Mahasiswa IDIA Harus Lebih Kreatif dan Produktif.

Ali Harsojo saat menyajikan materi bidang non fiksi

Dekade tahun 80-90 an, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep pernah mengalami kejayaan dalam bidang pengembangan sastra, dengan banyak melahirkan sastrawan dan penulis handal di tanah air. Bahkan kehidupan sastra di pondok menjadi barometer kebangkatan sastra di Madura.

Hal ini dibuktikan banyak nya para sastrawan nasional secara bergantian mengunjungi ponpes ini seperti Taufik Ismail, WS Renda serta sejumlah sastrawan dan seniman tanah air bersilih berkunjung ke pondok modern

Sajian untuk kelompok putri

Namun dalam perkembangannya, Al-Amien semakin tertinggal dalam mengikuti gerakan sastra, akibatnya praktis di pondok ini kesulitan untuk bangkit karena tidak ada penggerak yang bisa menjembatani tumbuhnya dunia kesasteraan

Institus Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep, merupakan  bagian kekuatan Pondok Pesantren Al-Amien berusaha membangkitkan kembali kejayaan masa lalu dengan cara, antara lain gerakan literasi yang diselaraskan dengan berbagai aktivitas dari masing-masing jurusan yang ada.

Juwairiyah Mawardi saat memberikan materi fiksi

Salah satu misalnya, pelatihan menulis secara berkala, dengan harapan memberikan konstribusi meski dalam bentuk pelatihan terbatas sebagaimana digagas oleh Badan  Eksikutif Mahasiswa Ma’had (BEMA) IDIA dalam memperingari Milad Institut Dirosah Islamyah Al-Amien (IDIA) ke 38, dengan  menyelenggarakan  Semarak Literasi antara lain berupa Pelatihan  Karya Tulis Ilmiah, berupaka Pelatuhan Menulis Fiksi dan Non Fiksi  Ahad,  di gedung Rektorat  (5 September 2021)

Namun demikian, menurut Ali Harsojo penulis yang telah menerbitkan lebih dari 75 buku ini, pelatihan sangat lambatkan menghasilkan karya tulis.

Nur Khalilah Mannan menyakikan non fiksi kelompok putri

“Menurut saya mahasiswa disini harus lebih massif lagi menumbuhkan kreatifitas melalui berbagai aktivitas misal dalam bentuk diskusi, kajian serta menerbitkan buku-buku sastra,” ujar penyaji materi yang juga salah pengurus Rumah Literasi Sumenep.

Hal ini juga diperkuat oleh alumni IDIA tahun 2012, Nur Khalilah Mannan. Perempuan yang juga tamatan Salafiyah Syafiiyah Situbondo ini menyebut IDIA mengalami kemunduran bidang kepenulisan dibanding ia waktu belajar di kampus ini

“Kontinyuitas dalam berkarya seharusnya menjadi tolok ukur sebagai gerakan bidang literasi, khusus dalam menulis. Selain itu ekspose ke publik sangat dibutuhkan, meski disini memiliki media cetak dan media online, namun karya mahasiswa harus mampu dibuktikan di media-media nasional,” ungkap perempuan penulis ini.

Kelompok putra


Hal ini juga disepakati oleh para mahasiswa dalam bincang seusai acara pelatihan. Dan tentu dengan harapan ke depan, IDIA menjadi roh kehidupan dunia sastra dan kepenulisan. (syaf)

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6422512820853391999

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item