Kepribadian Dalam Apapun Termasuk Seni


Hari Prajitno

(Jumat sehat, baca sebelum atau sesudah jum'atan bagi yang berangkat)

Kata “kepribadian” dalam bahasa inggris disebut “personality”, sementara kata “persona” berasal dari bahasa yunani berarti “topeng”. Topeng, semacam selubung atau cadar yang kita kenakan di depan wajah kita tak ubahnya bermain drama atau teater bahwa di saat kita berperan manjadi “a” maka kita akan mengenakan topeng “A”, begitu juga saat berperan “b” maka mengenakan topeng “B” dan seterusnya.

Begitu kata “kepribadian” itu berakar dari makna yang lebih luas-adaptif yang semula bahwa pelepasan “topeng” itu boleh dan bisa dilepas setiap saat tinggal seberapa kepentingan yang akan dihadapi. Artinya kata “kepribadian” sebenarnya adalah kata yang netral yang mana berarti bisa disepadankan dengan pengertian “adaptasi”.

Kini sesudah renesans ditingkatkan menuju modern, kata “kepribadian” mengalami penyusutan makna bahwa artinya dipahami sebagai “hanya” tentang satu keadaan atau sikap seseorang yang boleh dikatakan sebagai kemenetapan yang dilawankan pada bila seseorang itu tidak berpribadi berarti orang itu sebagai mencla-mencle, “isuk dele sore tempe” yang berarti bila kita sudah terlembaga oleh masyarakat sebagai “dele/ kedelai” maka kapanpun adalah sebagai kedelai sampai akhir hayat, atau bila kita “kedelai” hanya boleh menjadi “tempe”.

Latar Belakang

Padahal kita tahu bahwa kedelaipun bisa dijadikan tahu, dimakan begitu saja sesudah ditanak atau digoreng atau bisa jadi menjadi tauwa ataupun sekadar taucing/ soya (susu kedelai). Artinya kepribadian itu adalah suatu proses untuk sedang menjadi, walau apa yang ada tentang kecenderungan pada diri tetaplah “tidak berubah” secara kualitas walau kualitas itu juga adalah sedang berproses untuk sedang menjadi.

Kepribadian Di Dalam Seni dan Kehidupan

Benarkah apa yang dikata kepribadian dalam suatu lukisan adalah hanya tentang objek yang begitu itu terus menerus termasuk style gaya ungkapnya (baca: teknis). Tidakkah kepribadian adalah bagai “topeng” yang mana di saat kita remaja tentunya secara kualitas akan sekualitas remaja dan hingga berlanjut bahwa “topeng-topeng” itu akan berubah seiring waktu.

Mungkin “ya” bila kita sedang dalam taraf studi yang mana memang studi itu diwajibkan untuk mengkotakkan “objek” nya dalam kerangka pembelajaran tertentu saja agar bisa diukur karena suatu penilaian. Bila di dalam studi seni lukis diwajibkan terfokus hanya tentang “objek” tersebut dengan style gaya tertentu sampai lulus yang mana hal ini demi suatu penilaian yang membutuhkan ukuran akademisi.

Dari tafsiran yang sempit itulah bahwa kita merasa “dikekang” bahkan sampai luluspun tetap ngugemi “style” yang itu-itu saja terus menerus yang dengan alasan bahwa gaya seseorang itu tidak boleh berubah yang dikaitkan dengan kepribadian yang musti menetap.

Ataukah bagi seniman-seniman yang sudah mapan-kaya bahwa perubahan itu tidak menguntungkan? Karena kolektornya akan enggan mengkulak kembali karena sudah berubah, ha ha ha kok masih percaya pada kolektor kita, mereka itu cuma penjaja barang kelontong yang hanya berselera pasar.

Tidak beda kita secara umum akan menyatakan bahwa “kesedihan” termasuk juga kebahagiaan akan mengalami penyusutan, padahal kita tahu bahwa kehidupan sejak dari awal telah mengantongi kesedihan dan kebahagiaan; tinggal seberapa kita saja mampu memahami bahwa “kesedihan” tidak menjadikan kita menangis tersedu-sedu golong-koming secara lebay begitu juga dengan kebahagiaan akan menjadikan terbahak-bahak berlebihan seakan kesedihan atau kebahagiaan itu terus menerus menetap abadi.

Seperti salah paham terhadap “topeng” sebagai simbol kepribadian yang melekat menjadi satu ke wajah yang tidak bisa dilepas. Tidak ada suatu yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri dan masalah “kepribadian” bagaimanapun itu “bentuk” kepribadian kita bila memang letaknya di dalam mengapa juga harus seperti mati-matian dipertahankan kalau sekiranya sikon kini yang memang berkebutuhan untuk berubah, mengapa tidak.

Yang menjadi masalah bahwa pengertian “topeng” itu kini menjadi menyusut yang mana diandaikan sebagai “ketidak-aslian diri”, keadaan bahwa yang bertopeng adalah yang sedang berperilaku “tidak jujur” yang mana secara asal-usul kata (filologinya) tercerabut demi percepatan modernitas yang terus berlari seakan tanpa jedah bahwa hampir semua kata yang ada diredusir menuju kebendaan materialis saja.

Kata-kata yang sudah mengalami penyusutan itu adalah hanya beberapa contohnya seperti: “prioritas”, “sarjana”, “seni”, “agama”, “wali”, “guru”, “murid” dan sebagainya bahkan “Tuhan”. Sehingga bila kita akan menggunakan salah satu dari kata di atas musti menegaskan kembali apa yang dimaksud oleh mereka tentang arti, nilai, makna tersebut untuk kita sepadankan pemahamannya terlebih dahulu sebelum pembicaraan bisa dilanjutkan.

Penutup

Kita adalah bukan juga fisik ini dan sekaligus juga bukan jiwa ini, buktinya bila kita tersandung (atau lumpuh) maka kita baru tahu kalau kaki yang tersandung (lumpuh) tadi telah terlepas dari diri, artinya kita telah menyadari bahwa si kaki yang lumpuh tidak mau menuruti diri untuk bergerak.

Begitu juga kita bukanlah pikiran kita, contohnya bila kita stress judeg atau hal terpuruk lainnya kita menjadi “tak sadarkan” diri untuk menjadi tidak mampu bertindak apa-apa, sementara diri ini jelas tidak menginginkan keterpurukan itu, bukan.

Memang perubahan bukanlah dijadikan sebagai keinginan sebelum kebutuhan akan raga dan jiwa sudah mampu mewadahi akan perubahan itu. Sehingga perubahan adalah sedang menuju sebagai kemampuan menerima atas dasar kebutuhan bukan yang menjadi tujuan sebagai dasar keinginan.***

Sumber: Akun FB  Hari Prajitno




POSTING PILIHAN

Related

Utama 7295194924391857365

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item