Dengan Cahaya Ilahi Damaikan Hati Damaikan Negeri


Islam merupakan agama yang rahmatan lil’alamin, agama yang membawa rahmat, kasih sayang bagi seluruh alam, perdamaian dunia merupakan dambaan islam. hal ini telah termaktub dalam kitab suci al-Qur’an “jika mereka condong kepada perdamaian,maka condong pulalah kepadanya, dan  berserah dirilah kepada Allah. Jika meeka bermaksud menipumu,maka cukuplah Allah sebagi pelindungmu (QS.Al Anfal,61-62). Sehingga peperangan sebab dorongan ambisi, fanatisme, ras, atau kepentingan suatu bangsa untuk menindas bangsa yang lain tidaklah dibenarkan dalam agama islam. kecuali terpakasa melakukan peperangan karena karena untuk meraih perdamaian, yang dikenal dalam bahasa islam lii’la kalimatillah (untuk meninggikan agama Allah).

Diperbolehkan berperang dengan musabbab seperti ini juga tidak dapat memungkiri bahwa islam adalah agama adalah agama yang cinta perdamaian, sebab dalam perang sendiri agama islam juga memiliki peraturan dalam berperang. Seperti ,dilarang menebang pohon, menodai lingkungan, menghormati anak anak, wanita, dan orang tua.

Mengenai cara untuk mewujudkan perdamaian penulis memiliki paradigma yang cukup logis dan dapat diharapkan, yaitu dengan mendamaikan jiwa setiap pribadi. Dari kedamaian jiwa setiap pribadi inilah diharapkan tumbuh menjadi kedamaian keluarga, masyarakat, bangsa, dan diharapkan terus meningkat hingga terwujudnya perdamaian dengan seluruh makhluk, dan berpuncak pada perdamaian negri yang kekal dengan anugrah Tuhan.

Berkaitan dengan jiwa, maka qalbu merupakan pembahasan yang harus untuk di sajikan berdasarkan relasi keduanya yang sangat erat. Sebagaimana di dalam buku ini penulis telah memaparkan seputar qalbu, baik menurut KBBI, yang dipahami sebagai pangkal perasaan batin, hingga hadist yang menyatakan urgensi qalbu terhadap anggota badan yang lain, seperti ”kalau ia baik, maka semua anggota badan menjadi baik. dan kalau ia buruk, maka menjadi buruk pula semua badan”. (HR.Bukhari dan muslim). 

Berdasarkan hadist ini maka qalbu dituntut untuk selalu lapang dan luas. dengan melapangkan hati kebenaran dapat memperoleh cahaya yaitu lentera hati, yang dapat membuat seseorang mampu membedakan kebenaran dan kebatilan yang membisiki hati. karena tidak semua yang berasal dari hati selalu benar.krena mengikuti hadist nabi SAW. kadang ia merupakan lammah malakiyah (bisikan malaikat) dan kadang merupakan lammah syaitaniyah (bisikan syaithan). bahkan bisa jadi ia merupakan bisikan nafsu

Buku dengan judul lentera hati ini merupakan antologi dari tulisan tulisan mufassir tanah air yang telah diterbitkan di koran pelita. namun dengan sedikit perubahan redaksi, dan tambahan penjelasan oleh penulis sendiri, karena sudah tidak terlalu relevan. tema yang disajikan merupakan tema yang masih populer dan sangat penting untuk masyarakat islam implementasikan dalam kehidupan mereka, agar tecipta negri yang aman dan damai.

Selain menekankan nilai-nilai spritual, buku ini juga sangat menekankan nila- nilai sosial, demi terwujudnya ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. karena dalam kehidupan bermasyarakat sering kali organisasi keagamaan, aliran (madzhab politik) keagamaan berebut perhatian dengan bemacam strategi  diantaranya dengan teknologi, seperti media pengeras suara hingga bermacam media yang lainnya. Mereka merasa suara yang paling keras  adalah bahasa beragama yang niscaya agar didengarkan  bahkan menang. sedangkan jalan sunyi hanya pantas bagi mereka yang lemah sehingga agama terdengar sangat riuh bahkan gaduh.

Sementara dalam spiritual, buku ini sangat banyak membahas mengenai problematika yang kerap kali tejadi di masyarakat, semisal shalat yang dikerjakan hanya untuk menggugurkan kewajiban shalat, tanpa mengetahui apa esensi dari shalat itu sendiri sehingga tidak dapat merasakan kenikmatan dan kekhusuan di dalam melakukannya. Padahal menurut imam Al Qurtubi, kata perintah shalat yang banyak di sebutkan di dalam Al Qur’an itu tidak berasal dari kata ”qama” yang bermakna berdiri melainkan yang berarti “berkesinambung dan sempurna”. Sehingga perintah tersebut berarti “melaksanakan shalat dengan baik, khusuk, dan bersinambung sesuai dengan syarat, rukun, dan sunnah-sunnahnya.

Jika demikian, betapa banyak orang yang terkena ancaman surah Al Ma'un, karena tidak sedikit orang yang tidak menghayati arti dan tujuan shalatnya.

Dengan hadirnya buku ini penulis memilih jalan tengah antara sunyi dan gaduh untuk berbahasa dalam agama. sehingga kecil kemungkinan menimbulkan kebencian dan kedengkian, juga melalui suara sejuk dan teduh agar mendekatkatkan hidup pada kedamaian hati dan ketenangan jiwa untuk menyongsong perdamaian sebagaimana yang didambakan di dalam agama Islam.

Menjalin persaudaraan merupakan tema yang juga penulis sajikan karena pentingmya hal tersebut dalam tatanan kehidupan bermasyarakat baik seiman atau tidak. islam yang rahmat pun dapat kita tampakan melalui pebuatan perbuatan kita, tiidak hanya di bicarakan dari ujunhg barat ke timur, sebagaimana sebuah qaul: lisanul hal afshahu min lisanil maqal.

Buku ini menghimpun banyak sekali persoalan, terlebih mengenai keagamaan, mulai dari Al-Qur’an, iman, islam, hingga masalah menjalin persaudaraan. penulis mengupasnya secara apik dan menarik, dengan tetap berpegang teguh pada sumber sumber yang muktamad, terutama Al-Qur’an dan hadist sehinggga semua yang tersaji di dalam buku ini tidak perlu di ragukan kembali kehujjjahannya, walaupun setiap manusia memiliki peluang untuk salah.

Terakhir, buku yang sangat syarat demgam keilmuan ini hadir di tangan pembaca sebagai usaha penulis untuk mangembalikan intisari agama sebagai nasihat,sebagai agama yang rahmatan lil’alamin, yang menebar kasih sayang bagi seluruh alam.dengan tidak menyulitkan urusan-urusan keagamaan. Berdasarkan ayat “Allah tidak menjadikan sedikit kesulitan pun dalam hal beragama”(QS.Al-Hajj,78). sehingga islam dapat tampak sebagaimana namanya,sebagai agama yang teduh bukan agama yang keras, yang penuh dengan kefanatikan, atau bahkan sebagai agama teroris, sebagaimana nonmuslim memandang islam.

Berdasar hal tersebut, menjadi sangat penting untuk megimplementasikan apa yang terkandung dalam buku ini, khususnya bagi para pendakwah atau bagi golongan yang identik dengan sebutan garis keras. (Moh. Bahrudi)




POSTING PILIHAN

Related

Utama 3647474105975355884

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item