Tumbangnya Idealisme Pemuda Dalam Tatanan Desa

Para generasi muda desa Lebbeng Timur, Pasongsongan, Sumenep mulai menata dirinya untuk membangun desanya melalui melalui gerakan literasi    (foto: Rulis)
Para generasi muda desa Lebbeng Timur, Pasongsongan, Sumenep mulai menata dirinya untuk membangun desanya melalui melalui gerakan literasi    (foto: Rulis)

Oleh: Taufiqullah Hasbul

“Idealisme mahasiswa terlalu tinggi di perantauan, membela kebenaran dan HAM adalah prioritas utama dengan dalih keadilan. Namun mengapa ketika mereka pulang ke kampung halaman, rasanya mati suri bak air mengenang. Tidak mampu mendongkrak gejolak tatanan desa yang stagnan”.

Pemuda merupakan sosok yang paling istimewa bagi suatu negara, masa depan negara ada di tangan pemuda. Baik buruknya suatu negara juga tergantung pemuda. Mungkin sudah jamak pembahsan tentang pemuda dalam lingkup nasional. Hal ini seakan-akan peran pemuda dalam lingkup lokal (daerah) jarang diangkat ke permukaan literasi. Entah kurangnya minat penulis atau memang hilangnya peran dari pemuda tersebut. Saya juga tidak tahu.

Desa misalnya, merupakan tatanan organisasi pemerintah yang paling kecil di Indonesia. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat dengan prakarsa masyarakat berdasarkan asal usul atau hak dan tanggung jawab masyarakat setempat berdasarkan wilayah teritori. Di tempat inilah para pemuda pertama kali menjalani hidup, belajar dan berproses hingga bisa berkeliling kemana-mana, unjuk gigi secara nasional maupun internasional dalam menjalani kepentingan orang banyak. Tak disangkalpun, desa merupakan organisasi pertama bagi pemuda dalam mengasah asa, cita, bahkan cinta.

Meksipun ada anggapan di tengah masyarat dan sudah menjadi buah bibir bahwa ‘orang sukses di desa lebih banyak tidak kembali lagi, menetap di kota perantauan’. Perspektif inilah yang mungkin membuat tatanan desa tetap stagnan. Orang yang berpengetahuan luas malah menetap di kota besar, tidak lagi kembali ke kota kelahirannnya. seperti kacang lupa pada kulitnya. Kata dunia percintaan.

Pengelola desa dari tahun ke tahun, periode ganti periode jarang kita temukan yang kerjannya sesuai visi misi. Ambisi politik berhasiil melupakan segalnya, termasuk janji yag paling ekstream dijadikan jurus andalan saat kampanye sirna dengan sendirinya. Memberi masukan aspiratif terhadap pemerintah desa sangat sulit, bahkan mahasiswa-pun lebih nyaman berdialog dengan anggota DPR ketimbang perangkat desa.

Sulitnya dialog aspiratif dikarenakan perangkat desa maupun kepala desanya masih banyak yang belum mengenyam pendidkan. Tak heran jika Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar mendorong semua kepala desa raih gelar sarjana (Kuliah) sebagai salah satu cara untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di wilayah pedesaaan”. Kalau pemimpinnya berpendidikan, pasti rakyatnya diperhatikan untuk mengembangkan sektor pendidikan setempat. Begitu juga sebaliknya.

Pendidikan di pedesaan memang sangat terlambat, fasilitas penddiikan juga sangat minim. Maka tak heran jika banyak pemuda desa yang mengangur, tidak sekolah, bahkan nikah di usia dini. Fenomena tersebut merupakan gagalnya pemimpin desa untuk menumbuh-kembangkan minat masyarakatnya untuk mengenyam pendidikan. Banyak desa yang seperti ini. Program kerja Kepala Desa dalam menjamin mutu pendidikan sangat minim sekali.  Hilang terkendali. Seperti inilah jika kepela desa tidak pernah kuliah. Sebaiknya kita memilih calon kepala desa yang sarjana dan mepunyai visi misi jelas untuk memajukan dan memakmurkan desa. Sekedar saran ya, bukan untuk  kampanye. Selebihnya ada pada hak masing-masing seseorang dalam berdemokrasi.

Berbeda lagi masalah ekonomi pedesaan, jauh dari kata sempurna dibandingkan pendidikan. Pasalnya, jarang kita temui  desa berhasil mengelola perekonomian secara mandiri. Penyalahggunaan anggaran desa yang sangat rawan harus diawasi oleh pihak yang berwenang. Jika dana desa tidak disalahgunakan, pasti banyak desa yang sudah maju, tidak memberi beban terhadap masyarakatnya untuk merantau mencari nafkah, lantaran desa yang ditempati tidak menjamin untuk bertahan hidup. Gagal merekonstruksi perekonomian desa atau memang pengetahuannya yang terlalu minim dalam mengelola perekonomian. Sungguh banyak kita temukan. Komisi pemberantasanm korupsi jangan hanya memantau kasus penggelapan uang DPR,  Menteri, dan lembaga besar lainnya. Perlu juga memantau dan menyisir ke berbagai daerah. Sistem pemerintahan desa terutama. Karena selama ini memang jarang Kepala Desa menjadi topik pembicaran dan bahan nyinyiran di media massa sebab korupsi.

Untuk menyelamatkan ancaman penyakit tatanan desa, tentu pemuda sangat diharapkan sebagai tonggak kemajuan desa. Misalnya mahasiswa,  kita kenal dengan gaya idealismenya yang kuat dan pergerakannya yang begitu terorganisir dengan tujuan yang jelas. Mereka  harus ikut andil dalm mengelelola desa. Buanglah perspektif   peran  pemuda tidak penting di suatu desa. Demikian juga mahasiswa desa yang belajar di luar kota sering terlalu percaya diri, emosionalnya tinggi. Akhirnya egoisme yang terjadi, merasa gengsi di kampung halamannya sendiri. Sampai kapanpun desa seperti rumah kosong, dihuni dan dikendalikan oleh jin. Pergerakannya tidak terlihat, tetapi imbasnya jelas dirasakan. Jika pemuda desa tidak ikut andil dalam pengembangan daerahnya.

Hilmar Farid dalam bukunya ‘Meronta dan Berontak: Pemuda dalam Sastra Indonesia’ sebagaimana di kutip oleh Alfian dan Nurshafira (2015) berpendapat bahwa gerakan pemuda direpresantikan secara berbeda-beda di setiap era. Pada awal abad ke-20, pemuda digambarkan sebagai mereka yang bersinggungan dekat dengan kemajuan berkat persentuhannya dengan kultur Eropa. Representasi yang  lain nampak pada era Perang Kemerdekaan. Umumnya, pemuda digambarkan sebagai mereka yang berjuang demi kemerdekaan. Walaupun di sisi lain karya-karya Pramoedya Ananta Toer menggambarkan pemuda lebih sebagai ‘bandit’ atau ‘pengkhianat’. Pada era orde baru, pemuda digambarkan sebagai pemberontak. Keberagaman ini membuat Farid berani menyimpulkan bahwa tak ada gerakan pemuda yang sejati. Pemuda merupakan ‘flating signifer’ yang tak punya sifat tetap. Karakternya akan terus berubah dari masa ke masa.

Oleh karena itu, pemuda sebagai investasi jangka panjang kemajuan bangsa, harus terus mengaplikasikan kemampuan untuk memajukan daerahnya masing-masing, terutama di pedesaan. Brandal boleh akan tetapi, setidaknya bisa mampu berkontribiusi untuk masayarakat sekitar agar tidak dikatakan sebagai sampah masyarakat. Saatnya pemuda bersatu, waktunya Indonesia maju.

*****

Taufiqullah Hasbul adalah Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga, aktif di Komunitas Peradilan Semu sekaligus Kader PMII Rayon Ashram Bangsa.   

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4445802577678093278

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA