Sajak-Sajak Nuris Watun Hasanah


Nuris Watun Hasanah, lahi di Sumenep lahir pada tanggal 14 september 2002, lebih tepatnya dikepulauan Giligenting. Kini sedang belajar di  Fakultas Jurusan FEBI, Semester 3 (Intensif) (fakultas Ekonomi dan Bisnis) Institut Dirosa Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep. Aktif sebagai anggota  AJMI . Cita citanya berharap menyelesaikan novelnya yang tak kunjung selesai, dan menyukai kumpulan qoutes yang berbasis dramatis dan puitis.


Sendu

Terlelap dalam ruang yang kosong
Hening hampa tak terasa
Kusam menyelimuti ruang pada raga
Berharap embun kunjung menyejukkan kembali
Menyembuhkan relung yang tertutup
Hingga rasa-rasa benar menutup

Senyummu yang kelam bagaikan beku
Inginku genggam walau sudah rapuh
Namun rasa sudah enggan berlabu
Dan kau hanya memberi sendu

Hingga titik menjawab jenuh
Hingga jiwa terus berlalu


Ingin Pulang

mataku slalu saja melayu
kalabu masih saja bergebu-gebu
ragaku sudah terisi sendu nan candu
kearah manapun pasti akanmu
berkeliling di otak tanpa jenuh
waktu sudah tak temukan temu
hingga rasa yang meredam
sebab rindu yang tak kunjung padam
luka-luka yang berkepanjangan
bait-bait do’a slalu menerka
hingga rela tetes air mata seketika berduka
ingin sekali pulang
tapi kau berkata
railah BINTANG lalu PULANG


Halu

Perasaan yang enggan untuk pulang
Meratapi janji-jani yang berkepanjangan
Berkhayal melayang
Menemani ruang sunyi
Dengan rasa sendiri
Hahahaha tawamu
Terlintas bagaikan bak candu dan sendu
Ingin kurangkul tubuhmu
Meski jarak slalu saja menjauh
Ingin kupandang berkali-kali
Kusadari kembali rasa slalu bersembunyi
Ini hanyalah mimpi
Janji-janji tak bisa kita lanjut kembali
Terima kasih
Pernah berdiri sendiri
Meski hanya datang dan pergi


Kita

Lihatlah aku dalam otakmu
Lihatlah aku dalam jiwamu
Pandanglah aku dari hatimu
Pandanglah aku dari ingatanmu
Sebab
Kita tidak akan menjadi kita
Bila kita tidak ingin menjadi kita


Mencari cahaya

Mataku terpejam seakan air mengusik
Dikala lantunan ombak yang berbisik
Setapak jalan enggan untuk tak sampai
Hati berdoa menyelimuti luka
Angin mulai saja bersapa kegelisahan
Air mata menahan untuk pulang
Mendung awanpun sampai tak terbentang
Ikhlaskan….
Aku harus rela merantau
Akan kutemukan sepercik rembulan yang bersinar
Hingga kelak kau bisa memakai mahkota yang terang
Doakan aku meski kerikil tajam menghantam.



Ceramah subuh

Berdiri tegak bagaikan sang raja
Suara yang merdu melantunkan kepenjuru langit
Mereka mendengar perlahan tak terdengar
Ada yang mencerna dengan sepenuh hati
Kau mulai menjelaskan cahaya yang gemerlap
Mereka saling tertawa sesekali kau melucu
Kantuknya sudah tak hiraukan lagi
Mereka mencatat apa yang dipahami
Digoresakan kertas putih
Ruangan hening seketika
Sesekali teriak tangis kau berdrama
Lalu mereka bertanya
Ada apa?


Makhluk Yang Tangguh

Mendayung arungi samudra
Menetes kembali keringat kuning berderai
Mencari sekecil koin yang berharga
Meski tega bertarung nyawa
Kala jalan yang berliku
Masih saja kau tunggu
Bila datang hujan menangis
Kau tetap teguh
Secoret senyuman yang penuh dengan kepalsuan
Langkah yang penuh kebohongan
Hatimu yang sekuat baja
Badanmu sekuat benteng
Siapakah engkau?



Waktu

Waktu mengikuti poros
Sampai butiran debu menjadi batu
Waktu terus beranjak
Hingga warna hitam menjadi pekatnya putih
Waktu terus berlari
Hingga hati temukan ruang yang berisi
Waktu terus berlanjut
Meski hidup jatuh berlarut-larut
Aku hanyalah sebongkah kepingan kaca
Meski susah merajut luka-luka
Dan aku adalah sekelam sang malam
Tapi bila datang kutakkan meredam



Kala

Jiwanya sudah dikoyak-koyak
Jatuh kejurang-menghilang
Senjamu kala tak peduli
Serpihan sore kau membuat derita
Helaian rambut menyapa, menderita
Cepatlah berikan embun
Dirinya sudah redup-meredup


Dari Aku

Aroma hujan terhirup
Saatnya beraksi dengan hidup, bung
Ucap pria dibawah kesepianya
Mana bisa? Isi firasatnya tak teratur
Harusya kau mencoret sendunya lagi


Mungkin

Logikanya berlari seperti kelereng
Nyanyian burung menertawakanya
Menutupi topeng sudah tak berguna
Apa makna kehidupan
Seperti jaring yang tak berfaedah
Buang-buang jejak saja
Aksi sebagai pertunjukan
Panggung kau jadikan sandaran, penderitaan


Setitik

Semaikan walau sepercik
Ia akan kuat sebagai penguat
Bertanya sendiri kenapa perlu diisi
Benihnya memekar berakar
Teka-teki misteri hari terlampaui
Tidak tau batas berinteraksi
Hingga menjadi debu tak karuan
Kau harus paham ini


Kembali Lagi

Suara kerinduan mulai melewati celah pintu yang tertutup
Mengembalikan putaran yang telah menghilang
Jejak-jejak menapaki menuntun tak menuntun
Kuperkenalkan kembali isi yang sudah terjadi dini hari
Ikhlaskan suara yang serak tak berguna ini
Gerumuhan yang tercekat ditengggorokan


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2363318032228365564

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA