Sajak-sajak Faisol Rahman


Faisol  Rahman. Sumenep 19 Juli 1997. Menjadi mahasiswa Institut Dirasat Islamiyah Al-Amien Prenduan (IDIA).Puisi-puisinya pernah dimuat dibeberapa media cetak dan online

➿➿➿➿➿

Puisi Lama
-Untuk Inisial A _.

I/
Aku tak hafal betul kala itu
Bagaiamana mula kita saling mengetuk pintu temu,
Aku yang membukakan atau kau lancang masuk tanpa kusuruh?
Ah, waktu memang terlalu rumit  untuk kita taksir bersama
Bagaimana  kata-kata lebih rindang dari puisi
Dan puisi lebih kental dari luka sendiri.
Manakah ingin kau jelajahi?

Aku tak bisa membayangkan
Kala itu kita sama-sama malu menyusun kata-kata
Membuka percakapan dari lembar mana memulai cerita

Dikala senja usianya semakin menua
Dan waktu semakin cerdik  menyesatkan kita;
Aku yang  sengaja membukakan pintu
Dan kau masuk tanpa permisi
Akhirnya kala itu,
Kita sama-sama sepakat menguncinya rapat-rapat


Puisi Lama II
II/

Bahkan, aku bersikap tak peduli
Seberapa deras hujan mengaliri luka-lukamu
Mengenangi taman-taman hatimu
Karena aku yakin senja esok,
Masih indah untuk kita nikmati bersama
Tanpa ada yang tersisisa dari puisi lama

Katamu; Sering kali,
Di gerbang  malam yang tak kau kenali
Sesak  kenangan sesekali masuk tanpa permisi
Melewati pintu jendela yang semalam lupa ditutup kembali
Ia tertatih-tatih melangkah menyusuri ruang-ruang  paling sunyi
Di meja makan ia melihat sesobek air mata
Dan pula tumpukan kenangan yang berserakan dimana-mana

Dan setelah hendak membuka pintu kamarmu,
Ia menyaksikan seberkas senyumu tercecer dianatara rak-rak buku
Lalu ia merapikannya satu persatu
Dari sisa-sisa waktu yang ada
Itu adalah alasan setiap kali memandangmu
Adalah persis bercerita luka  yang sama.

Lalu ia masuk menyelinap saat kau masih diruang mimpi
Ia hadir membawakan seperangkat luka
Yang sudah dibungkus rapi dengan kado puisi
Dan setangkai bunga layu dihatinya


Puisi Terakhir

III/
Dan luka itu;
Hanya bisa dibakar oleh api perasaan sendiri.
Dalam memeranginya,
Tak salah bila kau persilahkan ia duduk sebentar
Sebagai tamu kesunyiamu
Meski terkadang hati tersulut oleh api sendiri
Dan jangan lupa suguhkan kue kenangan terbaikmu
Bila ia masih suka menyeruput kopi,
Kau boleh menyuguhkannya
Meski dengan setengah hati
Dan perasaanmu sedang gaduh

Percayalah,
Lambat laun luka-luka itu
Dengan sendirinya mengenali dirinya
Bahwa ia telah menyiakan-nyiakan waktunya
Sebab ia akan takluk dengan orang kuat sepertimu
Dan ia akan pamit tanpa diminta untuk pergi
Mungkin takkan kembali lagi
Bila kau mencatatnya dengan do’a dan puisi

Psb, 14 Agustus 2020 


“Ada hujan di matamu”

Hujan yang tumpah di matamu
Kini hanya tinggal sebiji kenangan
Lalu jatuh bersama ranting-ranting
Kau tak sempat memungutnya
Meski hanya lewat pesan daun yang jatuh
Yang barangkali angin membawahnya pergi jauh
Melintasi musim-musim panjang lukamu
Lalu istirahatlah sejenak disini,
Tumbuh dan mekarlah diantara puisi-puisiku

Kita tak semestinya bertemu
Di rimbunan hujan
Cukup pada gerimis
 kita di ingatkan berulang kali
pada hujanw yang tak semestinya
di bawahnya kita saling mengasah diri


“Pada rumah yang sering kita sebut surga”

Pada sajakku yang baru saja ingin aku mulai menulisnya
Kuharap tuhan ulurkan cahayanya lewat secangkir sunyi
Yang sengaja aku seduh diam-diam dengan do’a
Disaat mereka begitu khusuk menikmati lelahnya
Sambil berselimutkan harap pada semesta
Kelak bisa menjadi peta dalam hidupnya

Ada saatnya cinta mencari seni dalam dirinya
Sebab semuanya dengan ritualnya sendiri-sendiri
Tak perlu dibuka auratnya dengan kata-kata
Cukup diabadikan dalam kotak puisi
Yang bait-baitnya adalah setangkai do’a

Pada rumah yang sering kita sebut surga
Tetaplah menjadi sederhana tapi teduh
Tetaplah menjadi sederhana tapi bercita-cita
Tetaplah menjadi sederhana tapi bahagia
Tetaplah bersyukur meski seringkali terluka


“Ditubuh waktu”

Ditubuh waktu,
Aku terbentuk menjadi seorang yang pemalu
Yang diam-diam sungkan mengagungkan cinta pada siapapun
Wajahmu cermin bagi air mata kemarau
Dan do’aku berlarian ke hati musim semimu
Kemanakah aku ingin berteduh?

Jauh ke dalam tubuh waktu,
Tahun-tahun tanpa lelah memeras keringatmu
Hatiku sering menggigil,
Bukan karena kedinginan
Namun karena hati yang gelisah seringkali berlabuh
Di ruang-ruang sunyimu dan kamar hatimu
Maaf, aku diam-diam candu masakan kasihmu
Dan sentuhan lembut jari-jemarimu

“Merdekakanlah dirimu,, lalu sekitarmu Nak!”


Barca Day

Bacelonaku kubanggakan
Banggaku kubuktikan
Salam Barcelona

Entahlah,
Bagaimana awal mula mengenalnya
Hingga sepanjang malam
Waktu begitu singkat tanpa terasa
Dihabiskannya hingga mata lelah berdarah
Sebab menantinya adalah do’a-doa panjang
Yang mesti aku siasati
Begitulah kesunyian kumaknai
Bagaiman cinta cermat mencari seninya sendiri
Dan itu tak perlu alasan yang rumit
Mengenalnya pun aku tak punyak alasan
Ia mengalir begitu saja tanpa ibu pinta
Sejak pertama kali aku mengintip dunia.

Kalah ataupun menang
Adalah gelap dan terang yang bergiliran saling mengisi
Tak pernah berfikir untuk mengatakan pecundang
Karena kalau memang cinta memiliki alasan
Entahlah, di hati Barcelona seolah menjadi rumah
Dan akan menjadi tempat tinggal selamanya
Sebab di hati bercelona,
Aku terlampau nyaman tinggal di sana.

Psb, 15 Agustus 2020

.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8015947199235025529

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA