English Friendship
(Persahabatan Bahasa Inggris)


Cerita: Zie Syifa Asroril Auliya

Panas terik matahari membuat Shara harus mengipas-ngipaskan jilbabnya. Ia mengingat kejadian tadi di sekolah saat pelajaran terakhir. Pelajaran matematika. Natasha, musuh sekaligus teman sekelompok Shara sengaja menumpahkan minuman dinginnya pada buku tugas Shara. Di dalam buku itu ada PR matematika yang harus dikumpulkan sekarang.

“Apa- apan sih kamu, Natasha!”

“Dalam buku tugas ini kan ada PR nya!” kata Shara marah.

“Ups, maaf, aku nggak sengaja menumpahkan minumanku ke bukumu,” jawab Natasha dengan nada yang di buat selemah mungkin. Ia menatap penuh penyesalan. Shara melirik Natasha dengan tatapan yang sangat sinis.

“Hmmmm....” alisnya mengumpul, membentuk sudut lurus.


Percakapan itu terhenti oleh suara derit pintu. Tak lama kemudian suara bertimbre berat yang sudah terkenal seantero sekolah membungkam semua suara di dalam kelas.

“Anak-anak, sekarang kumpulkan buku tugas kalian! Bapak akan menilai PR kemarin!” katanya tanpa basa-basi. Tanpa aba-aba lagi semua siswa di kelas itu berebutan mengumpulkan tugasnya. Buku menumpuk di atas meja pak Anton.

“Shara, kenapa buku tugasmu basah? Lihat, jawaban PR mu semua menjadi buram!” tanya pak Anton.

“Maaf, Pak, tadi Natasha yang menumpahkan minuman dinginnya di atas buku PR saya, Pak.” jawab Shara gugup.

Natasha melihat Shara dengan pandangan yang sangat tajam.

“Enak saja, kamu sendiri kan yang menumpahkannya?” jawab Natasha. Keadaan pun menjadi semakin bising karena perdebatan antara Shara dan Natasha.

“Sudah, cukup. Kalian berdua berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai!” pak Anton marah mendengar perdebatan mereka. Shara berjalan ke depan kelas dengan genangan air mata disudut matanya.

***

Siang itu matahari sedang terik-teriknya. Angin berhembus malas. Panas menguap dari permukaan aspal yang licin langsung menampar muka bumi. Tenggorokan kering seperti terowongan di padang sahara. Begitulah kala kemarau mencapai puncaknya.

Para Abang Becak bergerombol di bawah pohon kersen, di pojok perempatan. Mereka sibuk mengalihkan cuaca panas dengan bermain catur dan domino. Beberapa diantaranya bahkan bertelanjang dada, mengipas-ngipas tubuhnya dengan topi bambu. Mereka tak hirau sedikitpun dengan kehadiran Shara. Seperti juga Shara yang tidak memperhatikan mereka. Perasaannya masih terhunjam pada kejadian tidak mengenakkan di sekolah.

Sesampainya di rumah Shara melempar tas dan sepatunya. Ia langsung berbaring tanpa mengganti baju seragamnya.

“Kapan sih perpisahan tiba?” ucap Shara kesal.

Mama mendengar ucapan Shara tadi. Lalu menghampiri Shara.

“Anak mama lagi kenapa kok bete begitu?” kata mama menggoda.

Shara diam. Wajahnya memasang tampang cemberut.

“Kok mau perpisahan cepet tiba? Ada apa, Sayang? Nanti kamu kangen lho sama temen-temanmu,” kata mama sambil menggelitik Shara.

“Habis tadi, Mah di sekolah… “ Shara menceritakan semuanya pada mama.

“Oh... jadi begitu?” jawab mama Shara singkat. Shara juga mengatakan pada mamanya kalau ia ingin lekas perpisahan. Mama Shara hanya mengangguk mendengar ucapan putrinya itu.

“Dan lagi pula ngapain Shara harus kangen sama temen Shara? Apa lagi sama Natasha iihhh….. gak level!!!” ucap Shara dengan nada cemberut. Mama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pada anak semata wayangnya itu.

“Mmmm...Mama bikin es buah...hmmm seger. Siapa mau minta?” sujuk Mama mengalihkan perhatian.

Shara tersenyum. Diteguknya segelas penuh es buah. Tandas.

Diambilnya segelas lagi. Shara lupa dengan hatinya yang kesal.

Shara menguap, lalu tertidur pulas.

Treeeettt......alarm berbunyi.

Seketika Shara langsung bangun dari tidurnya. Ia cepat-cepat melihat jam rumahnya dan ternyata saat itu sudah pukul 14.45. Astaga. ditepuknya jidatnya. Shara baru ingat kalau hari ini ada jadwal les. Tergesa ia bersiap-siap untuk berangkat, Shara lupa pamit pada orang tuanya dan langsung berlari menuju sepedanya.

Setelah masuk ke kelasnya, Ia melihat Natasha duduk di samping bangkunya, seketika itu juga raut wajahnya cemberut. Shara langsung duduk ditempatnya sambil melirik Natasha dengan tatapan yang sangat tajam. Natasha pun sebaliknya. Mereka berdua saling mengadu mata antara satu sama lain. Huh.. batin Natasha. Di kelas itu hanya mereka berdua yang tidak mengobrol antara satu sama lain.

Mister atau lebih dikenal dengan Kepala Les di sana datang ke kelas tersebut. Shara dan teman-temannya terkejut melihat Mister yang akan mangajar. Kecuali Natasha, karena ia adalah siswa baru disana. Natasha hanya terheran-heran melihat perubahan tema-teman lesnya.

“Good morning, Student!” kata Mister.

“Good morning, Teacher,” jawab anak-anak serentak. Pelajaran bahasa Inggris dimulai dengan penuh jiwa dan raga yang tidak sempurna.

“Hei...Who are you?” Mister memandang Natasha penuh selidik.

Natasha gemetar. Nervous.

“I am Natasha, Sir,” jawabnya ragu.

Natasha...Natasha....Mister    bergumam.    Beliau    mencoba

mengingat. Tapi gagal. Kembali ditatapnya Natasha dalam-dalam.

“I am a new student, Sir,” jawab Natasha memecah kesunyian. Sebenarnya ia takut untuk memulai percakapan, takut salah, takut keliru melafalkan kalimat Inggris yang belum dikuasainya. Namun ia tidak tahan dipandang penuh selidik oleh gurunya itu.

Oooo...

“Where are you come from?” lanjut Mister.

Natasha diam. Keringat mulai menggumpal di keningnya. Ini adalah kali pertama ia masuk les bahasa Inggris, lalu Mister mengejarnya dengan pertanyaan berbahasa Inggris yang sama sekali asing baginya.

Natasha menoleh kiri-kanan, tak seorangpun dikenalnya. Semua orang di kelas itu seasing bahasa yang sedang dipelajarinya. Hanya Shara, ya, hanya Shara seorang yang dikenalnya. Tapi nasib lagi apes karena Shara pasti masih marah padanya gara-gara kejadian air tumpah di sekolah tadi. Lengkap sudah penderitaannya kali ini...

“Oh...my God.” bisiknya dalam hati

Dipandanginya wajah Shara dengan memelas seperti pedagang di hadapan Satpol PP. Shara membalas dengan tatapan penuh kemenangan. Tersungging senyum di sudut bibinya yang tipis. Seandainya tidak di dalam kelas, seandainya tidak sedang banyak orang apalagi tidak sedang di hadapan Mister yang terhormat. Pasti akan terlontar suara ejekan dari mulutnya yang tipis itu. Natasha paham benar sifat Shara, dan tanda-tanda itu sudah mulai nampak. Namun semata hanya karena kharisma Misterlah yang mengurungkannya.

Namun, dibalik sikapnya yang ketus itu, Natasha tahu kalau Shara adalah perempuan yang baik hati. Ia adalah teman yang suka menolong. Sudah disaksikannya berpuluh-puluh kebaikan yang telah dilakukan Shara kepada teman-temannya. Terlebih disaat-saat genting seperti ini. Dan benar saja.

“Dari mana asalmu?”

Natasha mendengar nada dan irama yang tak asing. Ia paham benar logat, intonasi dan timbre nadanya. Itu suara Shara. Natasha tersenyum. Ia menatap Mister, lalu berujar, “Saya dari desa Kolor, Mister,” katanya mantap. Natasha melirik ke arah Shara.

“Be English, please!” jawab Mister.

Natasha kembali bingung. Ini adalah kelas bahasa Inggris pertamanya. Kepalanya menunduk. Timbul penyesalan atas kemalasan dan keengganannya waktu disuruh oleh bapaknya ikut les bahasa Inggris beberapa tahun lalu.

Namun secara tak terduga Mister kembali membuat kebijakan.

Dan siapapun tahu tak seorangpun berani menolak perintahnya.

“Shara, please stand up and sit down behind Natasha.”

Shara menurut. Lalu Mister menyuruh kami berpasangan untuk melatih kecakapan bahasa Inggris. Semula Shara dan Natasha kikuk, namun lama-kelamaan keduanya pun mulai akrab. Mereka berbicara bicara dengan penuh semangat.

“Shara kamu mau tidak berteman denganku lagi?” Tanya Natasha ragu-ragu.

Shara berpikir sejenak, kemudian berkata,

“hhmmmm…… boleh, tapi janji, ya kita tidak akan bertengkar

lagi.” jawab Shara ragu. Natasha mengangguk pelan.

Hooorreeeeee…… kata mereka serentak. Semua anak melihat

mereka berdua dengan terheran-heran lalu semuanya pun tertawa terbahak-bahak karena tingkah kami. Bahkan Mister pun tertawa.

“I come from Kolor, Mister.”

Natasha berdiri. Suaranya nyaring menggema seantero kelas. Memecah bising percakapan kalimat Inggris di kelas itu. Tersungging senyum renyah di bibirnya.

Seisi kelas kembali tertawa. Mister tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya. Kelas ditutup dengan riang. Sore itu begitu indah, menghapus jejak siang yang menggerahkan. Langitpun ikut tersenyum memayungi persahabatan yang kembali menemukan ikrarnya.

Natasha dan Shara mengayuh sepeda memasuki jalan kampung, membelah di ujung gang. Satu ke arah kiri dan satunya ke kanan. Keduanya saling melambaikan tangan.

“Sampai jumpa besok di Sekolah,” kata Natasha.

“OK...Jangan sampai terlambat, besok ada senam pagi,” sahut Shara.

Persahabatan yang indah membuat mereka lupa kalau besok adalah hari Minggu, waktunya libur sekolah.

***

Sesampainya di rumah Shara langsung di sambut oleh mama.

“Assalamu’alaikum,” kata Shara pada mamanya.

“Waa’laikumsalam,” jawab mama gembira. Shara pun langsung masuk ke kamarnya. Melempar tubuhnya di hamparan kasur empuk sambil mengkhayal sesuatu. Haha… biasa, kebiasan Shara memang seperti itu dehh.., kalau tiduran pasti tidak bisa lepas dari mengkhayal. Setelah lama ia mengkhayal akhirnya ia tertidur pulas. Di dalam tidurnya ia memimpikan sesuatu yang dikhayalnya tadi. Tuh kann… dari terlalu asyiknya mengkhayal sampai terbawa ke dalam mimpi …Hahaha….

Pukul 08.23 Shara terbangun dari tidurnya. Ia duduk secara perlahan mengumpulkan jiwa raganya.Tak lama kemudian mama Shara teriak kencang. Shara kaget dan sangat khawatir. Ia langsung berlari ke dapur untuk menemui mamanya. Rupanya mamanya berteriak karna mendapat hadiah sepatu baru berbahan kulit lembu dari papanya yang saat ini sedang dinas. Shara tertawa karena mamanya berteriak histeris cuma karena sepatu. Hahaha….

Shara pun pergi ke meja makan untuk makan malam bersama mamanya. Setelah makan malam Shara mengambil Hand Phonenya. Ia chatting dengan Natasha yang kini menjadi sahabatnya.Tak lama kemudian mama menyuruh Shara untuk belajar.

“Tunggu dulu, Mah, lagi enak chatting dengan Natasha niihhhh…..” jawab Shara. Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak terasa sudah setengah jam Shara chatting dengan Natasha. Mereka akrab kembali.

Zie Syifa Asroril Auliya; perempuan berhati besi lahir di ujung timur pulau Madura, tepatnya Sumenep, pada tanggal 04 Februari 2008. Saat ini bersekolah di SDN Kolor 2 Sumenep, dan bercita-cita menjadi dokter. Zie tinggal bersama keluarga kecil bahagianya di Jl. Lumba-lumba Gang Louhan No 4 Kolor Sumenep.





MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1258607677861839629

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA