Kita Adalah Cerita


Cerpen: Siti Nur Khotijah

     
Kepadamu seseorang  yang belum pergi
Kau masih mendominasi di dasar hati
Tersiksa dengan perasaan sendiri dan akhirnya dapat di pahami
Kepadamu seseorang yang penuh inspirasi

Pagi ini Mentari menyapaku dengan hangat, pohon-pohon yang rindang dan dedaunan yang masih basah oleh sisa embun semalam, kicauan nya membangunkan dari tidur, yang membawa ku dalam dunia nyata. Akupun terbangun dan memandang ke arah luar jendela, senyumanku yang terpancar seakan-akan melengkapi kebahagian yang ada di sekitarku.Aku sangat menyukai suasana pagi dikampungku, senyuman ku tak kunjung henti dan tanpa aku sadari bibirku terucap  “Subhanallah, indahnya ciptaan Mu Yaa Rabb.”

’Tok..tok..tok, non,’ panggil Bibi ketika mengetuk pintu kamar untuk mengajakkaku sarapan pagi.
’Iya Bibi, silakan masuk,” sahut ku dalam kamar.
’Ini non sarapanya, bibi antar, dimakan ya non .’ pesan Bibi.
’Iya, Bi pasti. Aku makan kok, dan pasti aku lahap dsemuanya, kecuali piringnya Bi, hehehe,” sahutkan bercanda.

Seharian ini aku memilih liburanku dirumah saja. Seperti saat ini  aku sangat menyukai suasana senja, karena  menurutku senja tidak pernah salah, yang terkadang membuat kenangan jadi basah.  

Aku pun membungkam mulut ku sendiri dan segera menarik selimut, ku coba memejamkan mata secara perlahan, karena malam semakin larut dan sepi. Aku kembali termenung entah apa yang aku fikirkan dalam benak, entah mengapa perasaanku hampa tidak seperti biasanya, ku fikirkan kembali entah apa sebab nya hatiku mengalami kegundahan, dan tanpa aku sadari tiba-tiba mataku terpejam dan lena.

Keesokan harinya aku masih kurang semangat karena kacaunya fikiranku semalam, dan hari ini aku berniat untuk menghabiskan waktu ke tempat wisata. Namun aneh nya lagi aku kembali termenung, menerka-nerka hal apa yang membuat aku segelisah ini. Tiba-tiba lamunan ku ambruk seketika.

Brakk, tanpa aku sadari aku menabrak seorang pria yang tengah berdiri didepan aku.
‘Maaf kak saya tidak sengaja, mungkin saya terlalu asyik ngelamun,’ ucap aku sambil meminta maaf kepada seseorang pria bermata agak sipit yang barusan aku tabrak.
‘Iya gak apa kok, santai,’ ucap pria tersebut sembari tersenyum.
‘Terimakasih, kak,’ balas aku.
‘Perkenalkan nama saya Ilzam, kalau kamu?,’ ucap pria tersebut yang tiba-tiba mengenalkan dirinya.
‘Nama saya Aisyah dipanggil Cha juga bisa kak, ‘ balas aku.
‘Mungkin aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku pulang duluan ya, sampai jumpa,’ ucap Ilzam yang tiba-tiba terburu-buru.
    
Angin begitu semilir sore ini, cuacanya juga sangat mendukung, sangat indah menurut pandanganku, ternyata aku menyadari akan suatu hal, pertemuan tadi membawaku untuk menyemogakan seseorang, Ya, mungkin itu sebatas ilusi ku saja, tiba-tiba aku mengagumi nya, namun aku yakin suatu saat nanti rasaku akan terbalaskan . Saat ini aku hanya bisa mendoa’kan dan tetap menjadi diriku seperti biasanya. Jika suatu saat rasaku hanya seperti ini, karena pada dasarnya cinta tak harus memiliki , dan terus belajar dari setiap langkah yang aku jalani. Mengagumi adalah ungkapan yang indahnya tak terlukiskan oleh kata.

Memandangnya saja ketika tersenyum membuat Aku merasa memilikinya, padahal Aku bukan siapa-siapanya dia. Kagum boleh dimiliki oleh siapa saja, bahkan perasaan kagumpun lumrah diberikan kepada siapa saja, karena kagum itu sendiri adalah sesuatu yang abstrak, memandangnya bukan karena dari fisik ataupun yang terlihat dari luar. Namun, kagum itu muncul karena karisma yang dimiliki oleh orang yang dikagumi, seperti hal nya aku mengagumi Ilzam. Entah karisma yang seperti apa, yang jelas keberadaannya membuat aku merasa semakin ingin mengenal dan terbawa suasana.

Banyak orang mengatakan bahwa mengagumi seseorang  hanya menghabiskan waktu ataupun nantinya beresiko besar ketika rasa kagum nya itu tidak di utarakan yang didapatkan adalah kerugian yang luar biasa. Tidak! menurutku tidak demikian, setiap orang pasti memiliki cara tersendiri untuk mengagumi seseorang, karena tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama dan semua orang memiliki hak untuk menyimpan kekagumannya dan biarkan saja waktu yang akan menjawabnya seketika tanpa harus diberi tahu.

Hujan tiba-tiba turun setelah cuaca sore yang sangat mendukung, sangat indah menurut pandanganku, bahkan tanpa aba-aba mendung, nyaris tanpa suara petirpun. Syahdu memang, seolah hujan menyapa semesta sebagai dirinya sendiri, bahwa dia adalah bulir rintik air yang menenangkan jiwa. Airnya jatuh mengguyur seluruh hamparan tanah disekitar dinding tinggi, membelai lembut dedaunan, menyejukan badan  dengan semilir angin yang menemani. Hujanpun semakin deras, dingin sungguh dingin semua yang terlihat kesunyian yang semakin membebani ku yang terkulai lemas diatas ranjang sedari tadi terdiam, mendengarkan lantunan alam yang makin beriringan, mengantarkan aku tertidur dengan tenang.

Semarak sinar mentari pagi menggugah semua benalu pemimpi, burung saling bersahutan dengan teman-temannya, bunga merekah menampakkan warna terindahnya, air sisa hujan semalam masih melekat di dedaunan dan menetes manja diantara genting tua di sana. Semilir angin menyapa dengan kelembutannya, menyapa semua yang telah di laluinya. Pagi ini aku berniat untuk pergi kerumah temanku, aku duduk di sebuah halte bus sambil menunggu bus datang menjemputku. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang lumayan tinggi, tampan dan bermata sipit datang dari arah utara, dan ternyata iya adalah kak Ilzam, pemuda yang sempat aku tabrak beberapa hari yang lalu.

‘Hey...lagi ngapain kok bisa ada disini, Cha’Sapa Ilzam memanggilku dengan sebutan Cha.
‘Ini kak lagi nunggu bus ‘Sahutku dengan ramah.
‘Mau kemana Cha, ‘ tanya Ilzam.
‘Ini kak mau pergi kerumah teman ‘Jawabku singkat.
‘Oh iya Cha, hati-hati ya, ’ pesan Ilzam.
‘Siap kak, kalau boleh tau kakak mau kemana?’ Tanya aku.
‘Ini Cha mau ke kantor.  Udah dulu Cha sampai ketemu nanti ‘ Jawab Ilzam dengan terburu-buru.
                    *****
    
Sesampainya di rumah,  ku tatap langit sore hari ini memang indah, terhampar anggun tanpa awan menggantung. Seketika Handphone ku berdering bertanda ada pesan masuk.

‘Assalamu’alaikum Cha’Isi pesan dari nomor yang tidak dikenal.
‘Wa’alaikum Salam’ Jawab aku.
‘Ini aku Ilzam, aku dapat nomor nya kamu dari media sosial, mohon ma’af jika tanpa izin terlebih dahulu’ Isi pesan dari Ilzam sembari meminta ma’af.
‘Kebetulan sekali kak sebenarnya ada yang mau aku omongin’ Jawab aku.
‘Apa, Cha?’ Tanya Ilzam.
‘Aku besok mau melanjutkan S2 ku ke Kairo kak ‘ Ujar ku sembari meneteskan air mata. Dimana aku harus meninggkalkan orang-orang yang aku sayang. Tapi hanya sementara  bukan untuk selamanya.
‘Jika itu langkahmu yang terbaik, lanjutkan Cha. Semangat...!!! ‘ Ujar Ilzam.

*******   
    
Akhirnya, hari wisuda itu tiba. Rasa syukur kini teralun dengan merdu. Semilir angin menyapa siangku seolah mengucapkan salam pada ku, burung-burung berkicau ria. Hari ini Ibu dan Ayah menghadiri acara wisuda yang selama ini aku janjikan. Dia rupanya yang sudah berlalu sejak dari tadi, kini berdiri di hadapanku, seseorang yang aku kagumi selama ini, yaitu kak Ilzam.
Tepat di pintu ke luar aula, dia membalikkan badan dan sontak kini aku dan dia berhadapan. Nervous, malu, bingung, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Rasanya, ini lebih berat dari saat aku harus memperkenalkan diri di hadapan semua teman-teman mahasiswa baru saat ospek beberapa tahun lalu. Dia menatapku, dan mengucapkan Selamat wisuda dengan di iringi senyuman yang terpancar dari wajahnya. Dia memberikan ku setangkai bunga mawar yang indah.
Seketika dia tiba-tiba menyodorkan sebuah cincin sembari berkata’Aku tidak mempunyai harta yang berlimpah Cha, hanya saja bermodalkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus, pertemuan yang awalnya sesingkat itukah menumbuhkan sebuah rasa kagum , aku sengaja tidak memberi tahu mu sebelumnya, dan kini study mu telah selesai. Untuk itu maukah kamu menikah dan hidup sederhana bersama ku,  

?’ Tanya Ilzam.
‘Iya kak, aku menerima  kakak’ Dalam hati aku berucap syukur, seperti mimpi tiba-tiba.

Kak Ilzam tidak pernah mengutarakan niat nya untuk meminangku untuk menjadi istri nya.Sifat yang awalnya kagum, kini sama-sama terbalaskan.

Sejenak kutemukan cinta, di langit air mata
kemudian tersadar dan bahagia karena Cinta
 Hidupkan arti hidup penuh makna
Bersatu dalam asa
Bermimpi bersama, demi kasih yang akan selalu ada

Dan kini aku dan kak Ilzam menikah. karena bagi kita Menikah adalah menjalankan sunnah nabi, sesuai dengan fitrah manusia. Hikmah yang dapat diambil kalau sunnah nabi ini di jalankan adalah munculah ketentraman jiwa. Dengan pernikahan akan tumbulah kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara suami isteri. Dengan pernikahan, keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berkesinambungan.

Adakalanya aku ingin menampatkanku diriku
pada Embun, agar ia kian menetes di setiap pagiku
Begitu dengan kamu
Aku ingin kamu berada dalam hidupku setiap waktu
Merangkai bersama, suka ataupun duka,  bersatu dalam syahdu

*****
Siti Nur Khotijah,  Lahir di Sumenep, 1 Juni 2002, dan bertinggal di desa Pakondang, Kec. Rubaru, Kab. Sumenep.



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1735877917750181800

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA