Kucingku


R. Ayu Zalendra Tiara Putri

Dulu, aku pernah mempunyai kucing yang sangat lucu. Ia ku beri nama Kira. Ia ku rawat hingga besar dan memiliki seekor anak. Aku sangat senang karena aku mempunyai seekor anak kucing yang imut. Aku pun merawatnya, setiap hari aku beri makan dan susu dengan penuh kasih sayang. Tetapi tidak begitu lama, si induk kucing yang bernama Kira mati.

Aku sangat sedih mengetahui kucingku mati. Aku juga begitu kasihan pada Kaira si anak kucing imut. Padahal Kaira masih kecil ia sudah ditinggal oleh induknya. Setelah kematian Kira sang induk, kaira pun sering berkeliaran di alam bebas.

Suatu pagi tepatnya hari Sabtu. Kucingku baru pulang setelah enam hari menjelajahi seantero kota. Aku khawatir, takut kucingku terluka saat perjalanan pulang. Aku segera memeluk kucingku dengan perasaan lega dan rasa khawatir yang bercampur aduk jadi satu. Akupun segera memandikan kucingku lalu memberinya makan dan menidurkannya.

Saat pagi hari kucingku sudah tidak ada, aku khawatir akhirnya aku mencarinya di gudang, di halaman, di teras, didapur, dan di tempat tidurnya. Tetapi tetap tidak ada, aku semakin hari semakin khawatir. Keesokan harinya kucingku baru ketemu. Ternyata dari kemarin dia tidur di kamar adikku yang bernama al-fatih. Aku sangat senang kucingku telah di temukan. Aku pun memeluk kucingku se erat-eratnya. Aku takut kehilangan kucingku lagi. Aku tidak mau kehilangan kucingku lagi.

Setiap hari, Kaira selalu menungguku di meja makan. Sungguh kucing yang menggemaskan. Setelah aku membersihkan diri aku menuju meja makan untuk makan bersama keluarga dan kucingku si kaira. Selesai makan aku melangkah menuju teras untuk memakai sandal sembari berpamitan kepada bunda dan ayah untuk berangkat berjalan-jalan ke areal perumahan yang di sebelah rumahku, kelihatannya kucingku sudah tidak sabar untuk berjalan-jalan. Saking asyiknya aku tidak sadar jika kucingku telah hilang dari pengawasanku.

“Ya ampun. Kenapa hilang lagi sih Kaira? Aku khawatir! gumamku dalam hati.

Setelah lama aku mencari, tenyata kucingku muncul tiba tiba. Aku kaget sekali melihat kucingku ada di hadapanku. Untung saja aku tidak jantungan. Setelah pulang dari berjalan-jalan, kucingku langsung saja tidur begitu lelah sepertinya, sampai kucingku lupa untuk mandi terlebih dahulu sepulang berjalan-jalan.

Keesokan harinya yaitu hari Senin, kucingku lebih dulu bangun. Kucingku membangunkanku dengan cara mengeong. Aku pun terbangun dari tidurku yang begitu lelap, kucingku akhirnya menghentikan meongannya. Aku pun sudah terbangun dari tidurku. Aku pun bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa aku pamit kepada Ayah dan Bunda sambil mencium telapak tangan mereka.

“Assalamu’alaikum” ucapku.

“Wa’alaikumussalaam” jawab bunda dan ayah bersamaan.

Saat tiba di sekolah teman teman tertawa melihat ke arah kakiku. Ternyata aku tidak menyadari bahwa kucingku ikut di belakangku.

Saat bel sekolah berbunyi, bu guru Jasmin datang melihat ada seekor kucing di depan kelas.

“Siapa yang membawa kucing?” tanya bu Jasmin.

Tidak ada jawaban dari murid-murid. Sampai akhirnya aku mengaku bahwa aku yang membawa kucing tersebut.

“Bu guru, saya yang membawa kucing itu. Itu milik saya” ucapku sembari gemeteran

Bu Jasmin pun berkata sembari menasehati.

“Kalau kamu bawa kucing ke sekolah gak apa-apa. Ibu gak bakal marahin kamu kok. Malahan Ibu suka ada yang membawa kucing”. senyum bu guru kepadaku.

Akupun mengerti apa yang Ibu Jasmin katakan kepadaku.

Ttak terasa jam pelajaran telah usai murid pun boleh pulang.

Saat aku sudah sampai di rumah, aku mengetuk pintu. Tetapi tidak ada sahutan dari dalam rumah, namun aku terus mengetuk pintu dengan agak keras dan akhirnya ada sahutan dari Bunda.

“Buka pintunya, tidak dikunci.” ucap Bunda.

Aku pun masuk bersama kucing kesayangan ku. Setelah itu aku bergegas membersihkan badan setelah beraktivitas di sekolah. Tentu aku tidak lupa membersihkan kucing kesayangan ku. Karena hari ini ada kerja kelompok di rumah teman ku yang bernama Hanun, aku pun bergegas menyiapkan beberapa buku dan alat tulis.

Setelah itu aku menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh bunda. setelah selesai, aku segera berpamitan tuk kerja kelom­pok di rumah Hanun. Seperti biasa kucing kesayanganku selalu menemani. Sampai di rumah Hanun aku pun segera menyelesaikan tugas bersama Hanun dan teman-teman yang lain.

“Hanun kamu sudah paham belum ya, tadi pagi tentang perkalian”. tanyaku.

“Memang kenapa Tiara?” tanya Hanun.

“Aku masih bingung cara perkalian.” ucapku.

“ Oooooh gampang itu, kata Hanun. Ok Aku ajarin ucap Hanun lagi”, saat asik nya Hanun menerangkan tentang perkalihan tiba-tiba bukuku di tarik oleh kucing ku. Aku pun berteriaak. Aku mengelus lembut kepalanya agar Kaira segera melepaskan gigitannya dari buku. Akhirnya Kaira melepaskan bukuku pelan-pelan. “Alhamdulillah” gumamku.

“Terima kasih Kaira” ucapku sambil memeluknya. Untunglah gigitannya tidak terlalu keras, jadi buku aku tidak sobek. Akhirnya aku dan Hanun melanjutkan belajar perkalian yang tadi belum selesai. Setelah selesai belajar, aku pun melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16.30. Aku pun berpamitan pada Hanun untuk segera pulang ke rumah.

Sesampainyadirumah,akupunmengetukpintu.Alhamdulillah langsung di buka oleh bunda. Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku pun mengambil peralatan shalat karena waktu menunjukan shalat maghrib. Seperti biasanya setelah shalat maghrib aku membaca Al-Quran sekaligus menghafalkan surat Al-Jin Juz 29 (Tugas hafalan dari sekolah). Sekalian menunggu waktu shalat isya’. Setelah shalat isya’ akupun tidak lupa belajar dan mengulang pelajaran dari sekolah. Seperti biasa di temani kucing kesayanganku yang sangat lucu dan menggemaskan. Saking asyiknya belajar dan bermain bersama kucing kesayanganku, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21:00 WIB. Saat nya untuk beristirahat. Bunda pun sudah mulai memberi kode.

“Sudah malam, segera tidur dan matikan lampu” ucap bunda sembari mengelus kepalaku.

“Jangan lupa berdoa sebelum tidur ya ka, ujar bunda lagi sambil meninggalkanku.

“Siap bunda sayang” jawabku singkat.

Akupun segera menuju kamar untuk istirahat dan merajut mimpi. Saat aku larut dalam lelapnya tidur, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Lalu aku pun terbangun sambil berjalan ke luar kamar dan melihat jam dinding ternyata waktu menunjukan pukul 02.00. Bunda dan ayah juga ikut terbangun. Ternyata suara yang sangat keras tadi berasal dari sebuah guci yang terjatuh. Sepertinya tersenggol saat kucing melompati guci yang letaknya di atas bufet.

Bunyinya begitu keras hingga membangunkan seisi rumah. Aku dan bunda bergegas ke ruang tamu. Aku dan bunda menemukan Kaira disana. Untung saja Kaira tidak terkena pecahan guci tersebut. Aku khawatir segera ku gendong kucingku. Takut ia terkena pecahan guci. Dengan sigap bunda membersihkan pecahan guci tersebut. Agar cepat selesai aku pun ikut membantu bunda membersihkan lantai dengan memungut pecahan guci keramik tersebut.

Setelah selesai membersihkan dan merapihkan ruang tamu. Kami pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Tahajud karena jam menunjukan waktu sepertiga malam dan meneruskan membaca Al-Quran sambil menunggu waktu shalat subuh. Tak ketinggalan pula kucingku selalu ikut menemani dan menunggu ku waktu shalat. Begitulah keseharianku bersama kucingku yang imut dan lucu. Walau ada sedikit masalah tapi bisa kami lewati bersama dengan ceria.

Sekian dulu kisahku dan kucingku yang sangat lucu juga menggemaskan. Dia selalu menemaniku dimana pun dan kapan pun. Bukan hanya itu, kucingku sangat rajin dan trampil. Ia tidak suka bermalas-malasan. Jadi kalian jangan kalah ya sama binatang. Binatang saja rajin dan terampil. Masa kalian malas sih?

***

R. Ayu zalendra Tiara Putri, dipanggil dengan nama kesayangan Tiara. Lahir tanggal 15 November di Brebes Jawa tengah. Bersekolah di SDI Nurul Bayan, kelas 4. Punya hobi membaca, menggambar, menulis dan diskusi, dan bercita-cita jadi dokter yang hafal Al Qur’an 30 Juz. Bertempat tinggal di Jl. Strawberry No.5 Kebunagung Sumenep Madura. Ia juga suka sekali berpetualang, suka berlari, suka memanjat, juga suka olahraga beladiri seperti pencak silat.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8706437701431808183

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA