Kemalingan Sandal


Cerpen:
Firda Aliya

Lagi-lagi sandal di masjid hilang. Kali ini tiga sandal sekaligus.

“Edan,” umpat salah satu jamaah yang clingukan mencari sandalnya di antara sandal berserakan di teras masjid.

“Sandalku juga gak ada,” susul  jamaah lain yang cukup keras suaranya hingga beberapa jamaah di dalam masjid menoleh ke arah suara itu.

Dari keriuhan sebagian jamaah di luat, beberapa jamaah yang sedang mengikuti dzikir ikut turun bergabung dengan sejumlah orang yang ribut urusan sandal hilang. Mereka seolah penasaran sandal siapa yang kali ini hilang. Samar tapi terdengar umpatan-umpatan jengkel ditujukan pada sang pencuri sandal.

“Tenang, tenang, Bapak-Bapak, tahan emosi kalian. Ini di masjid. Mari jaga ucapan,” seru salah satu jamaah yang tak lain ketua RT setempat.

"Bagaimana ini Pak RT, masjid kita sering dijarah maling.  Apa tindakan kita,” seru salah satu jamaah.

"Kami sudah cukup bersabar dengan kejadian ini. Mulanya kami pakai Homyped, Bata, dan lainnya. Kiranya maling sandal ini penggemar branded, eh, ternyata tidak!. Kini sandal jepit tak bermerkpun, disasak juga," sela jamaah yang untuk kesekian kali sandalnya amblas saat sholat jamaah di masjid.

"Apa motif si maling sandal ini, ya?,” tanya jamaah lain yang mencoba membongkar modus kejahatan di masjid.

"Mungkin ingin membuat kita tak nyaman datang ke masjid," tiba- tiba jamaah yang berpeci bahan rotan ini bersuara.

"Ah, tapi kenapa harus sandal yang dicuri. Bisa kan, barang yang diambil lebih berharga. Masjid ini cukup megah meski di kompleks perumahan: ornamennya, karpetnya, lampu-lampu hiasannya, bahkan kotak amalnya.  Masuk akal kan?, pencuri bisa mengambil itu semua?," lagi-lagi jamaah berpeci rotan ini menepis hipotesis yang dia buat sendiri .

"Kejahatan ini harus dibongkar. Diusut sampai tuntas. Kalau perlu kita seret pelakunya ke pengadian", tukas jamaah lain yang mengaku kenal dengan salah satu pengacara kondang di Jakarta .

"Benar, setuju. Bila dibiarkan terus, sama halnya kita membiarkan musuh dalam selimut. Ada warga di lingkungan kita berbuat dholim. Bukankah itu dosa? Padahal selama ini, lingkungan kita dikenal sebagai lingkungan  para ahli jamaah, para  pecinta masjid,” ujar yang lain.

Pak RT tak kuasa menahan berodongan pertanyaan para jamaah yang gusar ini. Saat dia belum bisa menghentikannya kegelisahan dan kekesalan para jamaah, namun sosok berbaju koko brown white dipadu sarung putih bergaris-garis coklat dengan  peci hitam menyela;

”Mari, kita duduk bersama di dalam,” sambutnya dengan suara rendah tapi jelas.

Masih dalam posisi berdiri, lelaki paruh baya yang kerap dipanggil pak ustad ini menyilakan para jamaah menuju tempat yang diharapkan. Beberapa jamaah pun mengikuti harapan tersebut, namun ada juga  jamaah yang tak menggubrisnya dan memilih pulang tanpa alas kaki sebab sandalnya hilang.

“Saya pulang saja, percuma dibahas. Toh, sandalku sudah hilang. Masjid di sini sudah gak aman,” omelnya sambil berucap salam yang dipaksa dan ngibrit dengan ekspresi kesal.

Di dalam masjid, sudah berjejer secara melingkar beberapa jamaah. Pak RT dan Pak Ustad duduk bersebelahan. Mereka berdua selama ini yang menjadi tumpahan kekesalan para jamaah. Protes-protes bermunculan seolah mempertanyakan kapan masjid kembali tenang tanpa lagi kehilangan sandal.

"Gara-gara sering kehilangan sandal, beberapa jamaah sudah tak tampak batang hidungnya Pak Ustad,” jelas salah seorang diantaranya.

“Mereka kapok. Gak ada kenyamanan lagi di masjid ini. Masjid jadi lebih sepi dari biasanya,” tambahnya, jamaah yang biasanya jadi muazin ini membuka pembicaraan.

"Kenyamanan masjid terusik,"

"Betul- betul bikin para jamaah resah,"

“Saya malah sekarang nyeker ke masjid daripada hilang sandal,”

"Rumah Allah dikotori oknum tak bermoral,”

"Dasar maling, gak punya otak,".

Dalam sekejap, suasana  saat itu berubah menjadi hiruk pikuk. Suara-suara itu tampak seperti nada protes entah ditujukan pada siapa. Tentu suasana tersebut cukup memprihatinkan, sebab Masjid As-Sholah yang cukup berwibawa di tengah masyarakat sekitarnya seolah-olah kehilangan jadi diri hanya karena sandah jamaah kerap hilang saat sholat jamaah.

Pak Ustadz kembali menenangkan para jamaah sambil mengangkat kedua tangannya ,isyarat agar kembali tenang.

“Jangan sampai masalah kemalingan sandal ini mengurangi keikhlasan kita beribadah. Ini hanyalah ujian ringan. Jangankan sandal, apa yang kita miliki: harta, anak, jabatan bahkan nyawa, hanyalah titipan dari Gusti Pengeran,” ujarnya sedikit menekan.

“Manusia hanya bisa berikhtiyar. Toh, semua sudah kita lakukan demi keamanan masjid ini. Selebihnya, kita bertawakkal. Kenyamanan dan ketenangan sebenarnya ada disini,” sambungnya seraya telunjuknya menunjuk kepala lalu ke dada.

“Ya, mungkin saja malingnya ini, ingin jadi juragan sandal Pak Ustad, tapi gak kesampaian,” celutuk salah satu jamaah sedikit bergurau.

“Berarti, malingnya gila, dong,” timpal orang disebelahnya yang akhirnya menjadi kelakar satu sama lainnya.

Malam semakin larut. Semua jamaah bubar barisan. Berbekal tausyiah dari Pak Ustad, mereka  yakin setiap ada kesulitan akan ada kemudahan. 

*********

Mendung di langit menggelantung sejak dari pagi. Sementara bunyi sirine ambulans meraung-raung melintasi jalan.  Tidak hanya sekali. Sehari bisa terdengar dua sampai tiga kali. Itu pertanda terlah terjadi lagi korban virus corona membagikan pesakitan atau kematian bagi warga.

Maka tak heran, pihak petugas dari pemerintah telah berbulan - bulan, menghimbau warga agar  tetap di rumah kecuali bila ada kepentingan yang tak bisa ditinggalkan.

Aturan demi aturan harus ditaati bila tak ingin kena dampak pandemi virus  mematikan ini. Sekarang  wajah harus ditutup mulai dari hidung hingga mulut. Setiap rumah atau bangunan menyediakan westafel, timba berisi air atau sejenisnya lengkap dengan handsanitizernya atau sabun cuci tangan. Semua jenis kerumunan ditiadakan. Termasuk kerumunan dalam masjid. Para jamaah diimbau salat di rumah saja  demi mencegah penyebaran virus ini.

Masjid  sepi bahkan sangat sepi. Hanya marbot masjid tampak menyapu lantai dan sesekali mengepelnya. Tidak ada karpet yang digelar. Sementara ,debu tebal yang mulai menutupi mimbar dan  kaca jendela  juga dilap hingga bersih. Dalam kondisi demikian, tak tampak satupun sandal di teras masjid.

“Kalau dipikir-pikir, lebih baik saya kehilangan sandal, Pak, daripada melihat masjid yang tak ada sandalnya seperti sekarang ini,” ucap marbot dengan aksen daerahnya dari Madura ini.

“Siapa juga yang menduga, kita sekarang dilarang shalat di masjid, “ tambahnya.

Pak Ustad yang saat itu sedang meninjau masjid  hanya tersenyum mendengar curhatan sang marbot.

"Masjid ditutup sementara demi keselamatan para jamaah. Salat bisa dilakukan di rumah berjamaah dengan keluarga saja. Ujian ini lebih berat daripada kemalingan sandal, ya,” tutur Pak Ustad sambil menepuk bahu marbot masjid.

“Apakah ini cara Allah supaya si maling tidak nyolong sandal lagi ya, Pak Ustad?,” tanyanya dengan nada penasaran

“Wallohu a’lam bis showab”.

Dari kejauhan samar- samar sirine ambulans kembali terdengar. Pertanda ada yang terancam kesehatannya atau nyawa sudah melayang.

( Mojokerto,11 Agustus 2021)

 

 

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4651760845616412756

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item