Emak

 Cerpen: Fataty Maulidiyah

 

Akhirnya aku paham, mengapa emak mengajariku mencuci beras, lalu menanaknya sampai menjadi nasi. Aku juga diajarinya cara membuat tumis daun kangkung, menggoreng tempe maupun tahu, dan bahkan mengenalkanku beberapa bahan dasar untuk memasak, bawang putih, bawang merah, cabe, tomat, juga kecap dan penyedap serta lainnya. Ia juga mengajariku cara mencuci piring dan alat memasak lainnya. Emak juga menunjukkan tempat dimana mengambil kayu bakar dan cara menyalakan kayu di tungku, bahkan juga mengajariku membuat minuman teh dan kopi. Dan tentu, saat itu usiaku sekitar 10 tahun.

Apa yang disuruh dan dijarkan emak aku menurut saja, tidak membantah maupun menolaknya.  Aku biarkan naluriku mengikuti kehendak emak, aku pasrah, karena aku sayang dan merasa satu kewajiban sebagai pengabdianku pada emak.

Emak juga bertanggung jawab mengurus dan merawat ayah, yang selama ini diserang penyakit batuk yang tak berkesudahan. Dan bahkan penyakit itu sampai mengeluarkan dahak merah atau berdarah. Akibatnya tubuh ayah tampak kurus  dan lesu. Dan waktu itu, aku sering melihatnya kelelahan. Setelah memasak dan menyuapiku, aku lihat ia mengusap tubuh ayah dengan air hangat pakai handuk kecil. Aku juga pernah melihatnya sering keluar membawa banyak daun pisang. Katanya dibawa ke pasar, agar bisa membeli beras.

Ingatanku makin menajam saat emak mengajariku banyak hal setelah ayah meninggal.  Katanya, aku harus mengerti pekerjaan rumah sebab ia akan sering berada di luar rumah untuk bekerja. Seingatku apa saja  dikerjakannya. Tetapi katanya ia sering tidak mendapatkan pekerjaan. Sampai suatu ketika emak menyuruhku memotong rambut panjangnya yang biasa digelung itu menjadi sangat pendek.

Dan setelah itu, emak sudah tidak lagi memakai kain kain panjang atau jarik. Pakaian jenis itu telah dibungkus dengan dimasukkan dalam lemari dan tidak akan dipakai lagi. Ia juga gemar  merokok, entah apa alasannya. Suaranya mulai berubah agak berat. Emak kini sering memakai kaos dan celana, membawa parang, dan jalannya menjadi sangat gagah. Emakku kini sangat kuat. Pernah aku melihatnya mampu memanjat pohon kelapa, sewaktu diminta orang memetik kelapa. Dan tentu dari kerja itu dapat sekedar pengganti uang lelah, meski tak seberapa. Katanya bisa buat makan seminggu. Aku tidak berani bertanya, kata emak aku tidak boleh bertanya, entah apa sebabnya.

***

Setelah menyeruput secangkir kopi yang  kuseduh, ia mengencangkan ikat pinggangnya, mengambil parang, lalu memakai topi dan menghisap sebatang rokok. Aku sudah terbiasa menyediakan sarapan buatnya. Nasi sepiring penuh dan tiga potong tempe goreng. Katanya, hari ini sarapannya harus banyak, ada pekerjaan yang berat, begitu katanya. Ada rumpun bambu yang harus ditebang, dan ia bekerja bersama dua pria lainnya.

Rumah kami ada di tengah kebun, dan menempati sebuah gubuk bekas gudang hasil pemberian orang. Kami hanya hidup bertiga saat itu, saat masih ada ayah. Keberadaan rumah kami memang tidak menyatu dengan kampung. Sehingga hanya beberapa saja yang mengenali keberadaan kami. Setelah ayah meninggal, kami berpindah tempat.

***

Tempat baru kami berada di perkampungan yang agak padat, dekat perkotaan. Emak menyewa satu kamar dari beberapa bilik kos-kosan. Apapun emak kerjakan; menyemir sepatu, tukang angkat barang di pasar, kuli bangunan dan sebagainya. Tidak ada yang mengenali kami. Di tempat baru ini, kata emak agar lebih mudah dapat pekerjaan dan bisa makan dari hasil kerjanya. Saat itu usiaku sekitar 15 tahun.

Kadang dalam kesendirian, aku merindukan sosoknya yang dulu, yang lembut dan tegar. Senyumnya yang sangat manis, tutur katanya yang menenteramkan hati, juga suaranya menekan tatkala menasehatiku. Aku juga merindukan cara emak bersedih. Emak dulu sering meratap sambil memelukku. Katanya, hanya akulah sumber kekuatannya. Dia sering menangis di malam hari, namun esok paginya sudah bersikap biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku masih ingat, emak terlihat sangat cantik saat rambutnya digerai. Juga ketika dia menjahit beberapa bajuku. Aku yang selalu menolongnya memasukkan benang pada lubang jarum. Emak juga pandai mendendangkan tembang jawa. Sambil ia menidurkanku. Sungguh aku masih mengingat dan sangat merindukan saat-saat itu.

Tak lelo…lelo…lelo ledung…
Cep menenga, aja pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune

Tak gadhang bisa urip mulya
Dadiyo wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendekaring bangsa….

Wis cep menenga…anakku…
Kae.. mbulane ndadari
Kaya ndas buta nggegilani
Lagi nggolekki cah nangis..

Tak lelo lelo ledhung
Cep menengo ojo pijer nangis
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis romo ibu bingung

Namun saat-saat itu juga kami lebih sering menangis. Menangis karena kelaparan dan tak ada seseorangpun yang mengetahui betapa parahnya keadaan kami. Hanya satu dua orang yang kadangkala memberi kami sebatang dua batang singkong. Emak pantang meminta-minta. Hanya saja saat itu tak banyak yang membutuhkan tenaga emak, sehingga kami tidak  bisa membeli apapun.

***

Kulihat kini tangannya sangat kasar dan berotot. Emak juga mengenakan cincin akik, tertawanya seperti laki-laki. Sering ngopi dan mengisap rokok. Ia juga jarang menangis. Sejak penampilannya berubah, taraf hidup kami sedikit meningkat. Setiap hari kami makan nasi. Aku juga sangat senang akhirnya bisa merasakan mi instan dengan berbagai rasa. Suatu hal yang sangat jarang kuperoleh. Aku juga bisa sekolah dan berpakaian layak.  

Setiap hari ada makanan di rumah, itu yang paling penting. Sehingga kini tubuhku sudah lebih berisi karena tidurku yang nyenyak. Kata Emak tugasku hanya patuh, rajin menjaga dan membersihkan rumah , belajar tekun dan sekolah. Hanya itu.  Sekarang pekerjaan emak tidak terlalu keras. Ia ikut seorang juragan sembako di pasar induk. Dengan penampilannya itu, dan emak tidak pernah berniat merubahnya, ia hanya bertugas  menjaga gudang persediaan untuk di bawa ke toko. Sesekali disuruh melayani pembeli.

Majikannya juga baik. Emak boleh pulang lebih cepat jika ada keperluan mendesak. Majikannya itu juga seringkali membawakan sembako. Kadangkala emak pulang membawa beberapa mi instan, telur dan minyak goreng. Seringkali juga beberapa kilo beras. Kami sudah tidak kelaparan lagi.

***

Pagi itu emak menyuruhku berganti pakaian yang rapi dan memakai kerudung. Emak tetap memakai celana, kaos lengan panjang dan memakai topi. Ia membawa tas dan memasukkan kain di dalamnya, juga sebuah buku kumpulan doa yang sudah usang.

“Nduk, hari ini kita ziarah ke makam ayahmu,” katanya sambil merapikan diri.

Kami menuju tempat tinggal kami yang lama, di dusun awal kami bermukim. Sebenarnya aku enggan ke kuburan tersebut, tempat itu mengingatkan penderitaan yang telah kami lalui. Bahkan aku tidak suka jika mengingat bagaimana kami bisa tinggal di sebuah gubuk yang lebih pantas disebut kandang itu.

Dusun itu masih sama. Hanya saja gubuk tempat kami tinggal dulu sudah tidak ada. Itu aku ketahui ketika melintas di kebun menuju makam. Emak memang memiliki daya ingat yang kuat. Meskipun nisan ayah tidak ada namanya, hanya balok kayu yang dibenamkan setengah, emak tahu itu adalah makam ayah.

Dengan cekatan emak menyiangi rumput-rumput liar yang tumbuh sekitar makan, yang tampak hanya nisan balok kayu itu. dibukanya kantung plastik berisi bunga tujuh rupa yang kami beli di pasar, juga botol bekas berisi air yang dibawa emak dari rumah. Aku mendengar mulutnya berbisik sambil menabur bunga dan menyiramkan air itu sepanjang makam.

Kulihat emak membuka topi, lalu memgambil kain dari tasnya yang ternyata sehelai kerudung. Emak mengenakannya dengan rapi. Lalu membimbingku untuk mengikuti apapun yang dibacanya dari buku doa yang usang itu. Aku tak berani menatapnya. Seringkali aku menundukkan kepala dan menatap nisan kayu. Tapi aku tidak tahan untuk tidak melihat emak saat itu.

Aku mencuri pandang ke arahnya. Aku melihat dengan jelas. Emak sedang menangis. Aku sudah hampir lupa bagaimana dia menangis. Memang aku ingin melupakan bagaimana emak menangis seperti masa di gubuk itu.  karena tangisan di gubuk itu mengingatkanku tentang banyak rasa sakit. Melihat ayah sekarat, kami bertiga kelaparan, merasa sendirian dan tidak dipedulikan dunia. Aku tidak mau mengingat tangisan itu.

Lagi-lagi aku mencuri pandang ke arahnya. Ia masih menangis. Kulihat raut emak yang biasa teguh itu kini terlihat begitu rapuh. Airmatanya deras mengalir, sampai-sampai kulihat beberapa kali kerudung yang dipakainya itu  untuk mengusap airmatanya. Tetapi aku tahu, tangisan itu bukan tangisan rasa sakit dan derita. Emak sangat rindu pada ayah. Sedangkan aku rindu keduanya. Rindu pada ayah dan emak.

RestArea, 15-16 April 2021
21.57







POSTING PILIHAN

Related

Utama 5581998497709733988

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item