Asa dalam Nyata


Cerpen: Afiatur Rizkiyah

Nafisah sedang duduk di teras rumah, kala rintik hujan mulai jatuh menemaninya di sore itu. Aroma tanah yang khas mulai menguar dan tercium. Hembusan angin sepoi menyejukkan raga. Dedaunan melambai tertiup angin. Namun, Nafisah tetap sibuk dengan gawainya, tidak sempat menikmati indahnya karunia Tuhan. Dia sedang asyik menjelajah, entah apa yang sedang dicarinya.

“Hilya, sini sebentar!,” seru Nafisah memanggil puterinya.

“Ada apa, Bunda?,” jawab Hilya, mendekati ibunya.

“Ini lho, Bunda sedang mencari info tentang pondok pesantren yang kamu inginkan. Sepertinya Bunda sudah temukan beberapa yang cocok,”

“Ya, Bun. Nanti aku pelajari, jika sudah menyelesaikan tugas sekolah. Makasih, Bun!” jawab Hilya sembari membalikkan badan beranjak kembali masuk ke dalam rumah.

Hilya memang ingin melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, begitu lulus SMP. Keinginan Hilya untuk mondok sebenarnya terasa cukup memberatkan bagi Nafisah dan Ilham, suaminya. Sebab Akbar, kakak Hilya, juga akan melanjutkan kuliah. Berat bagi Nafisah yang hanya seorang PNS golongan rendahan dan Ilham yang hanya mempunyai usaha kecil di rumah. Ke depan tentu akan membutuhkan biaya besar yang harus dipersiapkan untuk pendidikan kedua anaknya, apalagi belajar ke luar kota. Belum lagi, ketika harus berpisah dengan dua anak sekaligus, jika mereka berdua sudah mengikuti pendidikan nanti. Dada Nafisah makin berat memikirkan hal itu.

Namun, Nafisah tidak ingin menampakkan pikiran berat yang dirasanya, pada kedua anaknya, terutama Hilya. Nafisah khawatir akan melemahkan semangat puteri tercintanya belajar di pondok pesantren untuk meningkatkan hafalan Quran yang sedang ia pelajari saat ini. Walaupun ada pondok pesantren bagus di daerahnya, Hilya ingin mondok ke luar kota.

Begitu pun dengan Akbar putera sulung Nafisah, sebentar lagi juga lulus SMA. Dia akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Akbar ingin lebih mendalami kemampuan di bidang komputer. Kebetulan tidak ada perguruan tinggi yang memiliki program studi sesuai keinginan Akbar, di kota kelahirannya Sehingga Akbar harus melanjutkan studi ke luar kota pula.

Menjelang tidur, seperti biasa Nafisah mengajak Ilham berbincang. Kali ini mereka membicarakan kelanjutan studi putera-puteri mereka.

“Gimana, nih, Mas. Sepertinya Akbar dan Hilya sama-sama ingin belajar ke luar kota. Menurut Mas, kita bisa nggak, ya, membiayai mereka?” tanya Nafisah, membuka perbincangan.

“Entahlah, aku tidak bisa menjawab. Apalagi saat ini, kondisi pekerjaanku sedang tidak stabil. Menurutmu?” Ilham balik bertanya.

“Aku juga bingung, Mas. Melihat semangat dan keinginan Hilya yang begitu besar, aku tidak tega untuk menghalangi kemauannya. Apalagi keinginannya sangat mulia. Ingin mendalami hafalan Quran,” jawab Nafisah sembari menarik selimut merah jambu di kakinya.

“Biarlah, Hilya mewujudkan keinginannya. Mari kita pasrahkan semua kepada Allah. Kita minta petunjuk dan jalan terbaik dari-Nya.”

“Namun, aku masih teringat terus kata-kata kakakku tempo hari. Dia saja yang ekonominya sudah mapan, menyatakan  ketidaksanggupannya jika harus membiayai kuliah plus pondok pesantren dalam satu waktu sekaligus. Apalagi jika melihat kondisi ekonomi kita, yang pas-pasan kayak gini,” gumam Nafisah resah.

Ilham merebahkan badannya di samping Nafisah, kemudian berbisik, “Udah, kita tidur dulu, yuk. Nanti bangun dan salat tahajud minta petunjuk pada-Nya.”

