeluknya erat.

***

Waktu berlalu begitu cepat, namun setiap kisah tentang aku dan Nindy segan lepas dari ingatan. Cita-cita, mimpi-mimpi, dan segala yang telah dirancang menghuni ruang paling dalam di benakku. Aku sungguh tak dapat melupakannya.

Lebih parah lagi, jam tangan yang ia berikan tak pernah mati atau rusak. Sejatinya aku bisa saja membuangnya dan membeli baru atau memakai pemberian dari perempuan yang sempat singgah di hidupku. Tapi semua tidak bisa menggantikan itu, meskipun ada yang lebih bagus dan mahal.

Jarum jam pemberiannya tak berhenti bergerak. Ia mengiringi setiap langkahku bahkan sampai tiga tahun lamanya. Hingga hari ini.

Aku sengaja tak melepasnya, jujur saja aku masih berharap bisa bersamanya. Empat tahun setelah lulus kita akan bersama dan menunaikan takdir. Itulah cita-cita dan mimpi-mimpi kita dahulu. Itu semua ada dalam kesepakatan masa depan yang telah dirumuskan.

Namun, aku sadar itu harapan yang tak mungkin terjadi. Dan kini justru Nindy lah yang benar. Ia mengucap sepatah kata sebelum berpisah kala itu. Nindy mengatakan bahwa aku yang akan menyesal karena memutuskan untuk berpisah. Aku yang akan merugi lantaran memilih melepasnya dan mengejar mimpiku sendiri. Aku juga yang akan meminta dengan sangat agar Nindy masih mau ikut bersamaku melamar takdir.

Bertahun-tahun tanpa sekalipun bertegur sapa, tentu menjadi penegasan bahwa ia sudah memiliki kekasih baru. Dan mereka pasti sangat bahagia, pikirku. Acapkali aku bertengkar dengan diri sendiri, saling caci antara pikiran dan hati.

Berbagai pertanyaan sesak di pikiranku. Bagaimana bila aku tak dapat melupakannya? Bagaimana bila ternyata hatiku tidak dapat menerima siapapun yang datang seperti yang sudah-sudah? Bagaimana bila nanti aku tak menemukan sosok sepertinya? Bagaimana jika ia tetap tinggal dalam ingatan dan aku terus terluka? Bagaimana bila tulisan-tulisanku tak ia baca meski sesekali dimuat di berbagai media? Aku sungguh tak pernah dapat menjawab semua pertanyaan itu, meskipun tiga tahun telah berlalu. Dan kusadari, aku benar-benar egois. Aku tak memikirkan kalau bisa saja hal yang sama sedang dirasakan Nindy saat ini.

Malam ini ada perayaan hari ulang tahunku. Kemudian Ibu memberikan selembar amplop putih padaku. Seraya mengucapkan selamat dan memintaku bersabar. Beliau juga menyampaikan bahwa ini dari seseorang yang mencintaiku. Dan aku sama sekali tak mengerti. Pun aku yakin pasti bukan dari Nindy, jelas saja karena akupun tak tahu keberadaannya apalagi Ibuku. Gumamku dalam hati.

Di pojok kanan atas amplop itu bertuliskan “buku kita akan tetap rampung sesuai rencana”. Bergegas aku buka kertas itu di teras rumah setelah kado lainnya telah usai aku bedah. Kertas itu hanya bertuliskan angka-angka. Dan angka itu persis sama dengan tanggal, bulan dan tahun tentang masa depan atau takdir yang akan aku wujudkan bersama Nindy. 280722.

Tengah malam menjelang Subuh, aku menangis dan memohon ampun pada Tuhan. Sekaligus mengucap syukur.

 __________

Khairus Syamsi, lahir di Sumenep. Tinggal di ujung timur laut Pulau Madura, tepatnya dusun Birampak, ds. Jenangger, kec. Batang-batang. Rutinitas sehari-hari sebagai pengajar di SMAN 2 Sumenep. Pernah menulis di rumah literasi Sumenep dan antologi cerpen “Menjulang Matahari tahun 2021. Aktivitas lainnya membaca kehidupan, baik secara langsung atau melalui buku-buku.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8164450296755359991

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item