Diyakini Menghuni Sepanjang Kali Londo Surabaya
Berburu ‘Buaya Putih’ di Pesisir Jawa Timur (3)


Pintu Air Jagir Kali Londo Surabaya

Catatan ramban: Mashuri Alhamdulillah

Ngombe degan duk Treteg Ijo
Dikira prawan tiba’e duwe bojo
Cik gelane, Rek!

Kini, Treteg Ijo atau Jembatang Hijau memang sudah menjadi sejarah dan tinggal nama di Surabaya. Disebut Treteg Ijo karena warna rangkanya hijau dan dibangun oleh tentara pada zaman dulu. Namun, keberadaannya sebagai jembatan semi-permanen di atas Kali Jagir atau Kali Wonokromo di kawasan Semampir, Surabaya, yang juga disebut juga sebagai Kali Londo, demikian legendaris. Terutama terkait mitos Bajul Putih, alias Buaya Putih.

Sahdan, aliran sungai di Surabaya selatan itu disebut Kali Londo karena merupakan sudetan yang dibuat Belanda dari Sungai Kalimas, yang bertolak dari Jagir Wonokromo menuju timur ke Medokan Semampir dan Wonorejo Rungkut. Karena itu, sudetan itu kemudian dikenal sebagai Kanal Londo atau Kali Londo. Entah bagaimana awalnya di sepanjang Kali Londo itu muncul cerita tutur tentang Buaya Putih, yang mendiami sepanjang kanal buatan itu.

Tentu saja, kisah Buaya Putih di Kali Londo itu berbeda dengan kisah asal-usul Surabaya yang diyakini bermula dari legenda pertarungan Suro (ikan hiu) dan Boyo (buaya). Buaya Putih di Kali Londo adalah sebuah cerita tersendiri. Mungkin karena Surabaya termasuk sebagai kota pesisir atau kota sungai, yang karib dengan habitat buaya. Bahkan, pada perkembangan kiwari, ada yang maksa memasukannya sebagai urban legend.

Menurut hasil ramban dari catatan sejarah, sudetan Kalimas atau kanal Londo itu digarap Belanda pada tahun 1856. Tujuannya agar air sungai Kalimas, yang berasal dari Sungai Brantas tidak melimpah ketika di dataran Soerabaia, sehingga terjadi banjir. Selanjutnya, pada tahun 1912, dibangun pintu air Jagir Wonokromo, yang sekarang sering disebut dengan Rolak Jagir. Pembangunan pintu air, yang dalam masa lalunya disebut dam itu sudah dilakukan Belanda pada beberapa kawasan sekitar tahun 1889-an, seperti, Dam Gubeng, Ngagel, Wonokromo, dan Gunung Sari. Pintu air Gunung Sari kini sering disebut dengan Rolak Gunungsari.

Di beberapa pintu air itu juga terdapat kunci, yang dalam bahasa Belanda disebut Sluizen, yang bisa dibuka dan ditutup. Tujuannya agar kapal-kapal dapat melintas, karena pada masa Belanda, sungai-sungai di Surabaya adalah urat nadi transportasi. Bahkan sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno dulu, sungai di Surabaya juga menjadi urat nadi perekonomian penting. Selain itu, pintu air itu dibangun sebagai antisipasi Surabaya dari ancaman banjir, karena sejak dulu, kota ini rentan banjir.

Di balik sejarah yang tercatat, cerita tutur yang berkembang di Kali Londo sangat khas Soerabaia kampung. Terdapat keyakinan bahwa di sepanjang Kali Londo itu dihuni Buaya Putih. Ihwal keberadaan makhluk mitos ini memang tak diketahui bagaimana asal-usulnya, tetapi kehadirannya di kawasan Jagir, Nginden, Kedung Baruk, di sekitar Treteg Ijo, dan Medokan Semampir demikian santer terdengar. Tentu, semuanya itu berlangsung sebelum Reformasi 1998. Bahkan menjadi mitos tersendiri di Treteg Ijo. Kini, jembatan yang dibuat pascatahun 1960-an itu telah dibongkar dengan adanya Jembatan MERR, sebagai perpanjangan dari proyek jalan Lingkar Timur Surabaya.

“Mitos itu sudah lama ada di sekitar Treteg Ijo. Saya tidak tahu bagaimana awalnya, tetapi masyarakat mempercayainya. Ketika saya kecil, saya sudah sering mendengarnya,” jelas kawan karib, yang merupakan warga Rungkut. “Tetapi ini kan masih Surabaya, saya kira mitos buaya itu sah-sah saja, karena legenda kota ini juga melibatkan buaya. Namun, saya kurang paham detailnya,” lanjutnya.

Ketika ditelusuri lebih jauh di sepanjang aliran Kali Londo, ternyata di kawasan Medokan Semampir terdapat punjer terkait dengan keyakinan masyarakat tentang buaya. Apalagi sejak zaman baheula, kawasan itu adalah rawa-rawa. Di sana terdapat punden yang dikeramatkan warga terkait dengan Buaya Putih. Punden itu berada di sebelah selatan Perumahan Medokan Semampir. Jaraknya sekitar 300 meter dari pemukiman warga.

Di dalam cungkup, terdapat tiga ‘makam’, yang nisannya dibalut dengan mori putih. Namun sangat sulit mencari ketepatannya apakah punden itu sebenarnya makam atau hanya petilasan. Warga setempat menyebutnya punden. Bangunannya dulu berpagar bambu. Ukurannya 6 x4 meter. Diberi cungkup dengan atap genting. Entah sekarang bagaimana rupanya karena sudah 5 tahun lebih saya tidak blusukan ke sana. Kisah di balik bangunan sederhana itulah yang terkait mitos Buaya Putih.

“Yang berada di tengah itu adalah punden Mbah Putri. Ia diapit oleh dua buaya peliharaannya,” tandas warga setempat, yang nggedabrusnya layak dipercaya.

Sayangnya, ia mengaku tidak tahu bagaimana sejarah asal-usul Mbah Putri, sebagaimana beberapa warga lainnya, yang kebanyakan pendatang. Namun, berdasarkan apa yang pernah ia dengar dan ketahui dari tradisi cangkeman, dua buaya itu adalah binatang peliharaan Mbah Putri. Kedua buaya itu merupakan sepasang dan diyakini sebagai pasangan raja dan ratu. Buayanya juga bukan buaya sembarangan karena itu jenis Buaya Putih. Suatu ketika Mbah Putri wafat, kedua buaya itu ikut tuannya mati. Hal itu merupakan bukti kesetiaan pada junjungannya.

“Makanya ada yang menyebut Mbah Putri sebagai Nyai Angonboyo. Oleh karena itu, di sekitar sini sering muncul buaya, mungkin karena raja dan ratunya dimakamkan di sini,” jelasnya.

Sementara itu, di kalangan masyarakat juga muncul versi lain dari cerita tutur tersebut. Diyakini bahwa Mbah Putri itu adalah jelmaan Dewi Sri, yang dikenal sebagai Dewi Padi dalam tradisi Jawa. Adapun komposisi di makam berbeda. Menurut versi ini, makam di samping Mbah Putri adalah satu buaya biasa dan satunya buaya putih. Keduanya bertempur untuk memperebutkan kekuasaan, lalu mati sampyuh atau mati kedua-duanya. Keduanya lalu dikuburkan di samping Mbah Putri. Sebagai cerita tutur, tentu kembali berpulang kepada diri masing-masing. Hal itu karena bersumber pada sebuah kisah yang telah berusia ratusan tahun dan sudah mengalami berbagai modifikasi seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Tuku rujak cingur nang Keputih
Aja lali mampir Kembang Jepun
Cukup nggedabruse bajul putih
Kapan-kapan bisa diambung, eh disambung


Grogolan, 2020

Sumber: akun FB Mashuri Alhamdulillah



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1873472667155612240

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item