Nafisah tersenyum, mendengar bisikan Ilham. Hati Nafisah menjadi tenang. Dia pun tidur dengan lelap dalam dekapan hangat suaminya.

Keesokan harinya, saat sarapan, Nafisah memanggil Akbar dan Hilya. Ilham sudah menunggu di ruang makan.

“Akbar… Hilya…, ayo sarapan!”

“Ya, Bun,” sahut Akbar sambil membenahi seragam sekolahnya.

“Mana adikmu?” tanya Nafisah lagi.

“Barusan kulihat dikamarnya sedang merapikan jilbabnya, Bun.”

“Cepetan, Dek. Sudah ditunggu, nih,” seru Akbar memanggil adiknya.

“Siap, Bang! OTW, nih,” Hilya datang sambil senyum-senyum manja.

Nafisah dan Ilham saling pandang, mereka senang dengan keakraban kedua putera mereka. Ada saja tingkah Akbar dan Hilya yang membuat ayah bunda mereka bahagia dan bangga. Setelah semua berkumpul, Nafisah mengajak putera-puterinya berbincang tentang rencana studi mereka.

“Bagaimana, tidur kalian tadi malam, Akbar, Hilya?” tanya Nafisah, mengawali percakapan.

“Alhamdulillah, nyenyak, Bun!” jawab Akbar dan Hilya, nyaris bersamaan.

“Oh, ya, Hilya. Apa kamu sudah membaca tautan informasi pondok pesantren yang Bunda kasih kemarin?” tanya Nafisah pada Hilya.

“Sudah, Bunda. Pendaftaran dimulai dua minggu lagi.”

“Oh, gitu, ya? Apa kamu sudah sreg dengan pilihanmu itu?” tanya Nafisah penuh selidik.

“Tentu dong, Bun. Kata teman-temanku yang lain juga, di sana enak katanya, Bun,” sahut Hilya bersemangat.

Mendengar jawaban puterinya itu, Nafisah tersenyum kecil, lalu berpaling dan menatap Akbar, putera sulungnya.

“Bagaimana denganmu, Akbar? Apa kamu mau mengikuti saran tantemu yang sedang kuliah di Bandung?”

Akbar, sih, mau-mau saja, Bun. Tapi apa Bandung tidak terlalu jauh? Apalagi Akbar belum pernah ke sana,” jawab Akbar, balik bertanya.

“Ya, menurut Bunda, Bandung memang jauh. Tapi kan ada tantemu yang juga kuliah di sana,” sahut Nafisah.

“Menurut ayah, gimana?” tanya Nafisah sambil menoleh pada Ilham.

Ilham yang sedari tadi hanya diam mengikuti pembicaraan, menghela nafas panjang.

“Hem… Ayah tergantung Akbar. Jika yakin dengan pilihannya, Ayah setuju saja. Jangan sampai kelak menyesal apalagi menyalahkan Ayah maupun Bunda,” jawab Ilham.

“Kalau begitu, Akbar persiapkan nilai raport yang akan diisikan pada pendaftaran nanti,” kata Nafisah sambil menata sarapan yang siap untuk disantap.

“Ayo, kita sarapan dulu. Kita lanjutkan pembicaraan nanti sepulang kalian dari sekolah,” sela Ilham.

“Siap, Ayah! Hilya sudah lapar, nih!” kata Hilya.

Begitulah perbincangan keluarga Nafisah pagi itu. Seusai sarapan, Akbar dan Hilya berangkat ke sekolah. Nafisah juga berangkat menuju sekolah tempatnya mengabdi sebagai guru.

Beberapa hari kemudian  Akbar melakukan pendaftaran di perguruan tinggi pilihannya. Proses pendaftaran dilakukan secara online, tapi pelaksanaan tes nantinya  dilakukan langsung di Surabaya. Akbar mengikuti tes seleksi diantar oleh Nafisah. Saat pelaksanaan tes tersebut, kebetulan Nafisah sedang kurang enak badan akibat menstruasi.

Rasa sakit kerap dialami Nafisah setiap bulan terasa sangat mengganggu. Hingga Nafisah terpaksa memeriksakan diri ke dokter akibat sakit yang dideritanya ini. Dari hasil pemeriksaan di diagnosa mengalami penebalan dinding rahim dan harus dikuret  Namun, Nafisah tidak mau dan takut mengikuti saran dokter. Nafisah lebih memilih menggunakan produk-produk herba untuk mengatasi rasa sakitnya.

Begitu juga saat mengantar Akbar mengikuti tes. Walaupun rasa sakitnya belum berkurang, Nafisah tetap semangat menemani anak laki-lakinya itu sampai selesai mengikuti pelaksanaan tes, dan kemudian langsung pulang. Sedangkan pengumuman hasil seleksi akan dikirim melalui email oleh pihak perguruan tinggi kepada tiap peserta.

“Bun, doakan ya, agar Akbar berhasil,” pinta Akbar pada bundanya penuh harap. “Tadi saat mengerjakan soal,  Akbar kurang yakin. Sulit sekali, Bun.”

“Tentu, Akbar. Doa Bunda selalu menyertaimu,” jawab Nafisah sembari  membelai rambut Akbar.

Beberapa hari setelah Akbar selesai mengikuti tes, kini giliran Hilya melakukan pendaftaran online pada salah satu pondok pesantren di Mojokerto. Dari hasil seleksi administrasi, Hilya dinyatakan lulus, dan diminta datang ke ponpes untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya.

Keberangkatan Hilya ke Mojokerto, tidak hanya bersama ayah dan bundanya. Om dan tante Hilya, serta kakek dan nenek turut  mengantarkan. Hilya sangat berbahagia karena semua keluarga mendukung keinginannya. Sejak pagi, Hilya sudah siap mengikuti tes secara langsung. Dengan percaya diri dan penuh semangat, Hilya mengikuti interviu yang diadakan pihak ponpes.

Saat Hilya mengikuti interviu, Nafisah dengan keluarganya lainnya menunggu Hilya di ruang tunggu keluarga yang telah disediakan panitia. Nafisah mengajak suaminya berkeliling menyusuri kawasan ponpes untuk melihat-lihat keadaan ponpes lebih dekat. Nafisah ingin memastikan bagaimana keadaan ponpes yang akan ditempati puterinya nanti. Nafisah berharap Hilya akan betah jika Hilya benar-benar lulus tes dan belajar di sana.

Hanya saja, ada satu hal yang membuat Nafisah jadi berpikir ulang. Sebab, Nafisah melihat, santriwan dan santriwati di pondok tersebut, mengikuti kegiatan bersama-sama. Tidak terpisah, sebagaimana pondok pesantren lain yang pernah Nafisah datangi. Ada kekhawatiran terselip di hatinya. Namun, hal ini tidak ia ungkapkan pada suami dan keluarganya yang lain.

Usai interviu, salat dan makan siang, Nafisah dan seluruh keluarganya akhirnya kembali pulang. Nafisah mengingatkan Hilya untuk terus berdoa agar tes yang telah diikutinya mendapatkan hasil menggembirakan sesuai harapan.

Setelah penantian cukup lama, Akbar mendapat kabar gembira tentang tes yang telah diikutinya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Namun, kebahagiaan yang dirasakan berbanding terbalik dengan apa yang diperoleh Hilya.

“Bunda, Hilya gagal,” kata Hilya dengan wajah sedih.

“Sudahlah, sayang. Jangan berkecil hati. Bunda tahu, kamu sudah berusaha. Walaupun kamu tidak jadi belajar di ponpes, tunjukkan bahwa kamu bisa berprestasi di tempat yang lain.  Yakinkan dirimu, di balik kegagalan, ada sukses tertunda.”

“Semoga, Bunda!” batin Hilya tersenyum kecut sembari merangkul bundanya.

*****

Afiatur riskiyah. Wanita yang genap memasuki usia 45 tahun, Penulis yang berprofesi sebagai guru di SDN Pandian V ini, berharap bisa segera menerbitkan buku tunggal baik dalam bentuk cerpen maupun jenis tulisan yang lain. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran para pembaca demi karya yang semakin baik. Dalam hal ini, pembaca bisa menghubungi penulis melalui WA +62823 3148 1654 atau alamat email: rizkiyah.afiatur@gmail.com

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3494869981085860671

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item