Ziarah

Ziarah (foto: Abd. Rasyid)

Abd. Rasyid

I

Karunia Tuhan yang sangat indah. Ahad 29 Agustus 2021 aku bersama temanku (Mahfudz) Ahmad Mahfudz diperkenankan sowan ke Asta (red; bahasa Madura) Syaikh Jumadil Kubro dan Mbah Marijan di lereng Gunung Merapi. keinginan untuk sowan (Ziarah) ke peristirahatan terakhir beliau berdua sebenarnya sudah lama mendekam di daftar kunjunganku ke para hamba Allah yang dipercayai oleh banyak orang sebagai hamba-hamba pilihan. Ya, sekitar awal singgah di kota yang dikenal dg kota pendidikan, kota budaya, and kota kuliner khususnya gudeg dan bakpianya itu, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketertarikan yang lahir dari keinginanku semakin menjadi-jadi ketika di beberapa perjumpaan dg teman-teman, aku disuguhi cemilan kisah yang cita rasanya diambil dari historis perjalanan dua hamba Allah yang diyakini wali tersebut. Di tempat lain, di sebuah acara pengajian umum yang kebetulan mubaligh-nya adalah Kiyai NU, sebut saja "Gus Muwafiq'' panggilan akrab yang biasa dilontarkan kaum 'nahdiyin' kepada beliau. Kiyai yang dari sekian ceramahnya selalu menyajikan menu dg bahasa sederhana, penuh kelakar, lengkap dengan penyebutan wasilah keilmuan layaknya matarantai yang tiada putus hingga kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Keterangan-keterangan dari beliau inilah yang terus membuatku tambah terpincut untuk menetapkan hati, menyambung "riyadhah" pada dua hamba pilihan yang wangi jasadnya terus merekah dipelukan lereng Gunung Merapi itu.

Perjalanan ke sana sungguh sangat menyenangkan. Entah berapa jauh jarak yang harus aku dan temanku tempuh dari tempat kami untuk bisa sampai ke tempat itu, aku lupa 'google map' saat itu mencatat berapa Km, tapi yang pasti lebih dari 20 Km-an. "Embuh", pokoknya perjalanan ke sana itu 'super-duper' banget kesannya. Kalau digambarkan dg kalimat puitis kira-kira seperti ini bait-baitnya;

"di pagi hari yang sudah tak terdengar kokok ayam//kota yang sangat khas keistimewaannya itu/ mulai dilalui lalu-lalang bising kendaraan//aku dan temanku yang beberapa hari lalu terikat janji/bersiap-siap menunaikannya//alangkah indah/alangkah megah//pagi yang belum betul-betul pergi/ masih sempat meninggalkan sepotong dingin//yang mungkin ia sengaja titipkan pada angin/ agar dibaca oleh kami yang sedang melakukan perjalanan//sedang di ujung pandang/ arah Utara dari mata angin//lereng Merapi terlihat menjinjing rok kabutnya/ yang sedari tadi tidak luput dari pandangan mentari pagi//laju kendaraan terus terpacu//pohon-pohon hijau nan rindang di kiri-kanan mengucap salam dg kicau burung-burung/ yang saling kejar-mengejar dari satu ranting ke ranting lain//sesekali aku memejamkan mata/lalu tersenyum menjawab salam dari mereka//".

Motor "Karisma" milik temanku itu tiba-tiba berhenti. Eh, ternyata sudah sampai ke halaman parkiran, tempat penitipan kendaran pengunjung yang hendak 'sowan' ke makam Mbah Jumadil Kubro.

Kamipun melanjutkan petuangan yang sangat menyenangkan itu. Sebelumnya kami harus mencari petunjuk dulu dg bertanya kepada warga setempat, jalan mana yang harus kami lalui untuk sampai ke makam Mbah Jumadil Kubro?. Jawaban sekaligus isyarat dari mereka sudah cukup untuk dijadikan bekal perjalanan kami berikutnya. Lereng gunung yang tampak hijau-rimbun diselimuti bulu-bulu halus kabut itu, sangat sumringah menyambut kami.

Kemudian, di kaki lereng gunung itu, kami dicegat oleh jalan simpang tiga. Karena tidak mau kesasar, kami terpaksa mengajukan pertanyaan untuk yang sekian kali. Kebetulan, tak jauh dari kami ada beberapa warga yang tampak sedang bergotong-royong (ada yang memotong kayu, ada yang gotong batu, dan ada juga yang nyangkut pasir). Karena posisi seorang pemuda yang gotong batu lebih dekat dan memungkinkan untuk diajukan pertanyaan, kami memilih ia untuk menghapus pertanyaan terkait simpang tiga dibenak kami yang segera memerlukan jawaban. Pemuda penggotong batu itu, menunjuk jalan sebelah kiri untuk kami lalui. "naik saja sampek mentok, mas" ucapnya, melengkapi isyarat tangan yang lebih dulu ia ajukan sebagai jawaban. Sesudah mengucapkan terimakasih, jalan ke sebelah kiri yang berundak sesuai petunjuk pemuda tadi kami pilih.

Undakan yang penuh belokan menuju makam Mbah Jumadil Kubro lumayan menantang dan penuh kesan.

II

Suasana di kaki lereng gunung Merapi sejuk sekali; jalan setapak yang menusuk rimbun hutan nampak jelas menyisakan jejak pengunjung yang hendak 'sowan' untuk 'ngalap' berkah ke makan Mbah Jumadil Kubro. Gemericik air dari pipa besi milik warga ataupun entah milik siapa itu, telah berhasil menyempurnakan awal pendakian aku dan temenku. Di sisi lain, banyak pepohonan besar nan liar saling berdesakan dg berbagai jenis pohon liar yang lain. Sekawanan bambu pun terlihat tak mau mengalah berduyun-duyun melambaikan tangan menyambut kedatangan kami. Kamipun senang, semakin semangat mengawali pendakian.

