Alat Transportasi Andal Kiai Sindujoyo
Berburu 'Buaya Putih' di Pesisir Jawa Timur (2)


Sumber gambar: Jurnal Masyarakat & Budaya

Catatan ramban:  Mashuri Alhamdulillah

"Sindupati kang jejuluk, kang punika Gusti kawula, kang dedukuh ing Dermaling"

Demikanlah "Serat Sindujoyo", khasanah naskah pesisiran Jawa Timur, pada halaman 132, menggurat pengakuan induk Buaya Putih yang anaknya berhasil dilepaskan oleh Kiai Sindujaya dari belitan akar bakau di pesisir Gresik. Pengakuan itu digurat dalam metrum macapat pesisiran, dalam bahasa Jawa baru (yang sering keliru disebut sebagai Jawa Kuno oleh beberapa kalangan), dan berabjad Arab pegon.

Dalam naskah yang disalin pada akhir abad ke-19 tersebut, yakni dalam ilustrasinya, disebut bahwa Dermaling itu berada di Bangkalan. Namun dalam penelusuran, Dermaling itu tidak saya temukan di pulau garam. Dalam sebuah momen, karena hubungan baik pascapembebasan Buaya Putih peliharaan Sindupati, Sindupati mengajak Sindujaya pergi ke salah satu rumahnya di Tanggul, yang kini sangat mungkin berupa Desa Tanggul Rejo di Kecamatan Manyar, Gresik, yang berada di bibir Bengawan Solo. Tentu, pelayaran mereka menyusuri Bengawan Solo dengan menunggang induk buaya putih, yang bernama Ki Remeng.

Dalam momen itulah, saya menemukan sebuah dusun yang mirip Dermaling di sepanjang perairan Bengawan Solo. Dugaan saya, Desa Dermaling yang dimaksud kini bernama Dusun Dermalang, termasuk Desa Mlangi, Kecamatan Widang, Tuban. Sebuah dusun terpencil, bahkan kapan hari terjadi geger karena jalan akses menuju dusun tersebut 'raib', tergusur proyek tanggul Bengawan Solo. Dengan kata lain, bila dulu Dermaling kemudian kini menjadi Dermalang sangat masuk akal, terutama dari perspektif ekokulturnya.

Pada perkembangannya, Ki Remeng dan anak-anaknya beralih tuan dan menjadi abdi Sindujoyo. Digambarkan dalam naskah, ia mampu berubah wujud menjadi manusia. Dengan demikian, dalam hidup Sindujoyo ada dua jenis binatang kesayangannya. Pertama, kerbau bule, yang menjadi sarana ia bertapa, baik yang didapat dari anugerah raja Mataram maupun dari Pangeran Ampeldenta. Kedua, buaya putih yang menjadi sarana transportasinya yang ia dapat dari persahabatannya dengan Kiai Sindupati di Dermaling. Terdapat beberapa fragmen dalam ilustrasi naskah: Kiai Sindujoyo naik Buaya Putih.

Siapakah Kiai Sindujoyo? Ia bernama asli Pangaskarta, berasal dari Klating, Lamongan. Kini berupa dusun berada di Desa Takeran Klating, termasuk Kecamatan Tikung Lamongan. Ia termasuk murid Sunan Giri Prapen pada awal tahun 1600-an, yang berkelana ke beberapa kawasan usai sang mahaguru wafat. Ia dikenal sebagai yang babat alas Desa Kroman dan Desa Lumpur di Gresik. Tak heran, bila Serat Sindujoyo juga disebut sebagai Babad Kroman.

Kini, makamnya dikenal ada dua di Gresik. Satu di Desa Karangpoh, Gresik kota. Satunya lagi di kompleks makam Sunan Prapen di Desa Klangonan, Kebomas, Gresik. Masing-masing memiliki versi tersendiri. Namun, di antara dua makam itu, yang membuat saya terbengong-bengong adalah makam di Karangpoh.

Pada tahun 2010, saya ke sana dalam rangka untuk ngecek naskah asli "Serat Sindujoyo" sebagai codex unicus, alias naskah tunggal, yang di dunia ini hanya tersimpan dalam cungkup makam tersebut. Soalnya saya cuma punya salinannya dalam arti harfiah, yaitu foto copiannya.

Ketika saya ke sana, saya tidak dapat bertemu juru kuncinya. Malah, saya mendapatkan kabar menggetarkan: hari itu, Buaya Putih hadir di kompleks tersebut. Awalnya, saya tidak percaya kabar itu karena keluar dari mulut sarkub jalanan. Namun, begitu ditimpali dengan adanya seekor kucing 'mendadak' mengambang di kolam tempat wudlu, saya pun berpikir ulang.

 Pati, 2020

Sumber: akun FB Mashuri Alhamdulillah



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7159883323792001954

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item