Saya, Bintang, dan Linda


Cerpen: M. Nur Hayat Octavianto

Saya seorang guru disalah satu SMP Negeri kecamatan, tepatnya di SMPN 1 Kecamatan Guluk-Guluk Sumenep. Di halaman sekolah ini halaman terdapat banyak pepohonan dan rindang, sejuk, dan asri. Diantaranya juga terdapat kolam dan kasebo yang disediakan untuk sekedar refresing dan tempay berleha bagi warga sekolah. Sekolah saya pernah memenangkan lomba sebagai sekolah sehat, mungkin karena sejuk dan asri serta warga sekolah yang selalu menjaga kebersihan sekolahnya.

Dengan memenangkan lomba sekolah sehat, kami bangga dan senang. Antusias siswa menyambut kemenangan itu diekpresikan dengan menyalami guru-gurunya dan pengelola lembaga ini. Semua siswa bersuka-cita dan berbaris dengan tertib ketika menyambut moment yang saangat membanggakan itu.

Waktu berlalu dengan cepat, pembelajaran berlangsung seperti biasa. Sampai waktunya liburan semester 1 di tahun 2019 tiba. Memasuki pembelajaran di awal 2020 kami melaksanakan pembelajaran sebagaimana mestinya. Kemenangan sekolah kami masih melekat di benak guru dan siswa. Masih menjadi perbincangan hangat di kalangan warga sekolah.

Memasuki bulan maret 2020 kami digoncangkan dengan berita yang membuat hati saya resah, yaitu kabar pandemik Covid 19. Ini merupakan kabar mengagetkan sekaligus membuat cemas banyak orang. Virus mematikan merajalela dan dapat menyerang siapa saja, anak-anak, orang dewasa, dan orang tua. Pemerintah melarang sekolah untuk melakukan pembelajaran, diganti dengan pembelajaran dari rumah.

Sekolah ditutup dan masyarakat dilarang keluar rumah jika tidak ada kepentingan serta  dilarang berkerumun. Kami melaksanakan pembelajaran dari rumah dengan sebutan PJJ atau pendidikan jarak jauh. Kami melakukan hal yang baru dan kami harus melakukan kegiatan itu dengan menggunakan pesan media social WhatsApp (WA).

Guru memberikan materi dengan mengirimkan materi dan tugas melalui WA. Mungkin ini yang dapat kami lakukan agar pembelajaran tetap berlangsung walupun belajar dari rumah. Awalnya siswa masih ada yang tidak paham tentang PJJ ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa dan orang tua yang mendatangi guru-guru ke sekolah berkaitan dengan materi yang dikirim melalui WA.

Semuanya bergerak bahu membahu, orang tua lebih intens memdampingi anak-anaknya untuk mengerjakan materi agar tidak ketinggalan. Ada juga siswa yang tidak ada kabar beritanya. Strategi yang saya lakukan  dengan mendatangi rumah anak tersebut. Ternyata anak ini tidak punya ponsep android, karena memang orang tua mereka tidak mampu untuk membelikannya, sebab diantara siswa kebanyakan dari keluarga menengah ke bawah dan bahkan ketegori miskin.

Yang membuat saya bangga yaitu Bintang dan Linda dua sahabat ini selalu datang ke sekolah untuk mengerjakan tugasnya. Mereka memanfaatkan fasilitas jaringan wifi yang ada di sekolah. Sekolah kami memang menyediakan wifi untuk menunjang pembelaran dan dapat digunakan oleh warga sekolah.

Dua sahabat ini, Bintang adalah siswa kelas 8 rumahnya cukup jauh dari sekolah. Bintang berasal dari keluarga berkecukupan. Ayahnya seorang PNS  dan ibunya seorang guru. Bintang termasuk siswi cerdas. Dari hasil tugas yang dikirimkan, nilai-nilainya termasuk nilai yang tertinggi di antara teman-temannya. Dia termasuk siswa cukup aktif dan digiat belajar.

Bintang pintar dan cerdas dalam memanfaatkan sarana belajar di sekolah. Ini terbukti dia selalu memanfaatkan perpustakaan untuk belajar. Dia biasanya bersama sahabatnya, Linda datang ke perpustakaan. Meski sebenarnya kegiatan berdua ini dilakukan sebelum pandemi. Bintang juga tidak malu bertanya kepada guru tentang materi yang tidak dia pahami. Selama pandemi ini dia sering berkunjung ke rumah saya untuk sekedar bertanya tentang materi yang diberikan.

Linda, sahabat Bintang ini tak kalah pintar dan cerdas. Linda berasal dari keluarga sederhana, Ayahnya seorang wiraswasta yang pendapatannya tak menentu. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Linda selama melakukan PJJ setiap harinya selalu bersama Bintang. Dua sahabat ini selalu bersama untuk menyelesaikan tugas yang dikirim gurunya. Dia juga pintar dalam memanfaatkan sarana sekolah untuk belajar layakny seperti Bintang.

Seiring berjalannya waktu melawati bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2020, kami melewati bulan itu dengan rasa berbeda. di bulan Ramadhan yang biasanya sholat tarawih di masjid ataupun musholla penuh dengan jamaah, di bulan ini sedikit yang datang. Hal ini dikarenakan adanya larangan untuk jaga jarak. Begitu juga dengan Hari Raya Idul Adha, tradisi saling silaturrahim juga tidak kami lakukan karena alasan yang sama.

Pembelajaran jarak jauh berlangsung kembali setelah libur hari raya. Sekolah masih harus melaksanakan atiran itu dengan mengirimkan materi dan tugas melalui media social. Hal ini kami lakukan dengan rasa jenuh. Bergitu juga Bintang dan Linda, mereka merasakan hal sama. Mereka merindukan suasana bersekolah seperti biasa. Bertemu dengan teman dan gurunya. Berangkat ke sekolah setiap hari dengan berseragam. Kerinduan suasana yang didambakan baik guru dan siswa.

Bintang dan Linda tetap melaksanakan PJJ penuh dengan kesabaran. Setiap  hari  mereka dating ke sekolah memanfaatkan wifi yang ada di sekolah. Dua sahabat ini saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Di bulan September pemerintah membolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Ini dilakukan sebagai uji coba memasuki new normal. Sekolah diperkenankan melakukan proses pembelajaran dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan, jumlah siswa dalam satu kelas  hanya 15 siswa  serta mengatur jarak per kursi minimal satu meter. Siswa harus membawa bekal sendiri dan sekolah menyediakan tempat cuci tangan di masing-masing kelas.

Kegiatan PTM ini hanya diberlakukan tiga hari dalam satu minggu. Kami melakukan PTM selang seling di setiap minggunya, minggu ganjil dimulai hari senin, rabu, dan Jum’at. Sedangkan minggu genap dimulai dari hari selasa dan kamis. Kegiatan ini sangat menyenangkan bagi para siswa, setelah sekian lama tak bertemu dengan teman-temannya dan memakai seragam. Para siswa datang ke sekolah dengan riang gembira, mereka mendatangi gurunya untuk bersalaman namun tetap mematuhi protokol kesehatan.

Suasana gembira dirasakan juga oleh Bintang dan Linda. Dua sahabat yang selalu bersama, baik di kelas maupun di luar kelas tak terpisahkan. Meraka mengikuti pelajaran dengan hitmatnya, seperti biasa mereka selalu menyelesaikan tugas dari guru lebih awal mengumpulkannya. Mereka selalu bersaing dalam suka  dan duka, saling menyemangat selama menjalankan kegiatan pembelajaran.

Memasuki bulan November 2020, sekolah saya mengadakan kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS). Kegiatan PTS ini dilaksanakan secara PJJ dan PTM, jika PJJ kami mengirim soal melalui media social melalui Google Class Room dan WA. Untuk Pertemuan Tatap Muka (PTM) para guru memberikan soal dan lembaran yang sudah disediakan. Ini kami lakukan dengan semangat dan riang gembira.

PTS dilaksankan dari hari Senin sampai hari Jum’at. Selesai Penilaian Tengan Semester, sekolah kami mengadakan Kegiatan Tengah Semester (KTS) secara online. Kegiatan berupa lomba-lomba, yakni lomba menulis dan baca puisi. Lomba menulis dan baca puisi dilakukan dari rumah masing-masing siswa dengan mengirimkan foto dan video melalui WA.

Bintang dan Linda pun mengikuti lomba menulis dan membaca puisi ini. Mereka juga mengikuti lomba-lomba lainnya, dan menandakan bahwa mereka siswa yang aktif. Selain menyemarakkan KTS kedua sahabat itu ingin memperbanyak pengalaman dalam menggali potensi diri. Sudah dapat diduga bahwa pemenang dalam lomba menulis dan membaca puisi yaitu Bintang dan Linda. Kali ini Bintang lebih beruntung, dia mendapatkan juara satu sedangkan Linda mendapatkan juara dua.

Bintang dan Linda menerima hadiah berupa uang pembinaan dan sertifikat dari sekolah. Hadiah ini diberikan secara virtual dan disaksikan oleh para siswa secara online agar para siswa tahu dan mempunyai semangat seperti Bintang dan Linda. Mereka dapat dijadikan contoh bahwa di masa pandemi Covid 19 ini tidak menyurutkan semangat dalam belajar.

xxxxx

M. Nur Hayat Octavianto, lahir di Sumenep 20 Oktober 1980. Memiliki Moto, Berdo’a, Berusaha, dan Berserah diri. Mencoba menulis dari pengalaman yang didapat dalam pelatihan Webinar Menulis Fiksi Realis. Ini bagian langkah awal untuk menyalurkan pengalan yang didapat dalam menulis. Menulis cerpen realis merupakan pengalaman yang tiada tara dan bagian dari usaha untuk menyalurkan minat dan bakat serta keluar dari rasa aman yang merupakan tuntutan guru dimasa kini dan masa yang akan datang. Guru seyogyanya harus bisa menelorkan karya, apalagi sebagai guru bahasa Indonesia. Tetap semangat dan jangan putus Asa.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6222716430435674484

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item