Bismillah. Undakan-undakan yang pasrah itu siap mengantar aku dan temenku menuju persemayaman Mbah Jumadil Kubro. "anyar", gumamku. Iya, undakan-undakannya memang terlihat baru dibangun; pasir, batu, dan jejak para pekerjanya masih terlihat jelas di penglihatan kami sepanjang pendakian. Semakin banyak kami melafalkan salam langkah kakikami pada undakan-undakan itu, semakin penuh pula decak kagum kami berdengung di lubuk dada. Kabut yang sedari tadi hanya mampu kami sapa melalui interaksi kornea dan cahaya; kini ia bertengger di tangkai kain baju kami, di pucuk bulu tangan, di atas hamparan kulit, dan semua peralatan yang pada saat itu kami bawa.

Perjalanan terasa masih cukup panjang. Setelah beberapa kali aku dan temenku melewati belokan, kami memilih istirahat sejenak sambil menikmati suguhan Tuhan berupa pemandangan yang memukau. [Layaknya 'trend' orang kebanyakan, berfoto ria adalah rukun kesempurnaan kegiatan yang wajib ditunaikan; kamipun menunaikannya dg cukup baik dalam perjalanan kali ini..hehehe]

Istirahat sebentar sudah, kami pun melanjutkan pendakian.

Pada ketinggian tertentu (sekitar -+¼ perjalanan lagi sampai ke makam), kami yang sangat jarang melakukan pendakian, cukup

merasakan pergulatan hebat yang ditandai dg tak beraturan keluar-masuknya udara dari hidung ke alat pemompa yang bernama paru-paru di dalam dadakami. Tapi alhamdulillah, hal itu dapat diatasi dg memperlambat laju langkah kakikami.

Pendakian ke makan Mbah Jumadil Kubro hanya tinggal beberapa meter lagi; pemandangan dan pesona alam lereng Gunung Merapi sudah tak ter-bahasa-kan lagi di pengucapan kami.

Oh iya, kami hampir lupa. Undakan menuju makam Mbah Jumadil Kubro belum selesai sampai puncak pemakaman saat itu. Yaa, sekitar -+ tinggal 10-15 M-an lagi. Tapi, tidak masalah, justru ketidakselesaian itu semakin menambah ke-eksotisan alam yang pada kesempatan 'sowan' berikutnya mungkin tak akan kami temukan. Pada ketinggian itulah, kami tak lagi bisa menyaksikan lambaian pohon-pohon, perumahan, gedung-gedung, dan pemandangan lain di pedataran bumi Yogyakarta; kabut perak, pepohonan dekat, semak-belukar, nyanyian burung, dan bising kendaraan kota saja yang dititik itu dapat kami perhatikan dan kami dengar.

Dari jalan setapak menanjak tak berundak itu, terlihat bendera merah-putih menyala di ketinggian tiang bambu. "sakecca' aki' dapa' la Cong/sebentar lagi akan sampai" ucap Mahfudz, teman yang sangat baik itu, yang sambil terus berusaha memperbaiki tata keluar-masuk udara dari mulut dan hidungnya. Benar!, setelah naik beberapa langkah lagi kamipun sampai, dan bendera merah-putih itu memang berdiri tegap di pagar makam Mbah Jumadil Kubro. Bisa jadi ada warga setempat atau pengunjung tempo doeloe yang sengaja menaruhnya sebagai tanda.

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga. Sejenak kami selonjoran untuk merilekskan otot-otot yang sudah hebat mengantar kami berpetualang ke makam Mbah Jumadil Kubro. Karena di makan sudah ada pengunjung lain yang mendahului kami, tak elok rasanya jika tak sekata-patahpun keluar dari pengucapan kami untuk hanya sekedar mengucap salam pada mereka. Percakapanpun terjadi di antara kami. Tak berselang lama, kami memohon izin mendahului mereka, untuk segera 'sowan' ke Mbah Jumadil Kubro.

'Sowan' ke Mbah Jumadil Kubro selesai kami lakukan, saatnya uji kelayakan rem otot di turunan lereng Gunung Merapi, jalan menurun dari persemayaman Mbah Jumadil Kubro ke kaki gunung tempat parkir kendaraan kami. Ceritanya pun tak jauh berbeda pas waktu pendakian. Hanya nambah cerita rem otot, jumlah "cekrekan" kamera yang lebih banyak, dan jumlah sapaan pada para pengunjung yang mulai berdatangan.

"Cari warung ya, beli minum dan sekalian makan" ujarku pada Mahfudz yang tampak sudah siap meluncur dg motor Karisma putihnya itu. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang sambil lihat kiri-kanan milih warung yang rejeki pemiliknya dititipkan Tuhan pada kami. Selang beberapa saat, akhirnya kami memilih berhenti di warung makan yang ada di sebelah kiri jalan dari arah kami pulang, yang di tabel menunya terpampang pilihan menu soto, lothek, kupat, dll lengkap dg keterangan harga nominalnya. Aku memilih langsung duduk saja, sedang Mahfudz ke Mbak penjual untuk memesan teh hangat dan soto. Eeh lothek ding, sotonya pas kosong, ya maklum udah jam 11an kami sampai di warung itu.

Sambil menunggu, kami baru ingat bahwa sebelum berangkat memiliki rencana yang tidak hanya 'sowan' ke makam Mbah Jumadil Kubro, melainkan juga 'sowan' ke makam Mbah Marijan.

sumber dari akun FB Abd. Rasyid


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4443106416876902127

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item