Sajak-sajak Achmad As’ad Abd. Aziz



 Achmad As’ad Abd. Aziz, Mahasiswa Institut Dirasat Islamiyah Al-Amien Prenduan (IDIA),  Aktif  di dunia jurnalistik sebagai Anggota Aliansi Jurnalis Muda IDIA (AJMI), dan Pembina Majalah Al-Qowiyul Amien (qa.tmial-amien.sch.id)

***


Alienasi

Dari berkas cahaya yang mungkin tak ada,
Kulihat separuh mimpi yang kita buat
di tanah kita sendiri, kita tak berjejak
hilang bersama ilusi yang tak tersisakan

Di almari yang gelap,
sempat aku wasiatkan sejumlah dokumen
pada detik kematian pendahulu

lihat, apa yang kita tinggalkan saat ini,
tangis air mata pun tak bisa mengeja huruf kesengsaran
saat warisan yang direnggut oleh anak
yang telah lahir dan menyusui dari rahim ibu yang sama

dari yang tersisa, hanya peluh menyatu bersama tangis

Mei 2020


 
Doa yang Kembali

Sesat mulut waktu mendesah pada jiwa
Membisikan secuil kata, tuk benar berpasrah,
Kucoba tuk menata hati
Menselaraskan laku yang mencoba pergi jauh dari keharibaan

Pada selaksa malam,
Jiwa tak terhenti tuk membisikan panggilan
kembali pada semesta yang senantiasa mengajarkan
Merekahlah telaga saat sayup-sayup doa dilantunkan
Saat jiwa-jiwa yang haus mengharap seteguk embun mengendap,
menyatu, memenuhi raga yang gersang
Raga, tangan, mata bahkan selaksa nyala kehidupan
Sepantasnya menyelaraskan puja doa yang kembali riskan.

Surabaya, April 2020. 
 

 
Kendi

Di sisa masa penghabisan ini
Dongeng-dongeng banyak diperdengarkan
anak-anak kecil memasang telinga nya
mendengarkan tanah coklat kering
bercerita sedemikian jauh

Di tanah kampung kami
tempat manusia memahat kendi hidup nya  sendiri
waktu selalu berpangku pada kerelaan
mengisi beberapa teguk air yang tak jarang bercampur keringat
bagi kami, semua itu cukup menghibur
peluh dari sisa keluh nasib penerimaan

Mei 2020

 

Purna

Sedemikian yang terjalani,
tak ada yang mampu mengajak kita berbincang
dari masa lalu, seperti kepergian, kedatangan
yang setiap kali menjemput kata-kata untuk ditarikulurkan, kembali

aku lihat, lampu-lampu telah tanggal,
temaram telah menjadi bagian yang menggeliat di tubuhmu
wajahmu kian purna pada musim hujan,
disembunyikanya luka meski menganga
dan kesedihan memperlakukan mata mu dengan tidak baik-baik saja.

Diriku, dirimu sungguh memang tak pernah utuh,
lantas jalanan kota yang lengang,
menyediakanku seribu pertanyaan
“bagaimana satukan inti setiap diri kita, sedang kau enggan mengenal
bagian yang sebenarnya, dari kesedihanku?

Juni 2020

 

Mengidam Tahunan

Tidak ada perputaran waktu penantian kali ini,
Matahari enggan menerbitkan diri
Begitupula senja tak jua pula membersamai

Ribuan manusia merahasiakan senyum kekasihnya,
mereka tersadar, butuh waktu yang panjang
untuk sekedar berisyarat rindu hingga komposisi temu

aku menunggu, menghabiskan paruh waktu
berkaca diri pada bening nya kolam,
dan aku lihat detik masih membicarakanmu,
aku tidak butuh wajah orang asing berhias menyerupai seluruh yang kau miliki
sebab, rindu adalah perpanjangan waktu,
yang mengandung mengidam tahunan,
untuk kembali menyebut namamu.

Juni 2020 

 

Mengunjungi Rindu 

Kesedihan selalu menunggu diantara
derai air mata jatuh.

Suatu hari sedih bertanya pada diri sendiri,
“kenapa kau selalu bersama air mata?”
Ia sontak menjawab,
“karena tiap-tiap rumah hari ini selalu menunggu kedatangan,”

Malam paling sunyi,
bersama bunyi parang riuh
menemani di setiap kita
air mata tak segan mati,
sebelum mengunjungi rindu

Mei 2020.




MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 935830143338506107

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA