Keidiosinkretisan Dan Kemomentanan Apresiasi Sastra

Penyair Syaf Anton Wr, saat membacakan puisi

Djoko Saryono

Di muka sudah disinggung ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan proses berlangsungnya apresiasi sastra. Ihwal keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini perlu dijelaskan dan ditegaskan supaya penjelasan tentang keberanekaragaman dan faktor-faktor yang memengaruhi proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang konstan, tetap, dan tidak berubah. Sebabnya, kecenderungan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra dan faktor-faktor yang memengaruhinya berkaitan erat dengan keindividualan, keidiosinkretisan, dan kemomentanan ini.

Keindividualan proses keberlangsungan apresiasi sastra mengisyaratkan bahwa proses berlangsungnya apresiasi sastra senantiasa bergantung pada pribadi-pribadi pengapresiasinya, bukan orang lain yang menuntun, membimbing, dan memberitahu pengapresiasinya. Orang lain tidak menentukan proses keberlangsungan apresiasi sastra, melainkan hanya membantu mengembangkan atau memekarkan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra yang dilakukan oleh pengapresiasi.

Keindividualan berkaitan dengan keidiosinkretisan. Adanya keidiosinkretisan mengisyaratkan bahwa proses keberlangsungan apresiasi sastra bergantung pada karakteristik pribadi pengapresiasi. Kualitas pribadi, misalnya wataknya, emosinya, kepercayaan dirinya, etosnya, pathosnya, dan logosnya, menentukan mekanisme proses keberlangsungan apresiasi sastra. Hal ini membuat setiap pengapresiasi sesungguhnya memiliki proses apresiasi tersendiri. Tidak ada dua pengapresasi atau lebih yang memiliki proses yang persis sama. Perbedaan selalu ada.

Kemomentanan menunjukkan bahwa proses keberlangsungan apresiasi sastra sebenarnya terikat waktu dan suasana. Ini berarti dari satu saat ke saat lain terdapat perbedaan proses keberlangsungan. Bilamana kualitas pribadi pengapresiasi kuat, tidak mudah terpengaruh oleh waktu dan suasana, perbedaan proses keberlangsungan apresiasi memang kecil. Akan tetapi, jika pribadi pengapresiasi mudah terpengaruh waktu dan suasana, maka akan terjadi perbedaan besar proses keberlangsungan apresiasi sastra. Oleh karena itu, kadar kemomentanan selalu berkaitan dengan kadar keindividualan dan keidiosinkretisan pengapresiasi.

Sehubungan dengan itu, kecenderungan proses keberlangsungan apresiasi dan faktor-faktor yang memengaruhinya hanyalah sebuah sketsa umum atau sebuah mosaik. Dalam kenyataannya, proses keberlangsungan apresiasi sastra tidak sesederhana penjelasan-penjelasan di muka. Kenyataannya sangat renik dan rumit, mustahil dipetakan secara lengkap dan sebagaimana adanya. 


Tulisan bersambung:

  1. Makna Apresiasi Sastra
  2. Pokok Persoalan Apresiasi Sastra
  3. Wilayah Garap Apresiasi Sastra
  4. Status Kehadiran Apresiasi Sastra
  5. Tujuan Apresiasi Sastra
  6. Fungsi Apresiasi Sastra
  7. Keterpaduan Fungsi Apresiasi Sastra
  8. Kehadiran Apresiasi Sastra 
  9. Prasyarat Keberlangsungan Apresiasi Sastra  
  10. Keanekaragaman Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  11. Yang Memengaruhi Apresiasi Sastra 
  12. Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  13.  Keidiosinkretisan Dan Kemomentanan Apresiasi Sastra  
  14.  Jati Diri Pengapresiasi Sastra  
  15. Keragaman Pengapresiasi Sastra 
  16. Bekal Dasar Pengapresiasi Sastra 
  17.  Bekal Lanjut Pengapresiasi Sastra



POSTING PILIHAN

Related

Utama 2834073888046467298

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item