Cinta dan Benci



Catatan Kecil Aprinus Salam

Terdapat potongan adegan dalam sebuah film silat. Kurang lebih menggambarkan seorang pendekar wanita yang dipaksa membunuh seorang pendekar laki-laki yang sakti. Pendekar sakti itu telah tertodong pedang, karena memang sang pendekar tidak memberi perlawanan. Guru pendekar wanita berteriak, “Bunuh laki-laki itu, bunuh. Apa kau ingin melawan gurumu?”

Si wanita bingung dan kalap. Ia tahu dia mencintai pendekar sakti itu dan sebaliknya. Ia pun tahu gurunya membenci dan dendam yang demikian mendalam kepada sang pendekar sakti. Ia terjebak dalam cintanya kepada sang pendekar dan kepada gurunya (tentu dua jenis cinta yang berbeda), dan atas kebencian gurunya kepada kekasih hatinya.

Teriakan gurunya begitu tinggi menusuk perasaannya karena dia takut dianggap sebagai murid yang khianat. Akan tetapi, tangannya tak mungkin menusukkan pedangnya ke sang kekasih. Karena demikian panik dan limbung, sambil menutup mata dan berteriak histeris, pendekar wanita itu melentingkan badan dan tangannya. Si pendekar sakti tetap diam dan menerima, maka tertusuklah dadanya bagian kiri. Beberapa detik setelah si wanita tahu bahwa ia telah menusukkan pedang ke dada kekasihnya, ia pingsan.

Sebuah adegan mampu dengan baik bercerita, tetapi tidak mampu dan tidak bermaksud menjelaskan. Seharusnya, ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang menjelaskan hal tersebut. Namun, ilmu sosial dan humaniora memiliki banyak keterbatasan untuk menjelaskan gejala-gejala yang tidak tampak, termasuk dalam hal ini persoalan cinta dan benci. Biasanya ilmu sosial dan humaniora hanya berusaha menjelaskan gejala-gejala empiriknya, yang kemudian dirasionalisasi lewat berbagai penafsiran dan pendekatan.

Pertanyaannya, apa itu cinta dan benci? Bagaimana kedua hal tersebut menjadi ada? Bagaimana kita bisa mengetahui hal tersebut? Apa implikasi cinta dan benci dalam kehidupan?

Biasanya kita menyebut kedua hal tersebut hadir sebagai “representasi” perasaan. Akan tetapi, hal itu belum menjelaskan apa itu cinta dan benci yang muncul dalam perasaan. Saya ingin mengikuti taksonomi Freud bahwa dalam diri manusia itu ada yang disebut id, ego, dan superego. Namun, karena Freud yang mengikuti positivisme tidak masuk ke wilayah Ruh, saya akan meminjam terminologi kepercayaan (keyakinan)  saya bahwa dalam diri manusia ada Ruh, bukan sekedar jiwa.

Id adalah segala hal gejala tubuh yang ingin dipuaskan, seperti lapar, haus, libido (syahwat), dan kepuasan empirik lainnya. Implikasinya, jika id tidak terpenuhi, maka akan muncul rasa tidak suka (benci) marah, kecewa, bahkan dendam (lihat Freud, 1991). Tubuh, lewat perasaan, akan melampiaskan rasa kecewa ini dengan mungkin mengumpat, memaki, atau melakukan tindakan-tindakan kekerasan untuk memenuhi rasa puas tersebut.

Sementara itu, superego bukan gejala tubuh. Superego terkait dengan beberapa pengertian terutama pengertian hati (nurani), suatu Nur dalam diri, suatu Ruh yang terintegrasi secara menyeluruh dalam eksistensi kemanusiaan. Superego tidak menuntut kepuasan, karena superego merupakan nilai dan substansi hakiki yang jika kemunculannya atas perasaan adalah perasaan cinta (lihat Fodor, 2013). Cinta bukan gejala tubuh, melainkan gejala Ruh. Implikasi keberadannya ada pada perasaan kasih-sayang dan ketulusan.

Ego adalah kesadaran dan ruang yang mengelola negosiasi id dan superego. Dalam beberapa hal, sangat mungkin ego dapat disejajarkan dengan pikiran (dalam berbagai terminologi lain disebut rasio, akal, dll). Akan tetapi, yang ingin saya tekankan di sini bahwa kesadaran (pikiran) ikut memainkan peran dalam negosiasi tersebut, walaupun pada akhirnya akal bisa larut dalam id atau superego (lihat Freud, 2018). Jika akal larut dalam id, maka yang muncul dalam tindakan adalah segala hal gejala tubuh. Namun, tidak tertutup kemungkinan pikiran bisa larut (tercelup) dalam nilai superego. Yang terjadi adalah cinta itu sendiri.

Karena tidak menuntut kepuasan, tidak ada masalah dalam cinta. Cinta menyelesaikan semua masalah atas nama cinta itu sendiri. Memang, kata cinta sering dipakai secara historis, politik, dan sosial: cinta orang tua kepada anak yang biasanya tanpa pamrih, cinta sesama jenis kelamin, cinta guru kepada muridnya, dan lain sebagainya. Sementara cinta kepada bangsa dan cinta pada kebenaran, itu lebih dekat dengan perasaan sayang. Sayang merupakan implikasi dan representasi dari cinta yang murni.

Di sinilah, keyakinan yang saya pegang adalah bahwa cinta autentik terjadi ketika hanya mencintai Diri-Nya. Pernyataan ini juga didukung oleh Quran yang berbunyi “adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surat Al-Baqarah, ayat 165).

Kembali ke kasus adegan silat di atas, maka yang terjadi adalah pertarungan antara rasa sayang dan benci. Terjadi pertarungan representasi tak langsung antara id dan superego. Dengan demikian, gejala sayang merupakan bentuk negosiasi antara id dan superego yang mencul dalam kesadaran (perasaan). Pingsan atau ketidaksadaran yang dialami si wanita adalah gejala tubuh. Adegan lebih lanjut dalam film tersebut menampakkan bahwa pendekar sakti laki-laki lebih dapat menyatukan dirinya dengan kehendak cinta murni ketika ia memberikan nyawa (jiwa) karena dia yakin bahwa cintanya kepada Sang Pencipta, melebihi kesukaannya pada dunia, termasuk pada wanita.

Kebalikan dengan cinta, seperti telah disinggung, benci adalah gejala tubuh. Benci terjadi karena ada hal yang sangat tidak disukai terjadi. Implikasi empiriknya pada ego dengan gejala marah, ngamuk, kecewa, sakit hati, atau dendam. Benci sebagai gejala tubuh berposisi untuk menguji keberadaan cinta dalam diri manusia. Manusia bukan Tuhan, walaupun beberapa ajaran meyakini bahwa secara kualitatif manusia mampu bersatu. Dalam kebatinan Jawa disebut “manunggaling kawulo gusti” (Zoetmoelder, 1991). Dalam tasawuf disebut sebagai tajali  2) (Izutsu, 1984:152).

Pertanyaannya, bagaimana dengan pernyataan-pernyataan atau kesan, bahwa Tuhan itu bisa marah atau cemburu kepada hambanya, dengan memberi hukuman kepada hamba yang melanggar syariah yang ditentukan oleh Tuhan? Saya berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin marah dan cemburu. Pengertian ini terlalu memanusiakan Tuhan. Terlalu berlebihan buat Tuhan jika memiliki perasan marah dan cemburu dalam pengertian yang manusiawi. Hal itu hanya bisa dikenai untuk karakter kemanusiaan.

Yang terjadi adalah Tuhan membersihkan kotoran dan kesalahan dalam diri manusia untuk kembali bersatu bersama-Nya. Bahasa hukuman dari Tuhan terlalu keras buat saya. Saya yakin Tuhan tidak seperti itu, walaupun saya mengatakan itu dalam ketidaktahuan saya tentang Tuhan (Yang Nyata).

Cinta tidak bisa diwariskan, karena secara inheren cinta selalu ada dalam diri manusia. Namun, benci bisa diwariskan, bahkan bisa diwariskan atau bisa ditularkan secara kolektif. Narasi atau wacana-wacana tertentu yang bersifat ideologis, sebagai output gejala tubuh yang tersimpan dalam id dapat memunculkan ideologi seperti rasisme, sukuisme, fasisme, atau beberapa gejala yang diperlihatkan seperti hadirnya kelompok-kelompok ekstrim. Gejala ini terdapat hampir di semua negara.

Kebencian menjadi bahan bakar permusuhan dan konflik. Itulah sebabnya, negara sangat mungkin merupakan reprsentasi tubuh kolektif warganya. Itulah sebabnya, sebagai representasi tubuh warga, negara juga bernafsu untuk menguasai banyak hal. Negara menjadi berhadapan dengan negara lain, yang juga sebagai representasi warganya sendiri, baik sebagai kawan atau sebagai lawan. Ini juga terjadi dalam kehidupan antarmanusia. Negara bukan representasi cinta.(sumber:https://ilhamaji.academia.edu/aprinussalam)
_____

1) Kepercayaan atau keyakinan tidak membutuhkan bukti empirik. Kepercayaan sesuatu di atas pengetetahuan. Keberadaan Tuhan, misalnya, tidak membutuhkan pengakuan empirik. Akan tetapi, Tuhan merupakan hal nyata Ada, walaupun juga tidak bisa dibuktikan keberadaannya. Percaya kepada Tuhan merupakan sesuatu di atas ilmu dan pengetahuan.
2) Tajalli merupakan istilah tasawuf yang berarti penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.


Aprinus Salam adalah Ketua Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Juga mengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Prodi Kajian Budaya dan Media UGM

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6722769677110608971

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA